
Seminggu berlalu.
Hari ini adalah hari pernikahan Maulana dan Maura yang diadakan langsung di hotel Papi Gilang.
Sedari pagi, kedua mempelai itu sudah di rias setampan dan secantik mungkin. Setelah sholat subuh, mereka langsung saja bertolak menuju ke hotel Papi Gilang bersama satu keluarga.
Papi Gilang begitu bahagia saat ini. Para besan yang dari Bandung pun sudah tiba sejak dua hari yang lalu.
Untuk pernikahan Kinara sendiri harus tertutup. Mengingat jika Kinara masihlah kecil. Dan masih berstatus SMA kelas satu.
Lana dan Ali sudah meyakinkan komandan Kevin tentang hal ini. Kali pertama menolak. Namun, ketika Papi Gilang yang masuk dan berbicara kepada komandan Kevin dan jendral serta pemimpin tentara lainnya, akhirnya pernikahan Kinara disetujui.
Ali sangat senang. Begitu juga dengan Kinara. Gadis kecil bungsu Papi Gilang dan Mami Alisa itu bahagia.
Tapi ia tidak boleh berbangga hati, karena bisa saja hubungan itu putus mengingat status Kinara yang masih seorang pelajar di Madrasah Aliyah Negeri satu Medan.
Kembali pada Lana dan Maura.
Seluruh keluarga besar sudah menunggu di ballroom hotel Papi Gilang. Ratusan tentara beserta calon istri mereka sudah masuk dan duduk dengan tertib.
Pukul delapan pagi acara itu di laksanakan. Dengan ratusan pasangan calon pengantin membuat ballroom itu penuh dengan lautan manusia.
Untuk pernikahan Lana dan Kinara, mereka berdua terpisah. Kenapa demikian? Semua itu karena keinginan sang pemilik hotel. Siapa lagi kalau bukan Papi Gilang?
Pria matang dengan tinggi tubuhnya 175 itu membuat para pemimpin tentara itu tidak bisa berkutik. Lana dan Mak Alisa sampai malu di buatnya.
Acara pun dimulai.
Kata-kata sambutan dari jenderal dan juga komandan Kevin, serta pemimpin lainnya sebagai pembuka acara tersebut.
Hanya sebentar. Setelah nya, baru acara itu dilanjutkan dengan pernikahan dari seluruh pasangan pengantin itu.
Ratusan pengantin itu di bagi menjadi dua puluh bagian, dan memiliki dua puluh penghulu untuk mengesahkan pernikahan mereka.
Nama-nama yang sudah disebutkan oleh moderator, maju dan masuk ke kelompok yang sudah di pilihkan.
Lana dan Maura mendapatkan kelompok sepuluh dari banyaknya kelompok yang terbagi disana.
Setelah bnggak selesai pembagi an tentang kelompok, kini moderator memulai pernikahan itu satu persatu.
Cukup satu yang berbicara disana. Yaitu penghulu kota Medan. Beliau sebagai penghulu tertua di sana di bandingkan dengan penghulu lainnya.
__ADS_1
Acara pernikahan pun dimulai. Satu persatu mengucapkan ijab qobul dengan sang ayah mempelai.
Suara ucapan ijab qobul dan sah, berdengung sahut menyahut. Seakan seperti di tuntun mereka semua antri untuk mengucapkan nya.
Tibalah saat nya pada kelompok Lana. Dan namanya lah yang pertama di panggil untuk mengucapkan ijab qobul dan akan di susul oleh Ali dan Kinara berikut dengan calon pengantin lainnya.
''Baiklah saudara Maulana, silahkan berjabat tangan dengan sang ayah mempelai wanita. Mari Pak!'' titah Pak penghulu.
Abi Madan mengangguk mantap. Ia menatap Lana dengan serius. Begitu juga dengan Lana. Maura pun ikut serius jadinya.
Semua yang ada disana lengang. Entah kenapa, semua yang tadi berbisik-bisik kini hilang, senyap, sunyi begitu saja.
Semua mata fokus pada Maulana yang akan menikah. ''Silahkan Pak Madan!''
