
Saat ini Lana sedang menghubungi kedua orang tuanya. Lama ia menunggu sambungan ponsel itu terhubung pada ponsel milik Mak Alisa.
Sementara dua orang paruh baya di dalam kamar sana sedang sibuk dengan tugas negara mereka.
''Ssstt... uuhh...'' desis Papi Gilang.
''Ih, kamu apaan sih begitu?!''
''Emang aku kenapa, Hem uhh... sssttt...''
''By! Kamu itu ya!'' sentak Mak Alisa lagi.
''Diam napa?! Lagi posisi enak inihh.. uhh..'' ucap Papi Gilang lagi.
''Awas dulu ih! Itu Abang nelpon video call. Kayak nya penting deh! Sssttt.. By!''
''Nggak mau! Aku maunya gini aja. Uhhh...'' geram Papi Gilang.
Mereka berdua tidak sadar jika sambungan ponsel itu sudah terhubung. Lana yang sedang berada disana memutar bola mata malas.
''Kalian ya! Nggak sadar apa?! Abang jomblo ini?! Ishh.. udah dulu Napa senang-senang nya?!'' seru Lana dengan wajah gusar karena terus mendengar lenguhan dari kedua orang taunya.
''Hemmhh.. nanggung Abang! Sebentar lagi Sampai!'' jawab Papi Gilang masih dengan melakukan aktivitas nya bersama Mak Alisa.
''Awas ih Papi! Anak kamu mau ngomong lohh...''
''Nggak mau! Sebentar lagi aku sampai... hahh.. hemmh..'' Suara itu terus berdengung di telinga Lana.
Kesal dengan kedua orang tuanya, Lana mengucapkan kata-kata yang membuat Papi Gilang terkejut.
__ADS_1
''Udah dong... ih! Sebel deh sama kalian berdua! Abang punya berita bagus untuk kalian berdua! Abang udah punya bayi disini! Nih, lihat!''
''Hemhhh.. sebentar abanghh..'' jawab Papi Gilang masih sibuk dengan aktivitas nya.
''Abang punya bayi Papi!!! Astagfirullah al'adzim...!!'' pekik Lana begitu gusar saat ini.
Bertepatan dengan itu, Papi Gilang sudah selesai dengan tugasnya. Mak Alisa terpaksa membungkam mulutnya sendiri agar tidak terdengar oleh Lana.
Malu..
''Hoshh.. hoshh.. apa tadi? Hem? Bayi? Hemmh.. Hah?!! Kamu punya bayi Bang?!! Sama siapa?!!! Sedang Papi yang lagi ngadon saja tidak jadi-jadi? Lalu, darimana kamu dapat bayi?!!'' pekik Papi Gilang.
Dengan segera ia memakai bajunya dan mengambil ponsel Mak Alisa sementara Mak Alisa sedang pakai baju.
''Ishh.. dasar aki-aki! Udah tuwir masih kuat juga itu tubuhnya? Ck!''
Lana tertawa di seberang sana. ''Sayang.. aku denger loh.. mau aku makan lagi, hem?''
Lagi, Lana tertawa terbahak. Papi Gilang menghela nafasnya. Pria paruh baya itu mendekati Mak Alisa dan memeluknya dengar erat.
''Jangan ngomong gitu, ah! Aku nggak suka! Jika kamu mati, maka akupun akan mati! Kita akan mati bersama! Kamu paham?!'' tegas Papi Gilang.
Mak Alisa melengos. Dengan segera ia mengambil ponsel yang ada ditangan Papi Gilang dan mulai duduk di ranjang untuk berbicara dengan Lana.
''Maksud kamu apa Bang? Bayi? Kamu punya bayi? Bayi siapa?'' tanya Mak Alisa begitu tenang.
Namun sorot matanya begitu tajam saat ini. Lana terkikik geli. ''Abang punya bayi, Mak. Satu setengah tahun lagi Abang kembali Mak sama Papi udah punya cucu!''
Papi Gilang melototkan mata nya. ''Kamu ini! Disana kamu tugas baru saja enam bulan, bagaimana mungkin dalam waktu enam bulan itu sudah punya bayi? Apa bayi lahir prematur? Siapa ibunya? Kenapa kamu tega berbuat seperti itu?! Tidakkah kamu tau kalau perbuatan itu haram Maulana!'' sentak Papi Gilang begitu kesal.
__ADS_1
Sedari tadi, Lana terus saja menyebutkan bayi. Bayi siapa rupanya? Pikir Papi Gilang. Lana disana tertawa terbahak mendengar serentetan perkataan Papi Gilang untuknya.
