Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Salah paham


__ADS_3

Ke esokan paginya, Lana dan Ali sudah bersiap menuju Jakarta pagi ini. Setelah ke Jakarta mereka akan Bandung.


Singgah dirumah Ali untuk meninggalkan Malda disana beserta baby sitter nya dilanjut menuju pesantren tempat Maura mengajar.


Saat ini mereka sudah transit Bandara Kuala Namu ke Jakarta. Butuh waktu dua jam penerbangan kalau tidak delay.


Di dalam pesawat Malda begitu heboh. Ia senang tak karuan saat Lana mengatakan jika mereka akan menemui Maura.


Malda senang bukan main. Sepanjang perjalanan pesawat di atas udara sana, Malda terus saja mengoceh dan mengatakan pada semua orang, jika Maura adalah Mami nya.


Lana dan Ali terkekeh-kekeh melihat tingkah Malda. Hingga setengah jam kemudian gadis kecil itu kelelahan dan memilih tidur di pangkuan Lana.


Satu jam empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.


Turun dari pesawat, ternyata Abi Ali sudah menunggu mereka dengan grab disana. Lana berkenalan dan berbicara sebentar sebelum mereka menuju ke kediaman Ali yang berada di kota Bandung.


Perjalanan dari kota Bandung membutuhkan waktu 2 jam 45 menit jika mengambil rute jalan tol Cipularang. Supir grab yang dipesan Abi Ali mengambil rute dari jalan tol Cipularang saja karena jalan bebas hambatan.


Tidak ada kemacetan disana.


Mereka tiba disana saat waktu dhuhur baru saja tiba. Turun dari mobil grab, Ali sudah disambut oleh ummi dan ketiga adiknya.


Lana disambut dengan hangat dirumah itu. Kawasan perumahan yang begitu sejuk. Lana menyukai lokasi seperti di tempat Ali ini.


Mereka di tuntun masuk untuk melakukan sholat berjamaah. Setelah sholat, mereka makan siang bersama.


Keluarga Ali sama seperti keluarga Lana. Sangat harmonis walaupun rumah mereka tidak seluas rumah Papi Gilang dan Mak Alisa.


''Kalau begitu, saya dan Ali keluar sebentar ya Bi. Mau jenguk calon istri di pesantren dekat sini. Yang di pimpin oleh ustad Hasan Al Basri.'' imbuh Lana.


Abi Husen tersenyum, ''Pergilah! Dia pasti menunggumu disana! Sudah lama sekali saat terakhir Abi berkunjung ke sana. Mungkin situasinya sudah berbeda. Mungkin.'' ucapan Abi Husen membuat kening Lana mengernyit tanda bingung dengan ucapan nya.


''Maksud Abi apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi disana selama dua tahun ini?'' selidik Lana dengan menatap serius pada Abi Husen.


Abi Husen tersenyum lembut. ''Pergilah! Kamu akan tau jika sudah tiba di sana. Dia pasti sedang menunggu mu saat ini. Terlepas jika sesuatu sudah mengikat nya, tapi dia tetap menunggumu Maulana Akbar!''


Deg!


''Abi...'' lirih Ali dengan mengedipkan matanya. Lana menoleh pada Ali. ''Ada yang Abang tidak tau Ali?'' tanya Lana pada Ali.


Ali tersenyum, ''Ayo. Abang akan tau jika sudah tiba disana dan lihat sendiri seperti apa calon istri Abang selama kepergian Abang dua tahun ini. Pesanku, dengarkan apa yang ia katakan. Jangan ambil keputusan gegabah. Cari dulu bukti dan telaah segala sesuatu nya. Setelah itu baru putuskan! Ayo. Kita harus bergegas. Keburu ashar. Pintu pesantren akan di tutup untuk para tamu lelaki seperti kita.'' imbuh Ali.


Ucapan Ali semakin membuat Lana curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan Maura selama ia tinggal disini.

__ADS_1


''Ayo, Bang!'' ajak Ali.


Walau hati nya sedang gamang, ia tetap pergi ke pesantren Maura untuk menemui sang pujaan hati.


Dengan segera mereka berjalan berdua beriringan. Cukup lima belas menit dengan menggunakan motor milik Abi Husen, mereka sudah tiba di pekarangan pesantren ustad Hasan Al Basri.


Tiba disana, Lana melihat seseorang yang begitu dikenalnya sedang tertawa lepas dengan satu orang lelaki dan satu orang perempuan.


Lana tersenyum.


Dengan segera ia melangkahkan kakinya dan meninggalkan Ali disana yang sedang memarkirkan motornya.


Lana terus berjalan hingga tiba di belakang ketiga orang yang tidak sadar akan kehadiran Lana.


Lana berdiri mematung setelah mendengar ucapan wanita paruh baya yang sedang berdiri bersama lelaki seumuran dengan Lana.


