
Maura pergi setelah mengeluarkan uneg-unegnya pada Almira. Rasa sakit dan kecewa itu masih bercokol dihati nya.
Apalagi saat melihat jika Almira sekarang sedang hamil lima bulan. Maura mengepalkan kedua tangannya saat teringat dengan suara mendayu milik Almira pada malam pengantin mereka.
Yang seharusnya Maura disana, tapi malah di gantikan oleh Almira tanpa bertanya dulu padanya.
Bukan ia ingin menikah dengan Alif, namun lebih ke rasa kecewanya saja kepada pemuda itu.
Karena nya lah semua itu terjadi. Bahkan, mereka berdua bisa menghabiskan malam bersama disaat Maura masih dalam keadaan terluka.
Wanita mana yang tidak sakit hati, jika calon suaminya harus menikah dengan kakak nya tanpa berbicara terlebih dahulu.
Wanita mana yang tidak sakit hati, disaat bersamaan sang pemilik hati tiba-tiba muncul disaat ia akan menikah dengan pemuda lain.
Dengan terpaksa ia harus pergi dalam keadaan kecewa dan terluka. Sakit. Sangat sakit. Maura mengusap kasar yang mengalir di pipi tirus nya.
Maura menuju sebuah pondok di belakang pesantren. Di mana ia sering duduk sendiri sambil membaca buku ataupun sering membuka akun sosial media miliknya.
Teringat akun sosial media, Maura dengan segera membuka status WhatsApp Lana. Ia tersenyum saat melihat Lana yang sedang berpose memegang senjata, namun hanya belakang nya saja yang terlihat.
Setelah itu terlihat lagi, jika Lana sedang menimang seorang bayi bersama seorang gadis berhijab.
__ADS_1
Senyum Maura redup seketika. Senyum itu berubah menjadi raut wajah datar. Karena disana tertulis, 'putriku! Dan Maminya!'
Maura menatap datar pada ponsel miliknya. Ia ingin menutup ponsel itu, namun tidak jadi karena melihat status Lana berikut nya.
''Bulan ini aku di hadiahi seorang putri yang begitu cantik. Seorang anak keturunan Raja Melayu yang begitu terkenal. Tapi ia lebih memilih kami berdua untuk mengurus nya. Puan Maharani! Terimakasih, sudah menitipkan putrimu padaku untuk ku urus. Semoga kelak, putrimu menjadi anak yang berbudi luhur dan berbakti kepada kedua orang tua.''
''Walaupun aku hanya Papi angkat, tapi aku akan menganggapmu putriku, seperti anak kandungku sendiri. Walaupun ku tau, ketika besar nanti aku bukanlah mahram untuknya. Tapi aku sangat kesusahan saat ini mengurusnya! hadeeuuhhhh.. dasar bocah!''
Maura tertawa membaca status itu. Lagi ia membaca kembali status Lana. ''Ck! Kapan sih tugas ini selesai? Ribet ih! Papi... Abang pulang bawa bayi! Jangan marah ya? hihihi ...'' Maura terkikik geli membaca status Lana.
Bibirnya terus melengkung kan senyum manis. Lagi Maura melihat potongan status Lana yang terakhir.
''Sku sangat berharap jika kamu masih sama seperti dulu. Apakah masih ada kesempatan untukku, untuk bisa memiliki mu? Aku sangat membutuhkan dirimu Dek.. aku sudah punya bayi! Mau nggak jika kamu yang jadi Mami nya? Mami Maura??'' 🤧🤧
''Aku ingin menjadi Mami untuk bayimu. Bahkan sangat ingin. Tapi liat terhalang oleh keadaan dan waktu yang tidak memungkinkan kiat untuk bersatu dan mengurus bersama bayimu. Aku akan sabar menunggu. Sampai saat itu tiba, aku akan tetap disini. Menunggu mu menyusul ku. Mbawa ku pulang, dengan status baru. Yaitu calon istrimu!'''
Status kedua milik Maura, ''Aku bersedia menjadi Mami dari putri angkatmu! Bahkan aku sangat tersanjung, karena vkamu memilihku. Pesanku, sampai waktunya tiba, selalu tunjukkan aku pada putri kita. Agar ketika nanti ia bertemu denganku, ia mengenaliku,''
''Berikan nama yang baik untuknya. Terserah apapun itu namanya. Yang penting memiliki arti yang baik untuknya di masa depan. Aku percaya padamu. Jangan pesanku? Kenalkan diriku kepada putri kita. Agar kelak, ia mengenali diriku saat bertemu pertama kali dengan nya.''
''Aku akan menunggu mu, Bang Lana...'' status terakhir Maura ia kirimkan.
__ADS_1
Sesaat setelah status itu terkirim, Lana yang disana sedang membuka juga satus milik Maura tertegun membaca pesan dari Maura.
Setelah sadar jika Maura masih sama seperti yang dulu, ia tersenyum senang. Dengan bayi puan Maharani ada di gendongan nya.
''Lihat Nak. Mami mu sudah menyetujui nya! Kita harus bersabar ya? Tunggu satu setengah tahun lagi untuk bertemu dengannya. Sampai saat itu tiba, maka Papi lah yang akan mengurus mu. Sayangku. My Princess Puan Maldalya Al Amirullah Syam!'' ucap Lana dengan segera ia mengecup kening bayi yang sudah berusia dua Minggu itu.
Sementara di kediaman keluarga Mak Alisa dan Papi Gilang, saat ini sedang heboh karena status Lana.
Ke empat adiknya menjerit-jerit tak karuan melihat status Lana. Mereka memanggil-manggil Mak Alisa dan Papi Gilang.
Namun, dua orang beda usia itu sedang tidak ingin di ganggu. Keempat anaknya begitu kesal saat ini.
Dengan terpaksa ia menghubungi Lana dan berbicara langsung pada nya. Lana terkejut mendengar suara pekikan sang adik kembar yang begitu cempreng di telinganya.
Lana tertawa saat mendengar gerutuan Algi dan Nara secara bergantian. Berbeda dengan Annisa.
Gadis lembut nan ayu itu, memilih diam. Ia terus saja melihat kedua adiknya yang sedang ribut melalui ponsel dengan Lana.
Rayyan memutar bola mata malas. Pemuda jutek nan dingin itu, bodo amat. Ia pun saat ini sama seperti Annisa.
Ada sesuatu yang sedang menjadi pemikiran kedua orang itu, hingga mereka berdua memilih diam.
__ADS_1
Sementara Lana masih saja tertawa dengan tingkah kedua adik kembar nya itu. Rasa sakit akibat ulah Keluarga Maura, kini tergantikan dengan kehadiran bayi kecil nan lucu di kehidupan Lana.
Bayi yang akan menguatkan hubungan Maulana dan Maura nantinya.