Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Jawaban Nara


__ADS_3

Nara menatap kedua orang tuanya. Ia menatap ketiga abangnya. Terakhir pada Ali. Pemuda tampan itu tersenyum lembut padanya, Nara pun ikut tersenyum ia menunduk malu.


''Dek?'' panggil Rayyan


Nara menoleh pada Rayyan yang berada disebelah Lana. ''Abang tidak bilang setuju ataupun tidak. Abang masih gamang dengan hal ini. Ini begitu mengejutkan Abang. Tapi Abang hanya bisa menyarankan satu hal saja padamu. Sebagai Abang kedua setelah bang Lana, Abang hanya ingin kamu bahagia. Kamu seorang gadis nan lembut. Sama seperti Mami, Kak Ira, dan kak Annisa. Kalian berempat itu sifatnya begitu mirip. Tapi Abang takut, kamu berbeda dari mereka bertiga. Kamu terlalu lembut, sayang. Abang tidak tega melihatmu menangis nantinya. Abang bisa membunuh orang yang telah menyakiti hatimu nantinya, tak peduli itu jika suami mu. Kamu tau kan dek, seperti apa Abang? Abang paling tidak suka jika ada orang yang dengan suka menyakiti hati perempuan. Sementara mereka terlahir dari seorang perempuan? Abang hanya bisa berpesan, pikirkan baik-baik. Keputusan ini akan mempengaruhi hidupmu ke depannya.''


''Apa pun keputusanmu, Abang akan menerimanya. Semua itu terserah padamu. Kamu sudah sholat istikharah untuk meminta petunjuk?'' tanya Rayyan pada Nara


Nara mengangguk dan tersenyum. Rayyan bernafas lega. ''Sekarang jawablah pertanyaan Papi tadi. Dan juga dari bang Ali.'' Ucap Rayyan dengan tersenyum lembut melihat adik bungsunya.


Nara mengangguk patuh. Inilah yang disukai Ali, Nara gadis yang patuh dan juga lembut seperti Mak Alisa. Ali bisa melihat itu.


Nara menunduk,tidak berani menatap semua orang. Ia menjadi gugup seperti itu. ''Ehm, Nara akan jawab. Sebelum bang Ali melamar adek, adek sudah mendapatkan jawaban nya. Setiap malam Adek selalu bermimpi tentang seorang pemuda memakai pakaian tentara sama seperti Abang. Pemuda itu selalu beriringan dengan Abang. Senyumnya yang teduh, selalu membuat Nara bergetar walau hanya dalam mimpi.'' jelas Nara masih dengan menunduk.


Mak Alisa dan Papi Gilang saling pandang, kemudian terkekeh. ''Sama kayak kita ya sayang?'' kata Papi Gilang pada Mak Alisa.


Mak Alisa tersenyum dan mengangguk setuju. ''Setiap habis sholat tahajud adek kan tidur lagi. Setiap malam selalu seperti itu. Setiap malam nya adek selalu bermimpi yang sama. Hampir satu bulan lamanya. Ingin bilang Mami, takutnya Mami kepikiran. Jadilah adek simpan sendiri. Dan ya, malam kemarin adek sholat istikharah setelah sholat tahajud. Adek meminta, jika memang benar pemuda itu adalah jodoh masa depan adek, maka dekatkan lah. Tapi jika bukan, maka jauhkan. Doa adek di jawab.''


''Dan tiga hari yang lalu, adek melihat sendiri pemuda yang ada di dalam mimpi adek itu datang kerumah kita. Begitu juga dengan hari ini. Adek melihat jika bang Ali melamar adek di tangga, sama seperti dalam mimpi adek kemarin malam. Bedanya, Abang memakai pakaian tentara, sedangkan sekarang tidak. Tapi tetap pemuda yang sama.'' jelas Nara dengan semakin menundukkan wajahnya.


''Jadi??'' selidik Papi Gilang dengan pura-pura tidak tau. Padahal Ia sudah tau apa jawaban putri sulungnya ini.


Nara menatap seluruh keluarganya dan juga Ali. Pemuda itu tetap sama. Pemuda tampan itu tersenyum padanya.

__ADS_1


Ia menunduk dan mengangguk. Semua yang disana tertegun dengan anggukan Nara. Ali tersenyum lebar.


''Alhamdulillah... akhir nya..'' ucap Ali begitu lega.


''Kamu yakin?'' ulang Papi Gilang lagi.


Nara mengangguk lagi. Masih dengan menunduk. Papi Gilang terkekeh. ''Di jawab atuh sayang..'' goda Papi Gilang.


Nara menggeleng. Ia semakin menunduk saja. Semua yang ada disana tertawa. Termasuk keluarga Abi Madan. Tapi tidak dengan Faizah. Ia menatap datar pada Ali dan Nara.


Entah kenapa ia tidak menyukai jika Nara yang di pilih oleh Ali. Gadis itu diam seperti patung di sudut sofa.


Ali tau, Faizah juga menyukai nya. Tapi Ali tidak mau itu. Yang dia mau, cuma Nara. Gadis yang selama setahun ini selalu masuk ke dalam tidur lelapnya.


''Berarti lamaran Ali diterima ya sama adek?'' tanya Lana untuk memastikan.


Maura melototkan matanya.


Bugghh..


''Hap! Dapat! Nggak kena! hihihi...'' dasar Lana Suka sekali usil.


Sedari dulu sudah seperti itu. Inilah yang disukai Maura dari Lana. Lana bertingkah apa adanya di depan Maura.

__ADS_1


Maura terkekeh-kekeh melihat Lana di timpuk dengan bantal oleh Nara gara-gara menggoda terus adek bungsunya itu.


Tinggal menunggu hari H. Mereka akan menikah. Seminggu lagi. Ali dengan segera mengabarkan keluarga besarnya.


Mendengar kabar itu, ummi Diah Sampai pingsan. Ali terkekeh-kekeh melihat ummi Diah pingsan. Mereka berbicara melalui sambungan video call.


Ali menunjukkan wajah Nara pada kedua orang tuanya dan disambut senang oleh kedua orang itu.


Tiga hari lagi mereka akan datang untuk melamar Nara secara resmi untuk menjadi istri Ali.


Seluruh keluarga besar Mak Alisa dan Papi Gilang sedang bersuka cita. Tapi tidak dengan keluarga Abi Madan.


Setelah pulang dari rumah Mak Alisa, terjadi huru hara dirumah mereka karena Almira dan Faizah.


💕💕💕💕


Maaf ye.. othor jarang update cerita ini. Othor lagi kebut Mak Alisa dan Papi Gilang biar cepat tamat.


Kak Ira pun begitu. Akhir bulan dua cerita itu tamat. Dan bulan depannya, baru othor fokus sama bang Lana dan adek Annisa.


Setelah itu baru lanjut, Rayyan dan Nara.


So.. pantengin terus ye? Jangan sampai ketinggalan!

__ADS_1


Follow aku othor agar kalian tidak ketinggalan tentang cerita mereka.


See you.. 😘😘😘


__ADS_2