Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Kebanjiran lagi??


__ADS_3

Satu Minggu berlalu.


Kini Algi sudah pulang kerumah. Begitu juga dengan yang lainnya. Tiara, gadis cantik itu di boyong Mak Alisa untuk tinggal di rumahnya. Tiara mau, karena memang itu keinginan nya.


Ia tak tau entah kapan rasa suka itu menelusup ke dalam hatinya. Suami pengganti nya itu begitu baik dan perhatian kepada nya. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Tiara dan kandungan nya.


Namun sayang, janin itu ke guguran saat Algi membawanya ke rumah sakit. Ia hanya bisa pasrah. Berarti janin itu memang bukanlah untuk nya dan Algi.


Lana merasa senang karena nanti malam, adalah waktunya untuk merobohkan tanggul nirwana milik sang istri.


Ia sengaja mengusir Maura untuk ke rumah Nara. Ia sudah sekongkol dengan Nara dalam hal ini. Sedang Ali tidak tau, karena ia sedang keluar untuk menemani Papi Gilang.


Ah, mengingat Papinya itu, Lana jadi begitu bahagia. Ia rela membawa Ali agar rencananya ini berhasil.


Lana mempersiapkan seluruh rumah itu seorang diri. Mulai dari ruang tamu, hingga ke dalam kamar. Entah berapa banyak kelopak bunga mawar yang ia beli demi membuat surprise untuk Maura.


''Huh. Sudah selesai! Semuanya sudah siap! Tinggal menunggu adik ipar ku itu pulang dan Maura akan kembali. Haisshh.. jantungku jadi cenat cenut begini sih? Ck! Lebih baik aku mandi dulu. Agar Maura pulang sudah siap semua!'' Imbuhnya pada diri sendiri.


Ia bersiul-siul kecil di dalam kamarnya. Masuk ke kamar mandi, mulai membersihkan diri.


Cukup lima belas menit, Lana sudah selesai dari aktivitas mandinya. Kini hanya menunggu waktu Maghrib. Karena saat ini pun sudah pukul enam tiga puluh sore.


Ia duduk bersantai sambil menunggu Maghrib.


*


*


*


Pukul Delapan malam Maura pualng dari rumah Nara dengan tubuh begitu lelah. Bagaimana tidak, sepanjang hari mereka berdua membersihkan rumah Nara yang begitu berantakan akibat ulah kucing tetangga yang masuk tanpa izin.


Lana tersenyum kala melihat wajah lesu Maura. Ia berdiri di balik pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka dari luar.


Gelap.


Seluruh rumah mereka dalam keadaan gelap. Maura mematung di depan pintu. ''Kenap gelap seperti ini rumahnya? Abang kemana? Tidur dikamar kah?'' ucap Maura sambil kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan gelap gulita itu.


Ia menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Grep!


Deg!


Tubuh Maura mematung lagi. Jantung nya berdetak tak karuan. Lana terkekeh, Maura terkejut.


''Abang??''


''Ya, ini Abang sayang! Cup!'' Lana mengecup kening Maura setelah tubuh Maura dalam kegelapan malam.


Cetak!


Lampu temaram hidup. Maura terkejut melihat semua isi rumah mereka berdua. Mulutnya menganga lebar. Lana Terkekeh lagi.


''Kamu suka? Tanya Lana pada Maura.


Maura mengangguk wajah dengan wajah masih terkejut. ''Ayo, belum makan kan tadi di rumah adek?''


Maura menggeleng. Ia mengikuti langkah Lana menuju meja makan mereka. Lagi, mulut Maura menganga.


''Duduk sayang.'' titah Lana.


Maura menurut saja. Ia seperti orang bingung sekarang. Lana terkekeh. Dengan segera ia mendudukkan Maura dan melepaskan hijab dari kepala Maura.


Maura semakin tersipu malu. ''Ayo kita makan. Abang sudah sangat lapar ingin makan kamu!''


Deg, deg, deg..


Jantung Maura semakin berdetak tak karuan. Mereka makan dengan saling menyuapi satu sama lain.


Sangat romantis. Jika Ali tau, pastilah pemuda itu akan senewen dengannya. Lana terkekeh.


Selesai makan, Lana menggendong Maura ala bridal style untuk masuk ke kamar mereka. Sepanjang jalan masuk kamar, lantai tempat mereka berpijak semuanya bertabur bunga mawar merah.


