Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Extrapart Kembali bertugas untuk terakhir kalinya


__ADS_3

Sebulan lebih lima belas hari setelah mereka berjalan-jalan ke tempat yang sama lengkap dengan semua personel Mak Alisa, kini Lana dan Ali kembali bertugas.


Mereka harus kembali ke Papua hari ini. "Sudah siap Ali? Kalau sudah kita harus berangkat sekarang karena pesawat kita akan berangkat jam dua belah tengah malam ini. Ayo! Cukup lama kalian Abang lihat nseperti ini. Ayo! Adek, lepaskan suami kamu. Kami pergi untuk bertugas bukan bermain-main disana." Ucap Lana pada Nara yang tidak mau melepaskan Ali sama sekali.


Nara mencebik. "Hem, Abang iya puas sama Kakak! Lah adek? Ck." Nara berdecak sebal.


Lana melengos. "Sudah lah Nak. Biarkan suami kamu pergi untuk bertugas. Cuma sebentar lagi kok. Hanya satu tahun enam bulan lagi. Iya kan Bang?" tanya Papi Gilang pada Lana.


Lana menagngguk setuju. Ali hanya bisa menghela nafasnya. Entah kenapa, perasaan nya semakin tidak karuan saat ingin kembali ke Papua.


Ada rasa berat untuk meninggalkan Nara seorang diri. Walau sudah di temani Gading, tetap saja rasa gundah gulana itu menerpa dadanya saat ini. Belum lagi, Nara tidak ingin melepaskan Ali sedikitpun semenjak tau jika ia akan kembali ke Papua.


"Ya Allah.. Ada apa dengan perasaan ku saat ini? Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaan ini begitu gelisah? Seakan Aku tidak akan pernah kembali lagi kesini? Astaghfirullah ya Allah... Kuatkan istriku apapun yang akan terjadi pada diriku nanti nya. Hamba hanya bisa meminta perlindungan untuk istri dan anak hamba. Lindungi mereka dimana pun mereka berada.." bisik Ali dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit. Selalu jaga kesehatan dan jangn lupa berdoa untuk keselamtan kami. Terutama Ali!"


Deg!


Semuanya terkejut dengan ucapan Lana. Entah apa maksud dari perkataan LAna itu. Yang jelas begitu membuat jantung ke semua orang yang sedang mengantar Ali dan Lana ke bandara merasa berdebar tak karuan saat ini.


Ali menghela nafas sesak. Ia memaksakan senyum pada sang istri dan putra angkatnya. "Jaga diri Baik-baik. Abang akan pulang jika waktunya sudah tiba. Selagi abang tidak bersama mu, Abang harap kamu tidak bersedih. Lanjutkan sekolahmu hingga kamu menjadi seorang pebisnis muda sama seperti Papi dulu. Abang selalu mendukung apapun yang menjadi keinginan mu. Doa Abang selalu menyertaimu sayangku! Cup. Jaga Gading. Jadikan ia motivasi di dalam hidupmu disaat Abang tidak bersama mu. Abang akan selau mengingat semua perkataan mu dulu. Bahwa kamu akan menunggu abang pulang bukan?" katanya pada Nara yang saat ini semakin tersedu karena perkataan nya itu.


Nara mengangguk patuh. Walau masih sesegukan tapi ia berusah untuk tersenyum demi melepaskan suaminya untuk kembali bertugas.


"Jaga diri baik-baik. Kami pergi. Assalamu'alaikum..." lirih Ali pada Nara


Tatapan mata itu begitu sendu. Lana tau itu. Ia hanya bisa pasrah akan jalannya takdir. Mengenang mimpi Ali itu membuat Lana merasa was was dengan keadaan adik iparnya itu. Semua itu bersangkutan dengan adik kecilnya.

__ADS_1


Kinara.


"Abang pamit. Jaga anak kita dengan baik. Rawat mereka semampu mu. JIka sudah tidak sanggup, minta tolong sama Papi untuk mencari kan baby sitter yang baik yang bisa membantu mu dalam mengurus anak-anak kita. Dan juga.. Tolong jaga adek Nara. Ada sesuatu yang entah seperti apa. Abang tidak bisa menjelaskannya padamu. Yang jelas, semua ini pasti akan terjadi. Pesan Abang, selalu di dekat Nara dan jangan pernah lepas dari memantau keadaannya."


"Abang sangat tau seperti apa Kinara. Ia gadis yang kuat dan tangguh sama seperti adek Annisa. Akan tetapi hati di dalam begitu rapuh. Abang hanya bisa berharap kalau Nara nanti nya bisa melewati ujian pernikahannya bersama Ali. Sekali lagi Abang tegaskan. Selalu disamping Nara apapun yang terjadi. Hem?" ucapnya pada Maura.


Maura mengangguk patuh. "Ya, Abang pun harus jaga diri baik-baik selama bertugas disana. Doaku selalu menyertai Abang, dimana pun dan kapan pun. Selalu awasi keadaan Ali. Adek percaya Abang bisa!" sahut Maura dengan tersenyum manis menatap Lana.


"Tentu. Abang pergi. Assalamu'alaikum..."


"Waalaikum salam.. Hati-hati.."


"Abang! Jangan pergi! Adek mau Abang! Jangan pergi Bang! Bahaya untuk Abang sedang menunggu di Papua saat ini. Adek mohon.. Kembali..." lirih Nara sambil menangis tersedu di pelukan Maura.

__ADS_1


__ADS_2