
Semak hutan belantara yang mereka lewati berdua sangatlah banyak, hingga sulit untuk di tembus.
Lana berjalan dibelakang Ali yang sedang berusaha membuka jalan untuk bisa mereka melewati.
Samar-samar terdengar di dalam hutan itu seperti suara pekikan memanggil namanya dan Ali.
Mereka berdua saling pandang. Mereka tersenyum, namun senyum itu redup saat mengingat jika Lana membawa seorang bayi dalam markas mereka.
Entah apa yang akan terjadi. Lana pun tidak tau. Yang penting, sekarang keadaan bayi itu. Bayi nan malang.
Ia masih saja terus menangis. Begitu lirih. Lana semakin erat memeluk bayi mungil itu. Setetes bulir bening mengalir di pipi nya.
Mengingat nasib bayi kecil itu. Ia teringat ketika Mak Alisa dulu merawat Rayyan putra Papi Gilang yang saat itu tidak memiliki ibu.
''Tenang sayang... kamu aman bersama Papi. Papi akan melindungi mu sampai titik darah penghabisan. Papi akan membawa mu bertemu dengan Mami mu nantinya dua tahun lagi. Cup.'' Lana mengecup kening bayi itu yang masih dalam dekapan nya.
Mereka terus berjalan dan hampir mendekati tepi hutan batas antara pertemuan dengan Pak Samsul dan dirinya tadi.
Tiba disana, komandan Kevin berlari mendekati Lana. Namun kakinya berhenti saat mendengar suara lirih tangisan bayi.
''Bayi? Bayi siapa itu? Mana Wanita itu?'' tanya Komandan Kevin.
Lana tidak menyahut. Ia melewati komandan Kevin yang menatapnya dengan tajam. Ia mencegat Ali untuk dimintai keterangan.
Ali menghela nafasnya. ''Anda akan tau, setelah bayi itu normal nantinya. Aku tak berhak menjawabnya. Bang Lana yang berhak.'' jelas Ali.
__ADS_1
Ia berlalu meninggalkan komandan Kevin yang tertegun beberapa saat disana. Sadar akan Lana yang sudah masuk ke dalam markas, ia pun memilih masuk ke markas untuk melihat Lana dan juga bayi itu.
Tiba disana, dokter Mutia dengan segera mengambil bayi itu dari tangan Lana untuk segera di tangani.
Sementara bayi kecil itu ditangani, Lana mengganti seragamnya dengan seragam biasa saat mereka santai.
Komandan Kevin mendatangi Lana dan berusaha berbicara dengan pemuda terkenal dingin datar itu.
Ia menghela nafasnya sebelum berbicara dengan Lana. ''Apakah ibu bayi itu tidak selamat?'' tanya komandan Kevin sambil menatap Lana yang sedang memakai baju.
Lana menoleh sekilas dan memilih duduk di ranjangnya. ''Ya, Puan Maharani di bunuh oleh pesuruh suami nya. Ia menitipkan bayi ini untuk ku urus. Bukankah Pak Samsul akan ditahan sementara ini?''
Komandan Kevin mengangguk, ''Tapi.. bayi itu, bayi luar Lana. Kamu tidak bisa mengurus nya. Kamu harus mendapatkan izin dulu dari wali yang bersangkutan untuk bisa mengurus bayi itu. Jika tidak, kamu akan terlibat dengan hukum. Jangan pertaruhkan pekerjaan kita karena kamu ingin menolong bayi luar ini. Sebaiknya kamu serahkan pada pihak yang berwajib untuk di kembalikan ke negaranya.'' ucap Komandan Kevin dengan menatap serius pada Lana.
''Nggak akan! Aku tak akan menyerahkan bayi ini kepada siapapun! Dia milikku!'' tegas Lana.
Dokter Mutia yang sedang berjalan membawa bayi itu terdiam di tempat. Ia menatap bayi mungil itu dengan sendu.
''Dia milikku! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan bayi kepada siapapun! Aku sudah mendapatkan surat dari walinya langsung. Apa lagi yang menjadi masalah nya? Jika kamu tidak menyukai ku, jangan bawa-bawa bayi itu! Cukup kau marah padaku saja komandan Kevin!'' tegas Lana lagi dengan menatap tajam pada komandannya itu.
''Kau....!''
''Permisi, komandan Kevin ! Saya datang untuk menyerahkan bayi ini. Ini bang.'' katanya pada Lana, dengan segera ia memberikan bayi itu ke tangan Lana.
Setelah nya ia berlalu pergi meninggalkan komandan Kevin yang mematung melihat bayi mungil yang masih berusia tujuh hari itu.
__ADS_1
Lana tersenyum menatap bayi yang sedang tertidur itu. Ternyata bayi itu sudah dibersihkan oleh dokter Mutia.
Diberi susu hingga kenyang. setelah kenyang, dengan segera ia antarkan pada Lana. Komandan Kevin masih saja menatap Lana dengan bayi itu.
''Serahkan bayi itu padaku Lana. Kita harus mengembalikan nya! Kau tak berhak pada bayi itu! Kau bukan Ayahnya!''
Deg!
''Dia putriku! Aku Papi nya! aku sudah mendapatkan hak asuh anak ini langsung dari orang tuanya! Anda punya hak apa komandan Kevin!'' seru Lana begitu lantang.
Ali dan rekan yang lain sedang berada diluar, terkejut dengan suara Lana yang begitu keras menyentak komandan Kevin.
Mereka berlari masuk kedalam dan mematung di depan pintu ruang itu. ''Aku Papinya! kau tak berhak melarang ku untuk mengurus bayi ini! aku sudah mendapatkan hak asuhnya! Ini buktinya!'' tunjuk Lana pada selembar kertas yang bertuliskan atas nama Maulana Akbar dan Maura Putri Kartika. Sebagai orang tua sah dari anak adopsi.
Komandan Kevin membeku di tempat. Ia tak tau harus berbicara apa lagi. Ali mendekati Lana dan mengambil alih bayi itu.
Bayi itu begitu tenang dan tenang ketika berada di pelukan Lana. ''Benar komandan. Bayi berjenis kelamin perempuan ini sekarang telah menjadi anak angkat dari bang Lana. Puan Maharani sudah menyerahkan surat perintah dan surat adopsinya kepada kami berdua ketika ia masih hidup. Sekarang tanggung jawab itu bang Lana lah yang memegang nya. Anda tidak berhak untuk melarang nya!'' tegas Ali sambil terus menimang bayi itu yang merengek dalam gendongan nya.
Dengan segera Lana menyerahkan dua lembar kertas yang diberikan oleh Puan Maharani kepada Komandan Kevin.
Komandan Kevin membaca kata demi kata pada kertas itu. Mata nya membulat sempurna saat melihat nama yang begitu ia kenal saat ini.
''Datok Al Amirullah Syam?!''
''Ya, Datok Amir, suami dari Puan Maharani yang berarti bayi ini adalah putri mereka. Saya harap anda bisa mengerti Komandan. Ini amanah untuk saya. Kamilah yang terpilih untuk menjadi orang tua angkatnya. Saya harap anda bisa menutup mulut anda tentang hal ini. Cukup kuat saja yang tau tentang hal ini. Jangan katakan kepada siapa pun. Jika Sampai berita ini keluar dari markas ini, berarti orang yang menyebarkan berita ini adalah Anda, Komandan Kevin!''
__ADS_1
Deg!
Deg!