Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Bersikap dingin


__ADS_3

Berbeda dengan dua insan di kamar sebelah. Maura saat ini sudah sadar di temani Mbok Mi.


ia menatap pada sepasang paruh baya yang duduk di sisi nya. Matanya sembab, pertanda ia begitu terluka dengan pernikahan ini.


''Dek...'' panggil ummi Aini.


''Sayang..'' panggil Abi Madan.


Mereka berdua memanggil putrinya bersamaan. Mereka saling pandang, namun Abi Madan dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.


Ummi Aini menatap Abi Madan dengan sendu. ''Maaf Abi.. ku pikir putra Pakde Bram menyukai Maura. Maka dari itu aku memaksa nya untuk menikah dengan Alif..'' lirih ummi Aini.


Abi Madan menghela nafasnya. ''Sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Kamu lihat putri kita? Seperti apa dia setelah ini? Bagaimana dengan kehidupan nya? lalu, bagaimana dengan Maulana? hah?! Kamu bisa jawab?!'' seru Abi Madan dengan suara naik satu oktaf.


Ummi Aini terisak. ''Maaf Abi.. ummi salah..'' lirihnya dengan menunduk.


Maura memejamkan kedua matanya. Ia bangkit menuju kamar mandi tanpa bicara apapun.


''Non..'' panggil Mbok Mi saat melihat Maura bangkit menuju kamar mandi.


Abi Madan menoleh. Ia bangkit menuju Maura yang sedang berdiri di depan lemari untuk mengambil baju ganti.


Kamar yang tadinya bertaburan bunga dan hiasan dinding lainnya, sudah berubah menjadi kamar milik Maura yang seperti biasanya.


''Sayang..''

__ADS_1


''Adek mau mandi Abi. Tinggalkan adek sendiri. jangan ada yang ganggu sampai besok pagi.'' imbuh nya, dengan segera ia berlalu masuk kekamar mandi, membuat Abi Madan tertegun dengan ucapan putri keduanya itu.


Ummi Aini semakin terisak melihat sikap putrinya berubah menjadi dingin setelah acara pernikahan paksanya.


''Saya keluar duluan Tuan..'' pamit Mbok Mi.


Abi Madan terkejut dan menganggukkan kepala nya. Ia menoleh pada ummi Aini. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Abi Madan untuk ummi Aini.


Ia menatap sekilas kemudian berlalu keluar. Di ikuti ummi Aini di belakangnya. Maura yang baru saja selesai mandi, dengan segera menggelar sajadahnya untuk melakukan kewajibannya yang tertunda.


Selesai sholat, Maura mengambil mushaf Al-Qur'an dan mulai membacanya. Suara Maura yang begitu merdu namun sendu terdengar hingga ke kamar sebelah.


Kamar pengantin baru. Almira yang mendengar suara adiknya, terisak di dalam pelukan suaminya.


Alif mengusap bahu polos Almira dengan sayang. ''Sabar dek.. biarkan ia sendiri dulu. Besok kita baru bicara padanya, hem?''


Dengan suara bergetar. Maklum kamar keduanya tidak ada peredam suara. Jadi apapun aktivitas berisik ataupun mengaji seperti Maura pasti akan terdengar ke kamar sebelah.


Sementara Maura ia membaca Alqur'an dengan lelehan bening terus saja mengalir tanpa henti. Hingga tanpa sadar ia tertidur dengan memeluk Al-Qur'an di dadanya.


Ia bangun saat waktu subuh tiba. Sadar dengan suara panggilan alam, ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.


Selesai mandi dan berwudhu, ia menunaikan ibadah sholat subuh. Ia turun ke bawah, saat para pembantu di rumah itu sedang beres-beres sisa nasi, kue dan sampah pesta kemarin malam.


Dengan segera ia menuju dapur dan mulai masak seperti biasanya. Tak lama setelah itu di susul Almira dan ummi Aini.

__ADS_1


''Kamu udah bangun, Dek??'' tanya Almira.


Maura menoleh dengan wajah datar dan mengangguk. Tangannya masih sibuk dengan mengaduk nasi goreng seafood kesukaannya dan Maulana.


Mengingat Maulana, tanpa sadar buliran bening itu mengalir di pipinya. Ummi Aini yang melihat itu segera memeluk putri keduanya itu.


''Maafkan Ummi, Nak..'' bisiknya di telinga Maura.


Maura hanya mengangguk saja. Setelah siap ia segera menyusun nasi goreng itu lesehan dilantai yang sudah di bentang Ambal oleh Almira.


Mereka sarapan pagi bersama dengan senda gurau yang sengaja dibuat oleh Maura dan Alif. Pengantin baru dirumah mereka.


Suami Maura ini sangat mudah masuk dalam keluarga itu. Karena sudah sedari dulu mengenal keluarga ummi Aini.


Mereka makan dalam suka cita. Tapi tidak dengan Maura. Wajahnya begitu dingin saat ini.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Ia terus makan dengan lahap. Setelah selesai, ia bangkit dan menuju dapur dan mencuci piring nya.


Melihat pergerakan Maura. Dua pasangan beda usia itu terdiam. Tanpa sepatah katapun Maura pergi meninggalkan mereka.


Abi Madan menghela nafasnya. ''Bahkan untuk mengucapkan salam saja pada kita Maura sudah tidak mau lagi..''


''Sabar Bi.. biar nanti Alif dan Almira yang berbicara padanya.'' Ucap Alif menenangkan Abi Madan.


''Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saat ini! Semuanya sudah jelas! Mulai hari ini, aku tidak akan tinggal disini lagi! Aku tinggal di pondok tempatku mengajar. Maafkan semua kesalahan ku yang pernah ku perbuat kepada kalian semua. Aku pergi! Assalamualaikum!''

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2