Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Pengobatan Gading


__ADS_3

Acara aqiqahan itu berlangsung dengan baik. Sedari pagi dan malam a rumah kediaman Maura dan Lana tidak berhenti dari kedatangan tamu.


Acara itu berakhir ketika pukul sepuluh malam saat para tamu sudah tidak datang lagi untuk mendoakan bayi kan dan Maura. Saat ini kedua bayi kembar itu sudah terlelap di ranjang Maura dan Lana.


Nara ikut menemaninya disana. Wajah cantik itu begitu terlihat lelah. Mahar tersenyum melihat Nara lelehan hingga tidur pulas disamping kedua bayinya.


''Sabar Dek.. Suami kamu dan Abang mu pasti akan pulang. Kita harus sabar. Kakak pun begitu merindukan bang Lana sama seperti mu yang begitu merindukan Ali.. semoga kita kuat dek.. sampai saat itu tiba, kita harus tetap kuat. Kakak yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini.'' lirih Maura disamping kedua bayinya yang tertidur pulas.


Mata itu tidak putus dari menatap Nara. Adik kecilnya itu begitu merindukan Ali. Maura tau, jika setiap malamnya Nara selalu menangis saat sholat malam.


Maura pun sama. Tapi apa yang harus mereka lakukan jika memang seperti itu jalannya. Saat ini mereka hanya bisa menunggu kepulangan Lana dan Ali dari bertugas. Walau hanya lima puluh hari. Itu sudah cukup untuk mengobati luka hatinya.


*


*


*


Di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun sedang menjalani pengobatan saluran kantung kemih yang terluka.


Sudah tiga bulan sejak ia dibawa dari Papua ke Jakarta oleh sahabat sang Papi. Gading. Putra angkat Ali itu sedang ditangani oleh dokter khusus yang menanganinya saat ini.


''Papi...'' lirih Gading dengan mata sembab.


Tiada hari tanpa memanggil sang Papi yang begitu ia rindukan. ''Mami... Abang abang mau ke Medan.. hiks.. Abang nggak mau disini. Nggak enak.. hiks.. Papi.. jemput Abang. Abang mau pulang...'' lirihnya begitu pilu.


Mata itu tidak berhenti dari menatap sebuah ponsel yang sedang menyala dengan layar wallpaper di ponsel itu merupakan foto Maura dan Nara yang sedang menggendong bayi kembar Lana.

__ADS_1


Ya, setelah kesepakatan jikalau Ali harus mengobati Gading melalui sahabatnya yang bekerja di rumah sakit Jakarta, kini gading benar-benar dirawat disana.


Ia dibawa oleh dokter Renaldi sahabat dekat Ali saat mereka sekolah SMA dulu. Beruntung nya Ali, Renaldi bersedia datang ke Papua untuk menjemput putra nya itu.


Walau sempat Gading menolak karena dikira di buang lagi oleh Ali, Gading mengamuk. Butuh waktu tiga hari untuk membujuk putra kecilnya itu.


Berkat usaha gigihnya Ali yang meyakinkan putra angkat nya itu, akhirnya Gading mau ikut. Dengan syarat, ia butuh satu buah ponsel dan foto kebersamaan Maminya di Medan untuk menjadi temannya di Jakarta saat berobat.


Dan disinilah ia berada. Duduk termenung dengan memakai baju pasien dan satu buah ponsel ada di tangan nya.


Ia menatap ponsel itu terus menerus. Hingga senyumnya terbit saat melihat panggilan video masuk dari sang Mami. Yaitu Nara.


''Assalamu'alaikum sayangnya Mami...'' sapa Nara dari sebalik ponsel nya.


Gading menangis, Nara tertawa. Selalu seperti ini tiap kali ia menghubungi Gading. Ya, Nara sudah mendapat kabar dari sang suami jika Gading sudah berangkat ke Jakarta tepat dihari aqiqahan Malik dan Zia.


Nara tersenyum, ''Abang udah makan belum?''


Gading menggeleng, ''Hiks.. belum! Nungguin Mami hiks. Srrrooottt...''


Nara tertawa terbahak melihat kelakuan Gading. ''Iyuuuhh.. Abang jorok ih! Pakai tisu nggak tuh??''


