Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Pembunuh bayaran


__ADS_3

''Bunuh mereka!''


Dor!


Dor!


Dor!


Suara tembakan menggema di seluruh jagat raya di tempat mereka berpijak saat ini. Lana memeluk Maura dengan erat.


Maura tersenyum, ia mengintip seseorang yang sengaja menbidik senjata jarak jauh untuk mereka berdua. Lana tau itu. Makanya ketika seseorang itu membidik senapan Laras panjang itu, Lana memeluk Maura dengan segera.


Maura menatap tajam pada mereka semua. Namun tersenyum melihat Lana. Lana menunduk. ''Hati-hati!'' kata Lana tepat di wajah Maura.


Dor!


PLAKK..


Maura menampar pipi Lana hingga menoleh kesamping. Lana terkejut.


Wuuushhh..


''Ya Allah.. sayang...'' lirih Lana dengan sangat terkejut.


Maura terkekeh-kekeh. ''Menunduk!'' seru Maura dengan segera menekan tubuh Lana untuk menunduk.


Dor!


Dor!


Wuuushhh..


Wuuushhh...


''Allahu Akbar!'' pekik Maura tertahan.


Lana terkejut. Tapi tidak bisa bergerak, karena kedua tangannya terkunci oleh Maura. Maura menatap mereka dari sebalik tubuh Lana yang ia peluk dan tekan kebawah.


Tangan kanannya dengan cepat bergerak dan..


Dor!


Dor!


Dor!


Braaakkk..


Brruuggh..


Brraaakk..


Brruuggh..


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


''Aaaakkkhh.. sialaaaaannn... habisi mereka!''

__ADS_1


Dor!


Dor!


Dor!


Suara letusan senapan Laras pendek itu terus bergema. Tiga orang yang baru yang baru keluar dari mobil itu mematung di tempat.


''Kak Maura...''


''Maura....'' panggil mereka bertiga secara bersamaan.


Mulut mereka menganga menyaksikan jika Maura lah yang membidik seluruh pembunuh bayaran kiriman Kakek Malda itu.


''Sayang! Lepaskan Abang! Kenapa begitu banyak suara tembakan?! Kamu tidak apa-apa??'' seru Lana dari bawah sana.


Maura tersenyum tipis tetapi meringis. Setetes darah hangat menetes di tangan Lana yang di ikat Maura dengan tali yang sengaja Maura bawa.


''Darah! Kamu berdarah Dek! Lepaskan Abang Sayang!'' seru Lana dengan panik.


Maura terkekeh. ''Adek tidak apa-apa Abang! Udah, santai aja disana!'' kata Maura begitu tenang.


Ali berlari mendekati Maura dan Lana.


Dor!


''Allahu Akbar!'' seru Ali begitu terkejut saat Maura membidik senapan Laras pendek itu kepada seseorang yang terkapar di aspal jalan.


''Kak!'' panggil Ali.


''Bawa Bang Lana kesana! Biar aku yang tangani! Cepat!'' tegas Maura.


Ali membatu di tempat.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


''Aaakkhh..''


''Kalian ingin membunuh keluarga kami?!''


Dor!


''Arrrgggghhttt...''


''Sayang! Hentikan! bahaya!'' pekik Lana masih dengan menunduk. Lana tidak bisa bergerak sedikit pun dari tempat duduknya.


Ali membeku di tempat. Begitu juga dengan Papi Gilang dan Rayyan. Mereka tercengang melihat Maura seperti itu.


Dor!


''Katakan! Siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh seluruh keluarga ku?! Siapa yang menyuruh kalian!!!'' seru Maura lagi dengan suara yang begitu melengking.


Seseorang dibalik mobil sana mengarah kan senapan Laras panjang miliknya.


Dorr!


''Sayang!''

__ADS_1


''Maura!!''


''Kakak!!''


''Berani main belakang, heh?! jangan salahkan aku, jika aku lebih dulu yang membidik mu! Kau! pembunuh bayaran tak berperasaan! Jika aku tau siapa keluarga kalian, maka saat ini pun aku akan membunuh keluarga kalian satu persatu! Sama seperti perkataan mu tadi!''


''Aaaarrrgghhtt..'' pekik orang itu.


Maura sengaja menginjak telapak tangannya orang itu dengan sepatu hak tinggi miliknya. ''Oh, maaf! Saya tidak sengaja! Masih ingin pulang tidak? hem??''


''Aaaarrrgghhtt.. he-hentikan puan! Ba-baik! Kami pulang! Tolong, lepaskan kami!'' pintanya dengan sangat


Maura tersenyum simpul. ''Oke. Tapi sebelum itu, kalian semua harus mati terlebih dahulu!''


Brraaakk..


Plaaakkk..


Plaaakkk..


Taakk..


Taakk..


''Selesai!'' kata Maura.


Maura berdiri dan mendekati mobil yang tadi ingin membidik nya. Seseorang yang memakai masker itu menatapnya dengan tajam.


Taaakkk..


Orang itu melotot. ''Itu balasan untukmu yang mencoba ingin membunuh keluarga ku! Jangan bermain-main dengan ku! Kau belum tau sedang berhadapan dengan siapa! Pulang! Untuk malam ini, kau tidak akan bisa bergerak sampai pihak berwajib membawa kalian dari sini! Aku akan melepaskan totokan dari tubuh kalian semua, ketika kalian sudah boleh untuk kembali ke negeri Jiran!'' tegas Maura


Seseorang itu hanya bisa mengumpat nya dalam hati. Selesai dengan semua orang itu, Maura mendial nomor kantor polisi terdekat.


Ia mengatakan, terjadi pengeroyokan padanya. Dan semua pelaku pengeroyokan itu sudah terkapar tak berdaya karena suaminya yang membuat mereka KO.


Setelah selesai, Maura berlalu mendekati Lana yang terduduk masih dengan menunduk. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, sama seperti pembunuh bayaran itu.


Takk,


Taakk..


''Allahu Akbar! Sayang! Kenapa kamu lakukan itu! Kamu apakan mereka Semua?!'' seru Lana dengan suara naik satu oktaf.


Lana begitu terkejut saat semua orang itu jatuh terkapar dengan terdiam, mata mereka menatap pada Maura.


Papi Gilang dan Rayyan mendekati mereka. ''Nakk.. astaghfirullah! Kamu berdarah! Kamu tertembak?!'' tanya Papi Gilang begitu panik.


Deg!


''Maura! Kamu terluka?! Astaghfirullah!! ya Allah.. kenapa... haisshh..'' gerutu Lana begitu kesal.


Maura terkekeh. ''Biasa aja kali, Bang! Adek udah biasa kayak gitu. Udah.. santai aja! Dirumah aja obatin nya!'' sahutnya begitu santai.


Ali, Papi Gilang, Rayyan, dan Lana melongo melihat Maura. Maura malah tertawa. ''Ayo ih! Kalian mau tidur disini seperti mereka? Tunggu apalagi?? Polisinya udah datang tuh! Ayo! Keburu kering ini darah adek, Abang!'' seru Maura lagi.


Lana terkejut. ''O-oke! Haisshh.. kamu kok nekad sih dek? Rayyan! Bawa mobilnya!'' titah Lana. Dengan cepat ia menyidik Maura yang sudah lebih dulu masuk ke mobil mereka.


Rayyan mengangguk patuh. Dengan segera mereka menuju kerumah sakit terdekat untuk mengobati luka Maura.


Seharusnya, malam ini adalah malam pengantin mereka. Tapi malah jadi malam aksi berdarah.


Ck. Dasar Maura! Selalu saja penuh dengan kejutan!

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Done!


__ADS_2