''Baik, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, ashyhaduanlailahaillah waashhaduanna muhammadurrasululllah. Saudara Maulana Akbar bin Milham Syahputra saya Nikahkan dan saya Kawinkan engkau dengan putri kandungku Maura Putri Kartika binti Madan Al Farizi dengan mahar satu buah mushaf Alquran, seperangkat alat sholat, saham di Bhaskara group sebanyak 8%, dan satu set perhiasan berlian 28karat dibayar tunai!''
''Saya terima Nikah dan kawinnya Maura Putri Kartika binti Madan Al Farizi untuk saya dengan mas kawin satu buah mushaf Alquran, seperangkat alat sholat, saham di Bhaskara group sebanyak 8%, dan satu set perhiasan berlian 28 karat di bayar tunai!''
DEG.
Semua yang ada disana terkejut dengan mahar yang Lana ucapkan untuk sang istri begitu besar.
Terdengar bisik-bisik dari seluruh pengantin yang sudah ijab dan belum ijab. ''Bagaimana para saksi? Sah?'' tanya Pak penghulu
''Sah!''
''Sah!''
Setelah nya, Maura dan Lana saling berhadapan. Mereka sengaja di dudukan di samping mempelai Pria. Padahal tadi Maura sempat menolak.
Terpaksa sebagai sekat pemisah, Mak Alisa meletakkan Malda di tengah-tengah mereka berdua.
Gadis kecil itu begitu penurut. Mak Alisa mengajarkan putri angkat Lana itu dengan baik. Sungguh, putri kecil itu terdiam.
Ia tidak tau apapun tentang itu. Baginya, disuruh duduk. Ya duduk. Mak Alisa dan Papi Gilang terkekeh-kekeh lucu melihat tingkah Malda yang seperti orang kebingungan.
Gadis kecil itu ingin buka mulut, tapi di hentikan oleh Mak Alisa dengan meletakkan satu jari di mulutnya. Malda menurut.
Setelah mereka sah, barulah mereka berdua dihadapkan satu sama lain. Mak Alisa mengambil Malda dan menggendong putri kecil Maulana dan Maura itu.
''Silahkan saudara Lana mendoakan sang istri sebelum memakaikan maharnya,'' Lana mengangguk.
__ADS_1
Dengan segera ia menghadap pada Maura.
Maura menunduk saat tangan kanan Lana menyentuh ubun-ubun nya.
Lana menadahkan tangan untuk berdoa.
''Bismillahirrahmanirrahim, Allahummma ummi as'aluka min khoirihaa wa khoirima jabaltaha 'alaih. Wa a'adzubika min Syafri wa syarrima jabaltaha 'alaih.''
Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Hati Maura bergetar saat Lana membacakan doa itu di atas ubun-ubun nya. Maura menangis haru.
Setelah nya, Lana menarik tangan nya dan mencapit sedikit dagu Maura untuk melihat padanya.
Lana tersenyum saat melihat wajah Maura basah dengan air mata. Lana mengusap nya dengan kedua ibu jarinya, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Maura.
( Jangan fokus pada gambar nya. Fokus pada gerakan Lana dan Maura saja ye 😄)
Maura tersenyum namun menangis. Riasan dari wajah Maura begitu simpel namun sangat cantik.
Sama seperti Mak Alisa dulu. Maura pun memakai kebaya putih terusan dengan bawahan songket batik berwarna putih tulang senada dengan bajunya. Dan di atas kepalanya ada tersemat sebuah Tiara yang begitu cantik lengkap dengan selendang nya.
Lana mengecup kening Maura begitu lama. Papi Gilang mengedipkan matanya pada fotografer untuk membidik mereka berdua.
Cekrek!
Lana dan Maura terkejut mendengar suara itu. Dengan segera ia melepaskan kecupan nya dari dahi Maura.
Mereka berdua jadi salah tingkah sendiri. Saking hanyutnya dalam suasana yang sudah sah, mereka berdua sampai melupakan sekitar.
Pak penghulu, abi Madan, Papi Gilang dan Mak Alisa terkekeh-kekeh melihat pengantin baru itu jadi salah tingkah.
''Ehem..'' Lana berdehem untuk mengurangi rasa malu dihatinya.
Sedangkan Maura menunduk. Wajahnya memerah karena malu. ''Cie, cie yang udah sah!'' celutuk Rayyan si usil.
Semua yang ada disana tertawa. Hirup pikuk terdengar ke seluruh hotel itu.
💕💕💕💕
__ADS_1
Hehehe... malu euuyy!!