Gading mengangguk, walau masih sesekali sesegukan. ''Makan sayang. Kalau Abang kuat makan, Abang cepat sembuh. Bersabar lah. Liburan sekolah ini Mami dan Opa akan menjenguk mu, hem? Kita akan bertemu di sana. Dan kamu akan Mami bawa pulang kerumah Mami dan Papi. Untuk itu, kamu harus sembuh dulu. Ya Sayang??''


Gading mengangguk walau dengan menunduk. ''Sayang...'' panggil Nara dengan suara lembut nya.


Gading terisak. Nara tersenyum lagi. ''Bersabarlah. Mami dan Papi tidak pernah membuang mu sayang.. Mami sangat menyayangi Gading. Jangan merasa jika kami berdua mengabaikan mu. Kami berdua sangat menyayangi mu. Kamu putra kami, Nak. Kamu kebanggaan kami. Jangan sedih.. Bersabar lah. Kami akan datang untuk menjemput mu. Tiga bulan lagi. Bersabarlah. Tunggu Mami datang untuk menyusul mu, hem?''

__ADS_1


Gading mengangguk, ''Baik Mami. Hiks.. Abang akan makan, tapi Mami temenin ya? Jangan matiin dulu ponselnya!'' ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Nara tertawa. Begitu juga dokter Renaldi. ''Kamu tidak salah memilih istri Bro! Walau ia masih kecil bahkan belum tamat SMA tapi dirinya begitu terlihat dewasa dan begitu pantas bersanding dengan mu. Hah. Sungguh beruntung hidupmu Bro! Semoga aku pun akan menyusul mu nanti. Sudah sekian lama aku kehilangan cinta dimana cintaku pergi berpulang ke pada Allah untuk selama-lamanya disaat ia melahirkan putra kami. Semoga kamu berbahagia Bro..'' lirih dokter Renaldi sahabat Ali.


Ia tersenyum saat melihat Gading makan dengan lahapnya di temani seorang suster. Sesekali Gading tertawa saat melihat Nara yang terbatuk-batuk karena ucapan putra kecilnya.


Gading tertawa bahagia saat melihat wajah sang Mami kesal kepada nya. Namun, itulah yang menjadi keinginan Ali dulu saat Gading dibawa ke Jakarta untuk mengalami pengobatan pada tubuhnya.


*


*


*


Tiga bulan berlalu bagi Ali begitu cepat. Saat ini ia dan Lana masih saja berkutat dengan para penyusup ilegal itu.


Sudah hampir sebulan ia sama sekali tidak menghubungi putra angkatnya yang sedang berada di Jakarta.


Ia melamun saat sedang bertugas. Lana menghela nafasnya. ''Bersabarlah. Kita akan pulang ke Medan lima bulan lagi. Dan tiga bulan dari sekarang, Gading akan di jemput oleh adek untuk dibawa pulang kerumah kalian. Untuk itu.. bersabar lah.'' Ucap Lana menenangkan Ali yang sedang duduk termenung di camp nya saat ini.


Tangan itu terus bergerak menyusun segala peralatan untuk pergi lagi besok pagi. Tapi tidak dengan hati dan pikiran nya. Pikiran dan hatinya berkelana entah kemana.


Ia mengingat sang istri, orang tuanya, kedua adiknya dan juga putra kecilnya. Gading. Bocah kecil itu begitu membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari mereka berdua.


Tapi apa hendak dikata jika jalan hidup mereka memanglah seperti itu. Beruntungnya Ali, Nara begitu sigap menangani Masalah Gading. Sekali ia memberikan pesan melalui ponsel yang ia pesankan kepada Renaldi melalui ponsel Gading yang ia beli sebelum berangkat ke Jakarta, istri kecilnya itu menuruti perintah nya dengan baik.


Hanya saja.. rasa rindu itu selalu menyiksa dirinya Setiap saat dan setiap waktu Ali selalu Merindukan Nara. Entah kenapa, hari nya begitu kacau mengingat mimpi yang begitu menakutkan terjadi satu Minggu yang lalu.

__ADS_1


Mimpi buruk yang merubah hidupnya menjadi sedikit tidak tenang dan gelisah.


__ADS_2