Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Kemarahan Lana


__ADS_3

Maura tertawa puas. Ia mendial satu nomor dan langsung saja semua tentara berhamburan keluar dari persembunyian mereka.


Dor!


Tembakan pertama di tujuan pada ban motor perampok yang berbalik itu.


Dor!


Tembakan kedua dari seorang polisi pada ke Lima motor perampok yang mencoba kabur dari kompleks perumahan tentara itu.


Dor!


''Bu Maura!!'' pekik Mbak Sus


Deg!


Seseorang berdiri mematung dibelakang nya. Maura tidak sadar dengan kelakuan nya itu yang sengaja membidik timah panas itu kepada seorang perampok yang ingin mengarahkan celurit ke leher Malda.


Dor!


Dor!


Dor!


''Arrrgggghhttt..''


''Arrrgggghhttt..''


''Aaaarrrgghhtt.. sialaaaaannn!! Wanita sialaaaaannn!!!''


Dor, Dor!!


''Berani sekali kau ingin menyakiti putriku? heh?! Apa belum cukup dengan sekali timah panas ini menembus kakimu?! Belum cukupkah korban yang sudah kau rampok hartanya selama ini?! Kau salah bermain-main dengan ku! Kau salah mengganggu ku perampok sialaaaaannn!! Berani nya kau bilang aku wanita sialan?! Heh! Kau yang sialan! Kau yang jahat yang telah merampok semua orang!! Bukan aku yang jahat! Sialan!!'' umpat Maura begitu menggebu-gebu.


Kakinya bahkan sampai menendang kaki perampok itu yang ia tembak baru saja. ''Kau ingin membunuh putriku, heh?! Sialaaaaannn!!!!'' umpat Maura untuk yang kesekian kalinya.


Seseorang dibelakang tubuhnya, mulutnya sampai menganga. Sedangkan seseorang disamping nya terkikik geli.


''Hihihi.. Kak Maura hebat Bang! Seharusnya Abang jadi polisi saja. Jangan tentara! Sikap kak Maura yang seperti ini, sifat seorang istri Bhayangkara! hihihi..''

__ADS_1


''Diam Ali!'' sentak Lana.


Deg!


Maura terkejut mendengar suara itu. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Sedangkan Lana mendekati Malda dan memeluknya. Sementara Lana meninggalkan Maura begitu saja.


Maura berbalik dan melihat Lana membawa Malda. Mbak Sus pun sama kagetnya. Hari ini gadis cantik keturunan Jawa Aceh itu dikejutkan dua kali oleh majikannya.


Pertama, karena perampok itu dan kedua karena Maura memegang senjata berpeluru bertimah panas.


Mbak sus mendekati Maura yang sedang mematung melihat Malda dibawa oleh sang suami. ''Bu...''


''Eh? I-iya. Ayo kita pulang!'' katanya pada Mbak Sus sambil menyeka air mata yang menetes sekaligus menaiki motor nya dan berlalu dari hadapan kedua orang itu.


''Hadeeuuuhh.. Abang lagi. Suka banget sih buat kesalahan dengan cara mendiamkan! Kalau terjadi sesuatu, aku tidak akan tanggung jawab! Ck! Ayo Mbak Sus, kita pulang! Kamu harus mengabari ku tentang rumah mereka! Aku tau seperti apa Bang Lana. Jika ia sudah marah, maka seperti inilah jadinya. Ia akan melakukan yang sama kepada istrinya jika sedang marah kepada orang lain! Ayo!'' ajak Ali pada Mbak Sus.


Mbak Sus menurut. Mereka berdua berjalan beriringan. Di temani oleh warga komplek itu. Sementara Ke sepuluh orang permapok itu sudah dibawa ke kantor polisi.


Untuk dimintai keterangan dan mengobati luka mereka. Semua ibu-ibu tentara itu tersenyum senang.


''Akhirnya, berkat ibu Maura jalan itu pasti akan ramai kembali. Tapi.. sekilas aku melihat jika komandan Lana begitu marah pada istrinya? Gimana ini? Apakah kita harus mengatakan yang sebenarnya pada nyaj??'' kata salah satu istri komandan tentara itu.


''Jangan! Situasinya belum membaik! Kita tunda dulu. Kita harus lihat bagaimana keadaan rumah mereka. Baru setelahnya kita datang ke rumah mereka untuk mengucapkan terimakasih dan maaf. Ayo, kita pulang dulu. Santi! Pantau terus perkembangan rumah mereka ya? Jika semakin memburuk, maka segera kabari kami. Hem??''


