
Setelah Maura keluar dari rumah Abi Madan, ia dengan segera menuju pesantren tempat ia mengajar.
Tiba disana ia langsung saja disambut oleh pemilik pesantren, ustad Mahmud dan Ummi Khadijah.
Mereka bertegur sapa sekedar berbasa basi saja. Setelah nya Maura diajak masuk karena ada yang harus disampaikan oleh ustadz Mahmud.
Maura dengan seksama mendengarkan apa yang dikatakan oleh ustad Mahmud. Beliau mengatakan jika pesantren di Bandung milik sahabatnya, kekurangan tenaga pendidik khusus wanita.
Jadi beliau berpikir untuk menugaskan Maura untuk kesana. Tidak lama, hanya dua tahun saja sampai anak pemilik pesantren sahabat Ustad Mahmud ini kembali dari Kairo untuk menyelesaikan tugas strata dua nya.
Mendengar kabar itu, Maura begitu senang. Ia tak menyangka, jika kepergian nya dari rumah Abi Madan memang seperti sudah di tentukan dari awal.
Maura menyetujui permintaan dari ustad Mahmud. Hari itu juga Maura berangkat ke Bandung menggunakan pesawat yang tiketnya sudah disediakan oleh ustad Mahmud dari kemarin.
__ADS_1
Sengaja, agar ketika Maura datang keesokan harinya, dengan segera ia akan menugaskan Maura langsung ke Bandung hari itu juga.
Dan hari ini Maura sudah tiba di Bandung setelah beberapa jam perjalanan menggunakan pesawat dan menaiki travel untuk sampai di tempat tujuan.
Tiba disana ia disambut hangat oleh pemilik pesantren dan di ajak masuk untuk istirahat sebelum banyak hal yang kan ia tanya kan pada Maura.
Maura dibawa masuk kedalam kawasan pesantren khusus santri putri ini dan menuju kamar yang telah disediakan oleh ummi Hasna selaku istri dari sahabat ustad Mahmud ini.
''Apakah ini tidak salah Ummi? Ini terlalu berlebih an untuk saya. Maaf, bukan maksud ingin menggurui tapi...''
Ummi Hasna tersenyum menatap Maura. Ia mengelus pucuk kepala Maura dan memeluk sejenak gadis yang baru saja genap dua puluh tahun itu saat acara pernikahan nya kemarin.
''Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri Nak.. istirahat lah! Percayakan semua urusan mu hanya pada Allah saja. Kami hanya perantara untuk menolongmu. Ummi keluar dulu.'' ucapnya lagi, semakin membuat Maura tertegun lagi.
__ADS_1
''Jangan melamun nak.. ingat! Musuh kita selalu bersama kita! Ingat selalu Allah di mana pun kamu berada! Cukupkan Allah saja di dalam hati mu. Maka Allah akan mencukupi semua kebutuhan mu selama kamu disini. Jangan berpikir yang lain lagi, hem?'' lanjutnya lagi, semakin membuat Maura ingin menangis saat itu juga.
''Hiks.. terimakasih Ummi...'' sahut Maura dengan bibir bergetar.
Ummi Hasna memeluk lagi guru baru bagi para santri di pesantren nya itu. Ia yakin, Maura ini pasti seseorang yang sudah ia tentukan langkahnya untuk menuju ke pesantren ini.
Belum lagi kata-kata suaminya kemarin sebelum Maura tiba di pesantren itu. Yang mana akan datang seorang gadis dari kalangan orang baik dan terkenal yang akan mampir disana selama dua tahun lamanya.
Kehadiran gadis ini akan mampu membuat pesantren itu menjadi lebih maju dan lebih berkembang.
Ummi Hasna bingung dengan perkataan suaminya, tapi ketika melihat seperti apa sikap Maura, ummi Hasna menjadi yakin jika apa yang dikatakan oleh Suaminya, ustad Hasan Al Basri itu adalah benar.
''Ummi yakin, dengan kehadiran mu di pesantren ini, kamu akan membawa pengaruh besar di pesantren ini. Kedatangan mu memang sudah di tetapkan. Semoga kamu betah disini Nak..'' gumam Ummi Hasna sembari ia terus memeluk tubuh Maura yang berguncang hebat karena menangis.
__ADS_1