Maura sangat menyukainya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lana. Lana tersenyum.


Tiba dikamar, Lana menurunkan Maura. ''Mandi, setelah itu kita sholat isya dulu. Baru setelahnya kita jebol tanggul nirwana milik mu! Cup!'' Lana mengecup lagi putik merah jambu milik Maura yang sudah menjadi candu untuknya.


Maura menurut, ia tersipu malu karena ucapan Lana baru saja. Ia masuk ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya. Semuanya keperluannya sudah Lana siap kan disana.


Cukup lima belas menit saja ia sudah selesai mandi. Dengan memakai gaun tidur berwarna hijau muda Maura masuk ke kamar dengan sedikit menunduk.


Ia duduk di depan meja rias dan mulai menyisir rambut panjangnya. Dilanjut dengan ritual lainnya. Setelah selesai, ia memakai mukenah dan berdiri di belakang Lana yang sudah mulai mengangkat takbir.

__ADS_1


Mereka melakukan sholat isya berjamaah bersama. Selesai sholat isya, disambung dengan sholat Sunnah dua rakaat sebelum melanjutkan acara jebol menjebol tanggul milik Maura.


Selesai dengan sholatnya, Lana berbalik dan mendapati Maura sedang tersenyum padanya. Sangat cantik.


Lana terpana. Riasan tipis yang Maura pakai sangat membuat wajah Maura terlihat lebih segar setelah tadi pulang dari rumah Nara yang terlihat begitu pucat.


Lana tersenyum, ia mendekati telinga Maura dan mulai berbisik lirih disana. ''Bimillahi allahumma jannibissyaithoonaa wa jannibissyaithoonaa maarozak tonaa..''


Artinya : ''Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkan lah kami dari ( gangguan ) setan dan jauhkanlah setan dari rizki yang akan Engkau anugerah kan kepada kami.''


Lana mengecup kening Maura, kedua mata, hidung, kedua pipi dan terakhir putik merah jambu milik Maura yang selalu membuatnya candu.


Lana membuka mukenah yang Maura kenakan. Setelah terbuka, matanya menatap dalam pada tubuh Maura yang begitu halus dan seputih susu.


''Cantik! Abang suka! Darimana kamu dapat seragam malam seperti ini??'' tanya Lana pada Maura.


Maura Terkekeh. ''Dikasih kak Ira dan juga adek Annisa! Mereka begitu paham dalam hal ini.'' Maura Terkekeh lagi.


Lana pun ikut Terkekeh. ''Kamu benar, Kak Ira yang lebih dulu, baru menyusul adek Annisa. Ck! Bang Tama begitu pandai mengurus adek kecil ku itu sampai baju dinas malam pun disediakan olehnya! Cup!'' Lana kembali mengecup bibir yang semakin membuatnya candu.


Semakin lama semakin ingin dan semakin dalam menyentuh sang istri. Lana semakin dalam menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri.


Maura semakin melayang-layang karena perlakuan Lana yang begitu lembut padanya. Untuk yang kedua kalinya ia merasakan hal ini.


Kecupan lembut berubah menjadi semakin bergai rah. Lana semakin gencar menyentuh setiap lekuk yang semakin membuatnya panas.


Sesuatu yang tertutup celana itu tiba-tiba saja sesak. Tetapi Lana belum mau melepaskan nya . Ia masih ingin bermain dengan tubuh sang istri yang semakin membuatnya menggila.


''Euugghhh..'' lenguhan panjang Maura keluarkan dari mulutnya yang di bungkam oleh Lana.


Semakin lama semakin ingin dan semakin menuntut. Tiba di tanggul Maura yang masih utuh, Lana terdiam.


Ia menatap tanggul itu dengan datar lagi. Maura tersadar karena tidak merasakan sentuhan Lana lagi.


Maura mendongakkan kepalanya melihat Lana yang sedang mematung di depan inti miliknya.


''Bang??''


''Kamu nggak akan kebanjiran lagi kan sayang, seperti waktu itu??''


''Hah??''


💕💕💕💕

__ADS_1


Apaan tuh bang? Masa mau jebol tanggul di tanya kenbanjiran sih?! Ishh.. ish.. 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2