
''Bersabarlah. Kita akan pulang ke Medan lima bulan lagi. Dan tiga bulan dari sekarang, Gading akan di jemput oleh adek untuk dibawa pulang kerumah kalian. Untuk itu.. bersabar lah.'' Ucap Lana menenangkan Ali yang sedang duduk termenung di camp nya saat ini.
Ali tetap diam. Ia tidak menyahuti ucapan Lana. Hatinya begitu gelisah saat ini. Entah kenapa, ia pun tidak tau. Yang jelas perasaan nya mendadak gelisah.
Puk, puk.
''Ali??''
''Hah iya Bang!'' sahut Ali begitu terkejut saat Lana menepuk bahunya begitu kuat.
''Jangan melamun.. kuatkan dirimu. Kamu harus sabar dan tenang. Jangan pikirkan mimpi itu. Itu hanya bunga tidur, hem?'' kata Lana pada Ali.
Ali mengangguk patuh walau hati dan pikiran masih terasa gamang. ''Baik Abang.. hanya gelisah sedikit sih. Itu aja kok.'' Sahut Ali.
Dengan segera ia berlalu pergi meninggalkan Lana yang sedang berusaha menekan sesak di dadanya melihat Ali tidak bersemangat ingin pulang ke Medan karena sejauh mimpi hingga ia dirundung pilu seperti itu.
''Abang nggak tau Li.. apakah mimpi itu benar atau tidak. Tapi yang jelas tabir rahasia dibalik mimpi itu memang benar adanya. Abang sendiri sudah merasakannya. Abang harap, apapun yang terjadi padamu, kamu bisa tabah. Karena inialh ujain di dalam pernikahan Kalian berdua. Biduk rumah tangga kalian berdua sedang di uni oleh yang maha kuasa. Semoga kalian berdua bisa menghadapinya bersama-sama..'' lirih Lana begitu sendu saat mengingat mimpi Ali satu Minggu yang lalu.
Mimpi itu seperti mayat untuk Ali. Hingga ia begitu gelisah dan takut ingin pulang. Pikiran-pikiran buruk menerpa dirinya. Hah. Setan itu memang suka membisikkan sesuatu yang buruk pada kita tentang pasangan kita ataupun mimpi yang kita alami.
Jangan hiraukan. Karena tujuan utama nya adlah menyesatkan kita. Kalau bisa perkuat hati. Ikhlaskan yang akan terjadi. Karena memang itulah jalan takdir nya.
Lana berjalan memasuki camp nya untuk mandi karena sudah masuk waktu ashar. Hari ini ia dan Ali tidak bertugas karena baru kemarin mereka berdua selesai bertugas. Untuk hari ini mereka libur dulu. Besok, baru lanjut lagi.
Sementara di Medan sana, Nara pun ikut merasakan kegelisahan yang sama. Entah apa yang terjadi pada dirinya ia pun tidak tau. Yang jelas saya i i ia begitu gelisah memikirkan sang suami nan jauh disana yang sedang bertugas.
''Ya Allah.. ada apa sama Abang ya? Kok aku kepikiran terus sih? Kan waktu Abang pulang tinggal dua bulan satu minggu lagi. Dan Minggu besok aku akan menyusul Gading ke Jakarta bersama Mami dan Papi. Ada apa ya? Ishh... kok gelisah gini sih. Kalau saja jaringan ada di hutan sana pastilah enak ngomong sama Abang! Lah ini?? Ck! Ah, lebih sholat Sunnah aja deh. Biar hati tenang!'' katanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Hari ini adalah hari Minggu terakhir ia berada disekolah setelahnya ia akan libur panjang sambil menunggu ujian di fakultas USU mulai dibuka.
Nara keluar menuju mushola sekolah. Saat ini sudah memasuki pukul 11 lewat dua puluh lima menit.
Nara masuk ke mushola bertepatan dengan sang ketua OSIS kuah masuk ke dalam mushola itu. Mereka berdua berpapasan tapi tidak saling bertegur sapa.
