Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Di Jenguk sahabat karib


__ADS_3

"Selamat pagi pengantin baru???? Sudah bangun kah?? Nyenyak tidurnya di rumah sakit??" goda Dokter Bryan sahabat Maura.


Lana memmutar bola mata malas. "Ck! Jangan membuatku kesal pagi-pagi begini Bry!" ketus Lana


Dokter Bryan terkekeh. "Apa kabar Nyonya Maulana akbar?? Sudah sembuh kah?? Hemmm.. Terlihat banget ya wajah pengantin baru itu nselalu berseri-seri. Dapat jatah kah tadi malam??"


Bughh..


"Astaghfirullah!! Ini kain apapan Bang?? Kenapa di lempar ke aku sih?!" gerutu Dokter Bryan dngan mengambil kain basah yang dilempar Lana ke wajah tampan nya.


Maura tertawa, "Hahaha.. Kamu sih.. Suka banget tau gangguin Bang Lana?? Udah tau orangnya begitu, tapi masih saja suka di usilin! Rasain kamu! Hahaha.." Maura tertawa terbahak melihat wajah masam Dokter Bryan.


Lana terkekeh. "Makanya jadi orang itu diem! jangan suka di nganggu. Kena batunya 'kan kamu?" ucap Lana sambil terkekeh, tangannya sibuk mengupas buah jeruk pemberian dokter Bryan.


Dokter Bryan merengut. "Abang, Maura dan Jia suka banget nimpuk aku dengan kain basah begini?! Yang kayak aku ini kotor banget tau nggak??" sungut dokter Bryan


Tangan nya dengan cekatan memeriksa tangan Maura yang terluka akibat luka tembak tadi malam.


"Hemm.. Nanati sore kamu sudah bisa pulang. Dijaga dulu bekas luka ini. Jangan terkena air. Maka proses penyembuhannya akan sedikit lama nanti nya. Kalau bisa mandi jangan terkena air dulu. Mandi untuk sementara mandi menggunakan washlap saja ya?"


"Oke!" sahut Maura.

__ADS_1


Dokter Bryan tersenyum menatap Maura. Senyum penuh arti. Maura melototkan matanya. Semua iu tidak lupu dari tatapan Lana


"Apa yang ingin kamu sampaikan Bry! Ngomong sama Abang! Jangan sama Maura!" tekan Lana membuat Dokter Bryan nyengir kuda.


"Hehehe.. Abang kok sensi bangetsih sama aku?? Jangan-jangan..." Dokter Bryan menatap Maura dan Lana secara bersamaan.


"Jangan-jangan apa Bry! Ngomong yang jelas!" tegas Lana lagi.


Maura terkekeh.


"Sabar atuh.. Maksud aku gini, Abang itu kok sensian banget sih sama aku?? Nah.. Eits! Jangn ditimpuk dluu ah! Abang kok suka banget sih nimpuk aku?? Ini menjatuhkan harkat dan martabat aku sebagai dokter yang terkenal ramah dirumah sakit Kamu Bang! Ishh.. kesal aku sama abang! Yang kayak orang ngidam aja sih? Apa.. Kamu hamil Ra??" seru Dokter Bryan dengan wajah pura-pura di buat terkejut.


Bugghh..


Lana bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Dokter Bryan. Tau dirinya akan di timpuk lagi, dokter Bryan berlari ke seluruh ruangan hingga membuat Maura tertawa terbahak karena dokter Bryan ketakutan dengan pisau yang di pegangi Lana.


"Apa kamu bilang?! Ingin keluar dari sini?! Hem? Dulu kamu sekali yang menyuruhku untuk membeli rumah sakit kecil ini dengan alsan yang punya akan pindah ke luar negeri! Dan sekarang? Kau ingin mempermainkan ku Dokter Bryan Harianto??? Begitu?? Hem??" ucap Lana masih dengn mengacungkan pisau pada Dokter Bryan


Sementara dokter Bryan berlari entah kemana. Ia lari kucar kacir tidak menentu. "Stop Bang! Stop! Capek aku! Aku cuma becanda abang! Isshh.. Sensian banget sih jadi orang??" gerutu dokter Bryan


"Makanya kalau ngomong itu jangan asal! Taggung sendiri akibatnya!" kata Lana pada dokter Bryan

__ADS_1


Lana mendekati bangkar Maura dan memberikan buah jeruk yang telah ia kupas kulitnya dan juga buah apel yang sudah ia potong dan di letakkan ke dalam piring.


"Hadeeeehhh.. Gini nih nasib Bapak-bapak teraniaya oleh majiaknnya! NIat hati ikhlas ingin menjenguk sahabatku! Eh malah di serang sama yang punya rumah sakit ini! Dasar! Bapak Jendral nggak ada akhlak!"


Sungut Dokter Bryan. "Diamlah Bry!! Ingin abang timpuk lagi kamu dengan bantal pasien ini?!" ancam Lana padanya


Dokter Bryan terdiam, bibirnya mencebik kesal. Maura tertawa melihat kelakuan suami serta sahabat karibnya itu.


Dokter Bryan tersenyum saat melihat Maura tertawa karena telah berhasil membuat Lana kesal padanya.


"*Semoga kamu bahagia dengannya Ra.. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sedari dulu, rasa ini tidak pernah berubah untukmu. Walaupun aku sudah menikah dengan jia.. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, bahwa aku masih mencintaimu.


Maafkan aku Bang Lana.. Maafkan hati ini yang terlalu menyukai Maura sejak pertama kali bertemu dengannya.


Maafkan aku bang Lana.. Kamu orang yang terbaik untuknya.. Semoga kalian berbahagia selamanya.. Dan aku harap, jika cinatku ini tidak terbalas.


Aku akan meminta pada Allah, agar sutu saat nanti akan ada dariketurunan kita berdua yang akan menyambung kembali kisah cintaku yang tertunda dengan sahabat karibku sendiri. Amiinn*.."


Dokter Bryan mengusap kasar buliran bening yang mengalir di pipinya. Lana dan Maura tau itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena inilah keputusan takdir yang harus mereka terima.


💕💕💕💕

__ADS_1


Satu!


__ADS_2