''Gimana? Masih mau nolak juga? Sudah dua tahun loh.. masa' ummi kamu anggurin sih? Masa' udah kenal sama putra ummi kamu masih mau menunda pernikahan kalian? Apakah kamu masih menunggunya? Ummi yakin, pemuda itu pasti tidak akan kembali untuk menyusul mu! Pemuda itu pasti sedang sibuk dengan wanita lain. Jadi buat apa kamu menunggunya? Mending sama putra ummi. Arfan juga tak kalah tampan dari pemuda itu. Kalian sudah bertunangan loh.. masa iya sih tiap kali ketemu harus selalu ada ummi di sebelah kalian? Bosan ah!''


''Hehehe.. ummi bisa saja-,''


''Bang Lana!! Ishhh... kok aku di tinggal sih?!''


Deg!


Deg!


''Abang! Ishhh.. saking ingin ketemu nya sama Maura, aku ditinggal! Ishh.. Abang-,''


''Maura!!!'' pekik Ali.


Maura berbalik karena ada seseorang yang memanggil namanya.


Deg!


''A-abang!!''


Maura terkejut melihat Lana ada dibelakang nya. Mata itu menatap nya dengan tajam dan datar.


Sangat datar. Sementara Ali mematung melihat pemuda yang begitu di kenalnya. ''Bang Arfan! Ummi Rasmi!'' seru Ali.


''Loh? kamu disisi toh? Ini siapa, Li?'' tanya ummi Rasmi.


Ali menatap datar pada Arfan yang menunjukkan raut wajah ketidaksukaan padanya.

__ADS_1


''A-abang!! Bang Lana!'' seru Maura lagi.


Lana tak peduli dengan Maura. Ia sedang menatap calon Maura. Tunangan Maura. ''Bang! Adek bisa jelaskan! Ayo, kita ngomong disana ya? Adek-,''


''Nggak usah Maura! Abang kesini hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja. Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah, Abang pamit ya. Maaf Bu.. saya mengganggu acara kalian. Saya permisi. Assalamualaikum..'' ucap Lana dengan segera berlalu dari hadapan Maura.


Maura terkejut melihat reaksi Lana. ''Abang! Tunggu! Adek bisa jelasin! adek nggak ada hubungan apa-apa sama bang Arfan! Abang salah paham! Itu tidak seperti yang Abang dengar! Abang! Tungguin adek! Hiks.. jangan pergi lagi bang!! Tunggu!!!'' pekik Maura dengan sekuat tenaga mengejar Lana yang semakin jauh dari pesantren.


Maura berlari mengejar nya. Ali ikut berlari begitu juga dengan Arfan. ''Tunggu Bang! Hiks.. jangan tinggalin adek lagi Bang.. adek bisa mati harus jauh dari Abang lagi.. please.. Abang... hiks.. hiks..''


Deg!


Deg!


Jantung seseorang berdegup tak karuan Kala mendengar suara rintihan Maura untuk pemuda yang baru di kenalnya.


''Berhenti Abang!! Apakah Abang ingin adek mati dulu baru Abang bisa bahagia?!! Tunggu Bang Lana!!! Jika Abang pergi dariku untuk selamanya.. maka aku juga akan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya! Meninggalkan kalian semua!! Buat apa aku hidup, jika cinta sejati ku pergi meninggalkan ku lagi!!!''


Ddddduuuaaarrrr..


Suara petir bergemuruh di langit yang cerah. Lana berhenti melangkah. Ia mengepalkan kedua tangannya.


''Abang, hiks.. tunggu adek Bang.. jangan pergi..'' lirih Maura begitu menyayat hati.


Ali meneteskan air matanya. Tapi tidak berani menyentuh tubuh Maura. Karena dia tau jika ada sang pemilik hati dan tubuh Maura disana.


Arfan datang dan mendekati Maura. ''Bangun dek..''


''Jangan sentuh aku!'' tegas Maura.


Arfan membeku ditempat. Matanya nanar menatap pada Maura yang sedang menatapnya tajam.


Maura mengalihkan perhatian nya menuju Lana. ''Abang salah paham... dengarkan adek dulu Bang.. please...'' pinta Maura dengan sangat.


Lana mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan menatap Maura dengan wajah dinginnya. Maura tersentak melihatnya.


''A-abang...''


''Selesaikan urusan mu dengan tunanganmu. Jika sudah, baru kita bicara. Banyak hal yang terlewat selama aku pergi. Jika urusan mu dengan nya sudah selesai, maka katakan pada Ali. Aku akan menemui mu! Aku pulang. Jaga diri. Assalamualaikum!" Dengan segera Lana meninggalkan Maura yang mematung di tempat karena ucapan nya baru saja.


"Tidaaaaakkk...."


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Lagi dan lagi kejadian yang sama. Ck! Bingung othor! hadeuuuhhh...


Digoyang jempolnya! disiram kembang nya ye? hihihi..


__ADS_2