Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Pergi dari pesantren


__ADS_3

Maura dengan cepat berlalu meninggalkan ummi Rasmi yang mematung karena perkataan nya.


Maura mengusap air mata kasar yang mengalir di pipinya. Ia masuk kedalam kawasan pesantren dengan wajah dingin.


Para santri yang berpapasan dengan nya tidak berani untuk menegur nya. Jika wajahnya sudah dingin seperti itu, para santri pesantren ustad Hasan tidak berani untuk menegur nya.


Maura berjalan cepat. Ia masuk kekamar dan mengambil seluruh pakaiannya selam dua tahun ini.


Setelah selesai, dua koper ia dorong keluar dari kamar itu menuju keruang ustad Hasan. Tiba disana, ummi Hasna dan ustad Hasan tersenyum melihat keadaan Maura.


''Assalamualaikum, Abi.. ummi.. maaf mengganggu.''


Ummi Hasna tersenyum, ''Tidak nak. Ayo, masuk. Abi memang sudah menunggu mu dari tadi.''


''Abi..'' panggil Maura pada ustad Hasan.


''Mau pulang sekarang? Udah ngebet banget kayak nya ingin bertemu dengan calon suami?'' goda ustad Hasan.


Maura tersenyum malu. ''Hehehe.. Abi tau saja. Abi..'' lirih Maura dengan menunduk.


''Tak apa nak. Biarkan ummi Rasmi berbicara apapun yang ingin ia katakan. Abi tau siapa dirimu. Dan juga calon mu! Sang jendral yang terhormat!''


Deg!


''Jendral?'' beo Maura sambil menatap ustad Hasan.


Ummi Hasna terkekeh, ''Ya, suamiu calon jendral nak. Pulanglah. Maulana sudah menunggu mu bersama putrimu!''

__ADS_1


Deg!


Lagi Maura terkejut. Wajahnya terlihat begitu terkejut dengan ucapan Ummi Hasna. Ia menatap ustad Hasan yang sedang tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas.


''Pulang lah. Kabar kan pada Abi kapan kamu akan menikah. Abi dan ummi pasti akan datang. Jangan pikirkan tentang Arfan. Arfan sudah memiliki jodoh yang sebentar lagi pun akan datang menemuinya. Ingat pesan Abi, Nak.. Jika suatu saat di dalam rumah tangga mu mengalami Prahara. Itu merupakan sebuah ujian untukmu dan suamimu agar lebih kuat lagi. Jangan berpisah karena masalah itu. Perkuatkan sabuk pengaman mu, agar kau tidak terjatuh saat badai menggoncang biduk kapal yang sedang di kemudikan oleh Maulana. Abi bisa melihat, Maulana bukan pemuda sembarangan. Ia pemuda yang begitu di tunggu-tunggu oleh kalangan penguasa kerajaan di negara tetangga. Persiapkan dirimu sebaik mungkin.''


''Kamu harus bersiap kapanpun dan dimana pun Maulana membutuhkan bantuan mu nantinya. Ingat, Nak. Maulana dan kamu. Adalah manusia pilihan yang memang sudah di tentukan garis takdirnya. Pulanglah. Maulana sedang menunggu jawaban mu saat ini. Abi dan ummi mendoakan mu semoga kamu selamat sampai tujuan. Jika sudah sampai jangan lupa kabari Abi dan ummi disini. Amalkan semua ilmu yang kamu dapatkan selama tinggal di pesantren ini di dalam rumah tangga mu.'' imbuh ustad Hasan begitu mengena di hati Maura.


Mata bulat bening itu mengembun. Ummi janda dengan segera memeluknya. ''Kami akan datang saat acara pernikahan mu, hem? Jangan menangis. Sambuatlh calon suamimu. Sudah lama sekali kalian tidak bersua bukan? Tapi ingat batasan antara mahram dan bukan ya Nak?'' pesan ummi Hasna lagi.


Maura terisak di dalam pelukan ummi Hasna. Sebenarnya ia begitu merindukan ummi Aini. Tapi karena rasa kesal masih bercokol di hati nya, maka ia tidak ingin menyapa ummi nya itu selama dua tahun ini.


Ustad Hasan tau itu. Begitu juga ummi Hasna. Maka dari itu, mereka berdua melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh Abi Madan dan ummi Aini saat Maura bersama mereka.


Sungguh beruntung nasib Maura.


Mereka tidak merelakan jika seorang ustadzah yang terkenal killer harus kembali ke kampung halaman nya untuk menikah.


Mereka semua berjanji pada Maura. Akan ada perwakilan untuk menghadiri pernikahan nya nanti.


Maura berpesan kepada mereka, agar apapun yang sudah di tetapkan selama ia mengajar disana, harus dilanjutkan.


Jangan gara-gara ia pulang kampung dan tidak mengajar lagi, maka ilmu yang sudah ia terapkan terbuang percuma.


Semua santri ustad Hasan mengangguk patuh. Mereka memeluk Maura dengan penuh Isak tangis.


Walau terkenal dingin dan Killer, tapi Maura tetap disayangi oleh santri di pondok pesantren itu.

__ADS_1


Selesai dengan drama anak didiknya di pesantren, kini Maura harus ke kampus tempat dimana ia mengajar.


Ia ingin berpamitan dengan para dekan dan dosen yang selama ini telah menerimanya dengan baik.


Bahkan Maura sangat terkenal Killer juga di kampus ternama itu. Para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang di ajarkan oleh Maura tidak terima jika Maura harus mengundurkan diri.


Dengan ditemani Ali dan Lana, Maura akhirnya berpamitan pada seluruh orang-orang yang ada di kampus itu yang pernah mengenal nya.


Mereka semua terkejut, jika dosen killer mereka itu memiliki dua pengawal yang begitu tampan.


Salah satunya Lana. Di wajah dingin dan datar. Ali mengatakan kepada mereka semua, jika Maulana adalah calon suami Maura tanpa Maura ketahui.


Dasar Ali iseng, ia mengatakan jika ada yang pernah bermasalah dengan Maura, maka akan berhadapan dengan komandan Lana.


Para mahasiswa itu ketakutan. Lana menggelengkan kepalanya.


Puas dengan drama itu, kini Maura diantar ke bandara langsung oleh Ali tanpa Lana. Mereka berpisah di kampus, karena Lana mendapat telepon dari baby sitter Malda, kalau gadis kecilnya itu sedang demam.


Dengan terpaksa Lana membiarkan Maura diantar oleh Ali sampai ke bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.


Akhirnya Maura bisa bernafas lega, karena ia akan kembali ke kampung halaman setelah dua tahun lamanya.


💕💕💕💕💕


Otw halal! hihi..


Ikutin terus ye?

__ADS_1


__ADS_2