Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Si jago merah vs si palang merah.


__ADS_3

Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit milik Lana. Tiba disana, Nara semakin pusing. Dengan sigap Ali mengendong nya ala bridal style di ikuti Lana dan Maura di belakang nya.


Mak Alisa berlari ketika melihat Nara di gendong Ali seperti itu. ''Bawa masuk kesini, nak.. Ya Allah.. panas sekali tubuhnya..'' lirih Mak Alisa saat merasakan suhu tubuh Nara kembali menghangat.


''Tadi udah lumayan Mak, tapi ya namanya cuma sebentar obat pun nggak ada. Jadi ya.. kambuh lagi,'' kata Ali pada Mak Alisa.


''Tak apa. Adek sering begini jika Abang sakit. Keduanya sama-sama sakit saat salah satu dari mereka merasakan sakit. Panggilksn dokter segera. Kayaknya adek harus dirawat disini.''


Ali mengangguk patuh, ia ingin keluar untuk memanggil dokter tapi belum lagi ia memegang handel pintu, pintu ruang rawat inap Algi sudah terbuka dari luar.


Ada Lana dan Maura di belakang Dokter Bryan. ''Loh, masih sama juga ya? Jika satu yang sakit maka dua-duanya ikut sakit. Baiklah saya periksa dulu ya Mak?'' katanya pada Mak Alisa.


Mak Alisa mengangguk setuju. Ali berdiri disampingnya kiri Nara. Mata Nara terpejam erat, tapi tangan memijit pelipis.


Ali yang melihat itu, dengan segera menggantikan tangan Nara untuk memijat lembut kepala Nara. Mak Alisa tersenyum tipis. Begitu juga dengan Lana dan Maura.


Mereka tidak salah menerima Ali sebagai anggota keluarga mereka. ''Papi mana Mak??'' tanya Lana


''Ada apa cari Papi?? Kangen kah??'' ucap Papi Gilang dengan wajah sok polosnya.


Mak Alisa tertawa begitu juga dokter Bryan dan juga Ali. Tapi tidak dengan Lana, pemuda tampan yang masih perjaka itu memutar bola mata malas.


Ia berdecak sebal. ''Abang bukan kangen sama Papi! Tapi lagi cari teman berkelahi! Puas?!'' ketus Lana begitu sewot.

__ADS_1


Maura tertawa, sadar jika tertawa nya itu akan mengganggu Algi ia menutup mulutnya dan cekikikan disana. ''Diam kamu sayang! Mana rendang jengkol Abang? Abang lapar!'' katanya pada Maura masih dengan nada suara sewot.


Papi Gilang Terkekeh. Ia pun ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Lana. Maura duduk lesehan di lantai.


Ia juga membawa Ambal tadi dari rumah untuk di gelar dilantai. ''Ayo, kita makan! Kakak bawa banyak nih makanan nya. Ali, Bry! kamu juga. Ayo sini duduk. Nanti kami gantian untuk makan bersama Mak dan Nara.'' imbuh Maura pada para lelaki diruangan itu terkecuali Algi yang masih istirahat.


Semua lelaki yang ada disana mengangguk setuju. Maura mengambil kan satu persatu untuk mereka semua. Setelah selesai, ia duduk bersama Mak Alisa di tepi bangkar Algi dan Nara yang sedang terpejam karena pengaruh obat.


Mereka makan sambil berbisik-bisik ria. Sesekali cekikikan dan sesekali juga terkekeh-kekeh. Siapa lagi pelakunya jika bukan Papi Gilang dan Lana.


''Kamu udah buka gembok belum?'' bisik Papi Gilang begitu lirih di telinga Lana tapi masih terdengar di telinga ketiga orang itu.


Ali Terkekeh, sedang Lana menghela nafasnya. ''Gimana mau buka gembok, baru ngasi uap panas, itu ladang udah kebanjiran aja!'' ketus Lana begitu kesal.


Bryan menatap Lana. Ia masih bingung dengan percakapan ketiga orang itu. Tak ingin menyela, ia pun ikut makan dalam diam sambil mendengarkan apa kata Lana selanjutnya.


''Hihihi.. jadi belum bisa dong?'' kata Papi Gilang lagi masih dengan berbisik


Ali cekikikan. ''Ya belumlah Papi.. ini masih tulen! Perjaka tinting! Gimana mau nyoblos, wong ladangnya kebanjiran gara-gara si palang merah menyembur tiba-tiba datang lagi enak-enak nya!'' bisik Lana lagi pada Papi Gilang.


Papi Gilang tertawa. Mak Alisa dan Maura menoleh pada mereka. Keempat orang itu terkekeh-kekeh melihat wajah penasaran Mak Alisa dan Maura.


Lana berbisik lagi. ''Cocok banget ini mah Papi. Jika adek kena si jago merah, sedang Abang kena si palang merah! Hadeeeuuhh.. meriah euuyy.. harus nahan puasa lagi sampai sepuluh hari! Bisa-bisa pusaka ku ini berkarat seperti kata Ali karena terlalu lama tidak di asah!''

__ADS_1


''Hahaha...'' ke tiga orang itu tertawa terbahak hingga membuat Algi dan Nara terbangun dari tidurnya.


Mak Alisa berdecak sebal. ''Apa sih yang kamu ketawain?! Ini anaknya lagi sakit loh.. mau ketawa? Sana! keluar!'' tegas Mak Alisa dengan wajah kesalnya.


Keempat pria itu langsung kicep. Tidak Berani tertawa lagi. Tetapi masih cekikikan. ''Hihihi... palang merah vs si jago merah euuy!!'' kelakar Ali.


Yang semakin membuat pemuda itu terkikik geli. ''Hihihi.. yang lebih kasian si Ali! Harus puasa selama dua tahun lagi! Bisa-bisa kayu lautnya tidak berfungsi lagi nanti!'' kelakar Lana.


Ali melototkan matanya. ''Mana ada kayak gitu Abang! Nggak mungkin dong, gara-gara puasa selama dua tahun bisa jadi lunglai kayak jeli?? Yang ada tuh ya! Semakin besar kayak pisang Raja!'' ketus Ali begitu kesal dengan ucapan Lana.


Papi Gilang, Lana dan dokter Bry terkikik-kikik geli. Sementara Ali semakin kesal dengan tingkah ketiga orang itu. Bryan baru sadar tentang cerita mereka ini. Ternyata tentang jebol menjebol. Jebol tanggul surga eeuuuyyy...


💕💕


🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Hehehe.. othor mau promo cerita batu lagi nih..


Mampir ye? Ceritanya tentang Adek Nara dan Bang Rayyan.



Ini kisah bang Rayyan ye? Othor tunggu kalian disana. 😁😁

__ADS_1


__ADS_2