
Pagi ini dua kediaman Bhaskara dan Al farizi menjadi gaduh. Mereka begitu terkejut mendapatkan kabar dari Papi Gilang.
Semuanya histeris saat tau jika Lana dan Maura mengalami kejadian tak terduga saat mereka pulang dari acara resepsi pernikahan mereka tadi malam.
Nenek Alina dan Mak Alisa sampai pingsan mendengar kabar jika Maura tertembak. Papi Gilang menjadi Panik saat itu juga.
Kedua putra Papi Gilang yaitu Rayyan dan Algi dengan sengaja menghubungi Lana untuk menunjukkan kehebohan yang terjadi dirumah mereka saat ini.
Lana dan Maura terkekeh saat melihat Papi Gilang di pukuli dengan bantal sofa oleh Mak Alisa.
"Kamu ya?? Kamu pulang tengah malam bisa tidur dengan nyenyak! Heh! Bagaimana dengan putra dan menantuku?!" seru Mak Alisa begitu geram kepada Papi Gilang.
BUghh..
Bugghh..
Bughh..
"Udah dong sayang.. Kok di timpuk terus sih suami kamu ini? Mau kamu, jadi janda sebelum waktunya?? Aku Mah ogah!"
Mak Alisa melototkan matanya melihat Papi Gilang tidak merasa bersalah sedikitpun. Papi GIlang malah cengengesan yang membuat Mak Alisa semakin marah padanya.
"Awas kamu Papi!! PUasa dua bulan sepuluh hari!!"
Papi Gilang melototkan matanya. "Nggak!! Aku nggak mau puasa! Enak aja kamu kalau ngomong! Bisa mati berdiri aku karena tidak bisa menyentuhmu!" rengek Papi Gilang mengiba pada Mak Alisa.
Lana menatap Maura dengan dalam. Maura gelagapan. Malu, karena terus di tatap seperti itu, Maura mengusap kasar wajah Lana yang membuat sang empu melototkan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan ditatap gitu ih! Serem adek lihat abang kayak gitu!"
Lana terkekeh, ia berlalau ke pintu dan segera mengunci ruangan inap mereka. Lana menekan tombol khusus untuk mematikan ruangan cctv di kamar itu.
Maura semakin gelisah. "A-apa Abang minta hak nya sekarang ya? Ini kan lagi dirumah sakit?? Haisshh.." bisik Maura dalam hati.
Lana semakin dekat dengan bangkar Maura. Maura semakin gelisah saja. Lana mengulum senyum melihat tingkah Maura yang malu-malu padanya.
Maura menunduk malu saat Lana menatap nya dengan dalam seperti itu. "Dek.." panggil Lana
Maura menoleh dan tersenyum. Senyum kikuk di hadapan Lana setelah menikah. BIasanya Maura tidak pernah seperti ini kepada nya.
"Buka hijabmu!"
Deg!
Lana mengangguk. "Ya.. Abang ingin meliahta mu tdak memakai hijab diruangan ini. Tenang.. Kamera nya udah abang matikan kok. Ayo. Sedari kamu kecil, kamu tidak pernah membuka hijabmu di depan Abang. Bahkan sampai tadi malam pun Abang tidak di izinkan untuk membuka bajumu. Semua itu suster yang melakukannya. Bolehkan?" pinta Lana dengan nada suara yang begitu lembut.
Maura mengangguk dan tersenyum menatap Lana. Dengan cepat tangan Lana menyentuh hijab instan miliknya.
hijab itu terbuka menyisakan wajah Maura yang begitu cantik tanpa menggenakan hijab. Di tambah lagi dengan liontin berlian pemberian Lana sebagai mahar untuknya, menambah daya tarik tersendiri saat Maura yang menggenakan nya.
Lana sampai tetegun dibuatnya. Maura menjadi malu. Lana tersenyum manis sekali. "Masyaallah.. Cantiknya istriku.. Ya allah.. Abang mendapatkan bidadari surga ini namanya!!" seru Lana dengan tersenyum lebar melihat Maura yang sedang tersipu malu.
Bughh..
" Abang ih, maluuu..." ucap Maura dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lana terkekeh. Ia memeluk tubuh Maura dan menggoyang ke kiri dan ke kanan membuat Maura tertawa karena perbuatan Lana itu.
"Sayang, lihat Abang!"
Maura mengurai pelukannya dan menatap Lana yang kini juga sedang menatapnya. Lana menatap Maura dengan dalam. Sangat dalam. Maura pun demikian.
Hembusan nafas Lana sudah menyentuh wajah Maura. Maura memejamkan matanya saat Lana melabuhkan kecupan manis di bibir seksi miliknya.
Cup!
Kecupan pertama kali setelah mereka berdua halal. Sangat manis dan memabukkan. Lana mencecap, mengecup dan memaguut bibir seksi miik Maura.
Eugghh..
Lenguhan merdu terdengar begitu indah di telinga Lana. Membuat darah muda calon jendral itu berdesir hebat.
Tubuh keduanya panas seketika. Maura mencengkram kuat pinggang Lana dengan mata terpejam. Begitu juga dengan Lana. Ia memegang tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman pertama mereka setelah halal.
Semakin lama semakin menuntut. Membuat darah keduanya semakin berdesir tak karuan. Lana berhenti saat merasakan sesuatu di bawah sana yang tertutup sarung berdiri seperti tiang keadilan.
Ia melepaskan pagutanta dari bibir Maura membuat Maura menunduk malu. Lana menyatukan dahi mereka berdua. Masih dengan nafas memburu lana berkata.
"Terimakasih sayang.. Maaf.. Harus di tempat seperti ini Abang pertama kalinya menyentuh dirimu. Abang tidak akan meminta lebih. Abng tau tempat kok. Kita bisa lanjutkan saat tanganmu sudah pulih nanti, hem?"
Maura mengangguk. Lana tersenyum. "Sudah siap untuk menjadi Nyonya Maulana akbar??"
Maura mengangguk mantap. "Kamu sudah halal untuk abang sentuh. Tidak seprti dulu, kamu selalu ketakutan saat Abang memegang tanganmu. Cuma tangan loh.. Kamu sampai nangis kejer kayak baru aja Abang apa-apain kamu. Berbeda dengan sekarang, kamu sudah tidak takut lagi untuk abang sentuh. Terimakash sayang.. Kamutelah menjaga dirimu untuk tidak Abang sentuh. Abang bahagia bisa memiliki gadis kecil nan unik sepertimu, Maura.. Abang sangat menyayangimu.. Abang mencintaimu, istriku Maura putri Kartika."
__ADS_1