Setelah itu, mereka semua pergi dari sana dan pulang kerumah masing-masing.


Di rumah Lana.


Lana duduk di sofa dengan wajah dingin dan datar. Ali tidak mau ikut campur. Ia lebih memilih pulang dan bertemu dengan pujaan hatinya yang saat ini sedang menunggu nya di depan pintu dengan tersenyum manis padanya.


''Assalamu'alaikum..''


Lana tak menyahut, namun ia menatap dingin pada Maura. ''Aikumcalam!'' sahut Malda.


Maura tersenyum walau terasa kaku. Lana tidak menatap nya sama sekali. Ia menatap lurus ke depan.


''Tia! Bawa Malda ke dalam! mandikan! Sudah malam! Bukankah aku sudah membayarmu untuk mengurus Malda?! Kenapa kau pergi?!'' kata Lana pada Tia. Pengasuh Malda.


Mbak Sus terkejut. Ia dengan segera membawa Malda masuk ke kamar nya walau Malda menolak.

__ADS_1


Malda menangis. Tapi Mbak Sus tetap memaksanya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Malda semakin histeris di dalam kamar sana.


Maura berlari ingin naik ke atas. Tapi kakinya membeku di tempat karena mendengar ucapan Lana yang begitu menyakiti perasaan nya.


''Berhenti Maura! Urusan kita belum selesai! Kenapa kau menembak perampok itu?! Apakah kau sudah beralih profesi menjadi seorang penembak ulung?? Kam/u menembak mereka tanpa belas kasih! Aku menikshimu bukan untuk membunuh orang! Tapi aku menikahi mu untuk menjadi istriku! Tapi apa yang kamu lakukan?! Heh?! Kau membuatku malu dihadapan para atasan ku! Jika komandan Kevin tidak menghubungi ku tadi, maka aku tidak tau apa yang kau lakukan di belakang ku!''


''Sebenarnya, apa mau mu Maura? Kau ingin menunjukkan bakat menembak mu itu pada semua orang?! Kau ingin menunjukkan jika kau itu paling hebat? Karena sudah menikah dengan ku begitu?!''


''Akau heran sama kamu! Apakah pekerjaan mu kurang mulia hingga kau memilih menjadi seorang pembunuh Maura?! Aku kecewa! kecewa menikah dengan mu! Kalau ku tau kau ingin menikah denganku hanya untuk menunjukkan bakat terpendam mu, lebih baik aku tidak Menikahi mu! Menyesal aku menikah dengan mu Maura putri Kartika!''


Ddduuaaarrr..


Nyyuuuuttt...


Berdenyut nyeri hati Maura mendengar ucapan Lana yang begitu menusuk relung hatinya. Maura mengepalkan kedua tangannya.


''Jika Abang merasa menyesal menikah dengan ku, maka kembalikan aku hari ini juga kepada Abi ku! Bukankah Abang mengambilku dengan cara baik-baik?? Maka kembalikan aku kepada Abi ku! Tanpa mu pun aku bisa hidup!''


''Aku tak menyangka jika lidah tak bertulang mu begitu tajam Maulana! baru kutahu seperti apa sifat aslimu! Terimakasih, karena kau telah menunjukkan wajah aslimu padaku! Dan malam ini juga antar kan aku kembali pada Abi ku! Jatuhkan talak padaku sekarang juga!''


Deg!


Deg!


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


''Aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya! Aku tidak akan menjadi pengganggu dalam rumah mu lagi. Aku Tidak akan membuat mu malu karena perbuatanku! Sekuat apapun aku mencoba untuk menjelaskan padamu, kau tidak akan pernah percaya padaku! Karena rasa amarah mu lebih besar daripada cintamu untukku Maulana Akbar!''


Deg!


Deg!


Lana menatap terkejut pada Maura. Sedang Maura tidak melihatnya. Tangan nya terkepal erat. Lana membeku di tempat Setelah menyadari perkataan nya telah melukai Maura.


''Ra-,''


''Cukup! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Cukup Sampai disini! Aku akan pulang kerumah Abi ku dengan atau tanpa persetujuan mu!''


Deg!

__ADS_1


💕💕💕💕


Nah hayo .. bang Lana cari Masalah tuh! Kayaknya di tertekan deh? 🤔🤔


__ADS_2