''Nara!'' panggil Zaskia sahabat Nara
Nara menoleh. ''Apa Ki?'' tanya Nara dengan terus melangkah menuju tempat wudhu wanita di musholla itu.
Zaskia nyengir kuda. Ia menyikut lengan Nara dan menunjuk dengan dagu jika ada ketua OSIS mereka juga disana.
''Apa sih?'' tanah Nara semakin kesal dengan kelakuan sahabatnya ini.
''Itu...'' tunjuknya pada ketua OSIS mereka. Lebih tepatnya mantan ketua OSIS.
Zaskia terkikik geli. ''Biar aku yang coba ngomong sama Adam. Aku yakin, dia lagi kepala sama kamu. Saat terakhir kepulangan mu yang di jemput oleh seorang Om Om, Adam menjadi keinginan gitu sama kamu. Kayaknya dia cemburu deh! Secara kan kita tau kalau kalian berdua itu akrab banget? Belum lagi tiap kali ada tugas pastilah kamu orang yang dicari untuk mencari rekannya.''
Nara menghela nafasnya. ''Apa urusannya sama dia coba?! Wong akunya nggak pa pa tuh di boncengan sama yang lain?! Ishh..'' kesal Nara.
Hatinya yang sedang kesal kini bertambah kesal karena perkataan Zaskia sahabat nya. Nara menangis tersedu mengingat sang pujaan hati yang jauh disana.
''Hiks.. Abang...'' lirih Nara sambil terus terisak.
Ia yang bertujuan ingin sholat Sunnah malah dikacaukan oleh ucapan Zaskia yang membaut beban pikiran mau bertambah. Seseorang dibalik dinding itu menghela nafasnya.
''Aku akan bicara padanya. Kayaknya dia kesal banget ya sama aku??'' gumamnya sambil keluar dari ruang bilik wudhu laki-laki.
__ADS_1
Ia berjalan pelan menuju di mana Nara berada. Ia menghela nafas lagi saat mendekati Nara yang sedang terisak dan sedang di tenangkan oleh Zaskia sahabat nya.
''Ra...''
Deg!
''Adam!'' seri Zaskia karena terkejut melihat pemuda tampan calon perwira itu mendekati Nara dan duduk di sebelahnya.
''Maafkan aku Ra.. aku salah paham padamu.. maaf..'' lirihnya dengan menunduk.
Nara tidak peduli. Ia masih saja terisak dengan kepala ia sembunyikan di kedua lututnya.
''Ra .. maafkan aku...'' lirihnya lagi.
Nara menoleh dengan mata merah karena menangis. ''Pergilah. Tinggalkan aku sendiri! Aku ingin sendiri! Jangan mengganggu ku! Aku sedang kesal pada semua orang!'' ketusnya dengan wajah tajam mental Adam dan Zaskia.
''Ra..''
''Pergi Dam! aku ingin sendiri! Jangan ganggu aku! Kamu juga Kia! kalian bisa nya hanya bisa membuatku kepala saja! Pergi!'' ketus Nara semakin kesal kepada sahabat nya ini.
Adam dan Zaskia menurut dan pergi dari hadapan Nara. Sementara Nara semakin tersedu setelah mengusir kedua sahabatnya.
''Ya Allah.. kautakna aku.. lindungi suamiku dimana lun ia berada.. aku begitu merindukan nya.. hiks .. lindungi diri nya.. dari segala marabahaya yang sedang mengincar nya..'' lirih Nara di dalam hati.
Begitu juga dengan Ali. Ia pun ikut tersedu di sajadah nya saat ini. ''Ya Allah.. Engkau pemilik alam semesta dan seluruh isinya.. apapun yang terjadi ke depannya aku ikhlas. Karena ini adalah takdir untukku. Jaga istri dan anakku. Dan juga seluruh keluarga ku. Kuatkan mereka sampai aku kembali ke tempat dimana ruang ku berada.. Li dingin kami disini ya Allah..'' lirih Ali dalam hati.
Lana yang melihatnya pun ikut menangis. Mimpi itu begitu mengganggu keadaan Ali saat ini. Semoga saja Ali kuat begitu juga dengan Nara.
__ADS_1
Amiiinnn..