Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Kecemasan Maura


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, Mak Alisa dan Papi Gilang tiba di kediaman Maura. Maura sudah tidur tapi saat mendengar suara deru mesin diluar, ia berlari begitu saja tanpa mengingat jika dirinya sedang mengandung saat ini.


Mak alsia turun dengan kepala pusing. Begitu juga dengan Papi Gilang. Mereka ingin membuat pintu dengan kunci serap. Tapi belum lagi Papi Gilang memasukkan kunci itu ke lubang kunci, pintu rumah Lana terbuka dari dalam.


Membuat kedua paruh baya itu terkejut.


Ceklek!


''Mak! Papi! Abang mana?! Tidak pulangkah?!'' tanya Maura sambil mengintip keluar. Sedang diluar cuma terlihat Algi dan Pak supir diluar yang sedang menurunkan koper kedua paruh baya itu.


Mak Alisa terkejut mendengar pertanyaan Maura. Ia menatap Papi Gilang yang juga sedang menatap nya kini.


''Kita masuk dulu. Ayo! Nanti akan kami jelaskan. Biarkan kami istirahat dulu..'' lirih Papi Gilang. Dengan segera ia masuk melewati Maura yang mematung di tempat Karena ucapannya baru saja.


''Ayo!'' ajak Mak Alisa pada Maura.

__ADS_1


Dengan terpaksa ia mengikuti Mak Alisa dengan perasaan berkecamuk. Ia masuk dengan langkah tidak bersemangat karena melihat wajah lesu dari kedua orang tua suaminya ini.


''Duduk dulu. Adek mana?? Malda??'' tanya Mak Alisa pada Nara.


Maura mengangguk kemudian duduk di sofa yang berseberangan dari kedua mertuanya ini. ''Adek pulang kerumahnya. Ia ingin terbiasa tanpa Ali. Setelah tadi mengurusi kakak disini, Adel kulng lagi kerumah nya. Selama ini pun, adek selalu pulang kerumahnya untuk tidur. Ia bilang, jika sering meninggalkan rumah sendiri itu tidak baik. Dan kakak tau. Itu cuma alasan nya saja Mak. Adek begiyu merindukan rindu Ali. Begitu juga denganku..'' lirih Maura dengan bibir bergetar.


Papi Gilang memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. ''Lana dan Ali tidak apa-apa. Mereka berdua sedang bertugas disana. Ia tidak berbuat selain dari pekerjaan nya. Kamu jangan cemas ya?'' ucap Papi Gilang pada Maura.


Maura menghela nafasnya. ''Iya Pi.. hanya saja kakak cemas sedari kemarin. Karena nomor mereka tidak bisa di hubungi. Apakah kalian berdua bertemu dengan nya disana? Kakak khawatir Mak, Pi. Tolong katakan yang sejujurnya. Agar aku tidak cemas sepeti ini..'' lirihnya lagi dengan menunduk


Karena Maura saat ini sedang hamil. Tapi jika tidak dikatakan, Maura juga semakin khawatir. Mak Alisa menghela nafas panjang.


Ini sungguh berat untuknya. Melebihi dirinya dulu yang pernah juga merasa khawatir karena Papi Gilang tidak mengabarinya selama bertahun-tahun lamanya.


Walaupun saat itu ia belum menikah dengan Papi Gilang, tapi hatinya itu begitu terhubung dengan Papi Gilang. Sama seperti Maura saat ini.

__ADS_1


''Tenang lah nak.. Lana tidak apa-apa disana. Ia baik-baik saja. Memang benar jika ia tidak menghubungi lantaran ia sedang bertugas dan lokasinya pun kamu tau sendiri. Lana masuk ke hutan lebat di Papua. Mana mungkin ada signal disana? Sementara mereka bertugas saja ponsel tidak boleh dibawa. Semua itu bukan saja sehari dua hari nak.. tapi bisa jadi hingga tahunan!''


Deg!


Deg!


''Apa?! Tahunan?'' seru Maura begitu terkejut.


''Ya tahunan! Dulu pun seperti itu. Sempat Mak sama Papi kamu khawatir. Tapi setelah mengetahui alasan nya itu cukup jelas, kami tidak khawatir lagi. Bersabarlah. Kamu masih ingatkan apa pesan Lana padamu sebelum ia pergi bertugas kembali tiga bulan yang lalu??''


Maura diam mendengarkan ucapan Mak Alisa. Ia menunduk merasa bersalah. ''Ya, kakak masih ingat. Abang bilang, agar selalu jaga kesehatan sampai ia kembali nanti. Dan sampai saat itu tiba, kakek dan yang lainnya harus bersabar. Terus doakan keselamatan nya..'' lirih Maura mendadak pilu sendiri.


Mak Alisa tersenyum. ''Benar. Maka dari itu kami harus selalu sehat. Jangan memikirkan apapun. Pikirkan kandungan mu. Mak sudah mengabarkan padanya jika kamu sedang mengandung empat bulan sekarang ini. Jadi Mak mohon.. jangan khawatir lagi ya? Dan jangan cemas lagi. Mak takut akan berakibat fatal pada kandungan mu, hem??''


Maura mengangguk dan tersenyum. Walau senyum itu sendu, tapi setidaknya Maura bisa kembali tersenyum itu sudah cukup untuk mereka kabarkan kepada Lana nanti.

__ADS_1


__ADS_2