
Tiba dirumah Mak Alisa dan Papi Gilang, Lana melihat ada sebuah mobil didepan rumah mereka.
Ia mengernyitkan dahinya saat mengenali mobil itu. ''Abi Madan? Sedang apa dia kesini?'' gumam Lana.
''Papi...'' Lana berhenti karena Malda memanggil nya.
Lana berbalik dan tersenyum, ''Mau endong Papi?'' tanya Lana sambil mengulurkan tangannya.
Malda tertawa. ''Ya, endong Papi!'' jawabnya
Setelah menggendong Malda, Lana kembali berjalan menuju pintu rumah mereka. Belum lagi ia masuk, tapi sudah terdengar suara tertawa dari dalam rumah.
''Hahaha..'' suara tawa itu begitu Lana kenal.
Jantungnya berdegup kencang, ia semakin cepat melangkah kan kakinya untuk masuk ke dalam.
Tiba di ambang pintu, Lana tertegun melihat Maura sedang tertawa disana bersama putra pertama Ira. Kakaknya.
''Loh? Sudah datang toh.. assalamualaikum.. nak??'' ucap Mak Alisa pada Lana.
''Waalaikum salam, Mak?'' sahut Ali dengan segera mengulurkan tangannya untuk disalami.
''Ayo, Bang kita masuk! Masa' iya sih berdiri aja kayak patung di depan pintu??'' tegur Ali.
Lana terkejut, namun lebih terkejut lagi saat melihat Maura berbalik dan menatap nya dengan terkejut juga.
''Maura!!!''
''Abang!!''
''Mamiiiiiii...''
Deg!
__ADS_1
Jantung Maura berdegup kencang saat mendengar suara anak kecil dalam gendongan Lana.
''Mamiiiiiii Maula na!!!'' pekik Malda kesenangan.
Semua yang ada disana melototkan matanya. ''Maula na???'' ulang Mak Alisa dan Maura.
''Ya, Mami Maula na!! Papi!!! Mamiiii... huaaaa...'' gadis kecil dalam gendongan Lana itu menangis histeris saat melihat Maura.
Maura terkejut. Dengan segera ia mengulurkan tangannya pada Malda yang sudah meronta-ronta di dalam gendongan Lana.
''Sayang ku!! Maldalya!!!'' seru Maura.
Ia menggendong dan memeluk bakal Puteri sambung nya itu. Mereka menangis bersama sambil berpelukan.
Maura menciumi seluruh wajah Malda. Semua itu tak luput dari pandangan semua orang disana.
''Ma hiks miii..'' Isak Malda.
Seakan tau jika itu adalah Maminya, Malda semakin menangis sesegukan. Begitu juga dengan Maura.
Ia melihat ada dua orang lagi yang begitu mirip dengan Maura. Abi Madan terkekeh melihat Ali kebingungan.
''Ini kedua adik Maura. Kembar sepasang. Sama seperti kedua anak Alisa.'' jelas Abi Madan.
Ali mengangguk dan tersenyum. Adik perempuan Maura terus saja melihat ke Ali. Sementara di ujung sana ada Nara yang sedang berwajah datar melihat Ali sedang dikagumi oleh adik Maura.
Deg!
Pandangan mata Ali dan Nara bertemu. Tanpa sadar, kaki Ali menuju pada Nara yang sedang berada di meja makan bersama Bibi Ani.
Lana tersenyum melihat itu. Tapi berbeda dengan adik Maura, wajah nya mendadak masam.
Lana terkekeh geli melihat nya. Setelah itu ia pun ikut duduk di sebelah Mak Alisa. Papi Gilang sedang ke kantor. Ada meeting mendadak saat kedatangan Abi Madan tadi.
__ADS_1
''Apa kabar Nak??''
''Alhamdulillah, Baik Abi..'' jawab Lana.
''Abi datang kesini untuk menjelaskan sesuatu padamu. Bahwa yang terjadi di Bandung itu bukanlah yang sebenarnya. Maura yang akan menjelaskan padamu. Nak??'' panggil Abi Madan.
Maura yang masih memeluk Malda dengan terisak, menoleh pada Abi Madan dan mengangguk.
Masih dengan memeluk Malda, mahar berkata. ''Apa tanah Abang lihat ketiak di Bandung itu tidaklah benar. Sampai saat ini pun adek masih nunggu kedatangan Abang. Satu tahu yang lalu, Ummi Rasmi pulang dari Tegal. Beliau istri kedua dari Abi Hasan. Saat itu, adek pikir beliau adalah tamu, begitu juga dengan Arfan. Eh, tak taunya beliau itu istri kedua Abi Hasan dan Arfan itu putra nya Abi Hasan. Tanyakan itu sama bang Ali. Dia pun tau, karena itu adalah sepupunya.''
''Saat itu, mereka terkejut melihatku. Mereka pikir, aku ini jodoh yang sedang dibicarakan oleh Abi Hasan kepada ummi Rasmi. Mereka salah paham. Tanpa bertanya ataupun berpikir, mereka berdua melamar ku pada Abi. Yang pada saat itu, Abi pun datang untuk menjenguk ku. Iya kan, Bi??'' Abi Madan mengangguk.
''Mereka begitu tergesa dan seperti memaksa Abi untuk menerima lamaran itu. Aku sudah menolaknya bang.. tapi dasar Abang sepupu bang Ali begitu keras kepala, terpaksa Abi menerima nya. Abi sudah mengatakan padanya, jika aku sudah punya calon suami dan masih bertugas. Tapi ummi Rasmi bilang, buat apa menunggu orang yang belum tentu ada. Lebih baik menerima yang ada di depan mata. Aku bilang sama Abi, biakan mereka pada keinginan nya. Tapi aku tetap pada keinginan ku.''
''Aku tetap menunggu Abang sampai Abang datang menjemput ku satu tahun lagi. Dan ya, kemarin itu ummi Rasmi mendesak ku untuk yang kesekian kalinya demi melanjutkan status kamu ke jenjang pernikahan. Buat apa menunggu Abang, katanya. Tapi aku tetap menolak. Aku akan tetap menunggu Abang.''
''Sudah ku Katakan berulang kali, pada mereka. Jika mereka akan kecewa nanti nya jika memaksaku. Dan ya, aku terpaksa melakukan hal yang sebenarnya tidak aku inginkan sama sekali. Bahkan Abi Hasan saja mendukungku untuk kembali dan bertemu dengan Abang. Katanya, titip salam untuk calon jendral!''
Deg!
''Jendral? Siapa? Abang?''
''Ya, Abang calon jendral!''
''Hah??''
💕💕💕💕
Hihihi... bang Lana calon jendral! Gimana jadi calon jendral Jika komandan pun belum ia dapat?
Hah! Othor harus riset ini tentang pangkat jendral dan komandan! Agar tidak salah kaprah dalam menulis cerita tentang mereka!
So.. tetap pantengin terus ye?
__ADS_1
Like dan komen selalu othor tunggu!