''Heran aku sama putra kamu, Lis! Masa' iya baru enam bulan tuh cebong udah jadi orang aja? Udah besar pula! Jangan-jangan itu bayi siluman lagi! hii..'' Papi Gilang bergidik ngeri membayangkan hal itu. Mak Alisa menepuk lengan Papi Gilang karena gemas dengan omongan Papi Gilang.
Lagi, Lana tertawa terbahak. Pak Samsul yang sedang menimang bayi itu pun ikut tertawa. ''Bukan siluman Papiii!!! Ini anak manusia loh.. Abang mendapatkan nya saat Abang menyelematkan seseorang. Seorang wanita yang kenal dengan Maura. Seorang istri dari kerajaan Melayu di Malaysia. Datok Al Amirullah Syam!''
''Apa?!'' pekik Mak Alisa dan Papi Gilang.
''Bagaimana bisa?!'' tanya Papi Gilang.
Lana tertawa. ''Itulah yang namanya takdir Papi.. Abang menerima anak ini dengan setulus hati. karena ini amanah untuk Abang dan.. Maura. Puan Maharani menitipkan putrinya kepada kami berdua untuk di adopsi dan dirawat dengan baik. Setelah dewasa nanti, ia yang akan mengambil kembali tampuk kekuasaan ayah nya yang saat ini sedang dikuasai oleh Paman nya. Adik dari ayah Datok Amirullah. Papi, Mak? Bolehkan ya Abang menjaga anak mereka?''
Mak Alisa dan Papi Gilang saling pandang. ''Apa itu tidak mengganggu tugasmu? Bagaimana dengan komandan mu, apakah ia menyetujuinya?'' cecar Mak Alisa dengan banyak pertanyaan.
Lana terkekeh. ''Awal mulanya iya. Tapi karena Abang punya bukti tentang surat adopsi itu, komandan Kevin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena ia tau, Jika bayi kecil yang berjenis kelamin perempuan ini adalah keturunan Raja Malaysia. Yang terkenal dengan keramahan tamahan nya pada setiap warga asing yang datang ingin menemuinya.'' jelas Lana.
Mak Alisa dan Papi Gilang menghela nafas lega. ''Jika sudah seperti itu, maka kami akan menganggap putrimu menjadi cucu kami. Dan ya, setelah kamu pulang dari tugas nanti kamu harus segera menikahi Maura. Kasihan sekali anak itu. Ia pasti sangat terluka dengan kejadian enam bulan yang lalu.'' lirih Mak Alisa dengan wajah sendu.
Lana tersenyum menatap Mak Alisa yang tidak pernah terlihat tua ketika sedang bersama Papi Gilang.
''Tentu Mak. Maura pun sudah tau jika Abang sudah punya bayi. Anak dari salah seorang kenalannya. Maura akan menunggu Abang pulang untuk meminangnya menjadi istri Abang. Mak persiapkan semuanya untuk kami berdua ya? Abang serahkan semuanya sama Mak dan Papi. Karena Abang tau, pilihan Mak dan Papi tidak pernah salah. Abang percaya itu.'' imbuh Lana dengan tersenyum manis.
Mak Alisa dan Papi Gilang terkekeh. ''Tentu, Nak. Jaga amanaj yang sudah Allah titipkan padamu. Allah tau, jika kamu dan Maura mampu untuk mendidik putri Datok Amirullah. Ini tugas kalian berdua untuk mendidik nya menjadi lebih baik dari kedua orang tuanya. Paham?''
''Ya, Abang sangat paham. Terimakasih Mak dan Papi menerima putri angkat ku ini menjadi cucu kalian berdua.''
''Hadeeeuuhh... berasa tua aku sayang kalau begini!'' gerutu Papi Gilang pada Mak Alisa sambil terkekeh.
''Hahaha... ya,ya Opa Gilang! Kami akan pulang dua tahun lagi! Tunggu kami! Doakan kami selalu sehat disini. Kalian berdua juga harus tetap selalu sehat. Abang selalu mendoakan kalian berdua agar panjang umur dan selalu sehat sampai Abang pulang dari tugas nantinya.''
__ADS_1
''Amiinn..'' sahut Mak Alisa dan Papi Gilang. Mereka berdua tersenyum saat melihat bayi kecil yang sedang dipangku oleh oleh Lana saat ini.
Semoga Lana bisa bersabar menunggu satu setengah tahun lagi untuk bertemu dengan sang pujaan hati yang jauh sedang menunggu kepulangan nya.