
Lana dengan segera mendekap bayi itu ke tubuhnya. Sebelumnya ia membuka baju luar dan dalamnya yang menutupi tubuh atletis Lana.
Ali dan Puan Maharani sampai terbengong melihat Lana. Ia dengan gesit membuka baju itu dan menelungkup kan bayi itu di dadanya.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu terdiam seketika saat merasakan kehangatan dari tubuh seseorang yang sedang mendekap nya.
Dengan cepat Lana mengikat tubuh bayi itu dengan kain panjang yang tersedia disana. Setelah siap, ia menggenakan kembali baju seragam miliknya.
Setelah selesai, ia berdiri dan membawa setumpuk baju baju bayi itu yang sudah kau buka tadi.
Melihat itu puan Maharani meminta nya. ''Bawa sini!'' titahnya pada Lana.
Lana menurut dan menyerahkan setumpuk pakai an bayi itu. Sedang sibuk-sibuknya puan Maharani mengikat baju bayi itu dalam kerudung persegi empat miliknya, dari kejauhan terdengar seperti suara orang memanggil nama puan Maharani.
''Maharani!!! Kau takkan bisa kabur!'' pekik orang itu.
Dor!
Suara tembakan mengejutkan Lana yang sedang mendengarkan suara itu. ''Kita pergi dari sini. Ikuti aku Ali. Jika kamu capek menggendong nya, maka pikul dari belakang!'' titah Lana pada Ali.
Dengan segera Ali mengganti posisi Maharani. Menjadi memeluk tubuhnya di belakang. Darah terus mengucur di sela kaki Maharani dan membasahi tangan Ali.
Tapi Ali tidak bisa berbicara saat ini, karena Lana meminta nya untuk diam dan terus berjalan.
Sebuah cahaya lampu menerobos di tempat mereka berjalan.
''Itu mereka! Kejar!'' pekik orang itu.
Lana dan Ali yang terkejut mendengar suara itu dengan cepat mereka berlari. Ali tanpa sadar begitu kuat mencengkram tubuh puan Maharani. Begitu juga dengan Lana.
Mereka lari secepat kilat di dalam hutan itu. Walau hanya dengan layar ponsel milik Maharani sebagai penerangan, itu tidak membuat mereka berhenti.
__ADS_1
Mereka berempat terus berlari. Sesekali Lana mengusap tubuh bayi yang sedang berada di pelukannya saat ini.
''Jangan nangis sayang! Diem ya! kita lagi di jalan pulang kerumah. Papi akan membawa mu kemarkas Papi. Diem ya sayang!'' lirih Lana sambil berlari.
Puan Maharani dan Ali tertegun sejenak, namun kakinya tidak berhenti untuk berlari. Mereka terus berlari hingga begitu jauh.
Seperti ada keajaiban yang membuat mereka berdua berlari begitu kencang saat ini. Tiba di tepi sungai, Puan Maharani meminta untuk berhenti.
Lana menuruti. Karena ia melihat para suruhan Ayah Maharani itu sudah tidak terlihat jejaknya.
''Turunkan saye disini, cik!'' katanya pada Ali.
Ali menurut. Dengan segera ia menurunkan Maharani pada tepi batuan yang begitu besar. Tubuhnya begitu lemah saat ini.
Dengan darah terus mengucur keluar dari tubuhnya. Lana terdiam melihat puan Maharani.
Ia melambaikan tangannya bpada Lana. ''Kemari, ada yang ingin saya sampaikan pada mu.''
Deg!
Ia menyerahkan dua lembar kertas itu pada Maulana. ''Ambil ini dan jadikan putriku menjadi putri angkatmu! Sembunyikan identitas nya dari siapapun itu. Karena bayi ini adalah bayi istimewa di kalangan keluarga Datok Umar. Keluarga terpandang di Malaysia. Saya juga sama seperti mu dan Pak Samsul. Saya juga orang Indonesia. Tapi karena bekerja begitu lama disana sebagai pelayan bang Amir, saya sedikit demi sedikit merubah cara bicara saya. Mengikuti cara bicara orang Malaysia.'' imbuh nya sambil menatap Lana dengan dalam.
''Tolong selamatkan bayi ini. Bayi ini akan berguna untukmu nantinya. Ia keturunan Raja Malaysia yang terkenal di daerah Johor. Mereka sengaja ingin membunuh bayi ini. Karena bayi ini adalah pewaris sah dari semua harta yang dimiliki oleh ayahnya. Datok Al Amirullah Syam. Mereka ingin membunuh bayiku karena ingin mengambil alih harta suamiku yang selama ini ia bangun dan rintis sendiri.''
''Jadi ku mohon.. selamatkan putriku! Angkat dia menjadi putrimu! Berikan nama yang bagus untuknya. Aku percaya padamu. Ini semua identitas untuknya di masa depan. Simpan ini baik-baik! Semua ini petunjuk untuknya kelak.'' Puan Maharani menyerahkan sebuah kotak hitam berukiran emas di setiap sudutnya kepada Lana.
Lana menerima itu dengan tangan gemetar. Ia begitu shock mendapati kenyataan jika bayi yang sedang dalam pelukannya itu adalah keturunan raja Melayu. Datok Amirullah Syam yang terkenal saat ini.
Lana menatap dalam pada puan Maharani. ''Aku percaya pada mu komandan Lana! Di tangan mu dan istrimu, kelak putriku dan bang Amir akan menjadi wanita hebat seperti kalian berdua. Titip salam untuk Maura calon istrimu ya?''
Deg!
__ADS_1
Lagi, Lana terkejut. ''Katakan padanya, jika keinginan nya untuk bisa mengurus putriku telah di kabulkan oleh Allah SWT. Pergilah! mereka semakin dekat. Bawa serta ponsel ini. Kartu nya udah ku buang. Di dalam ponsel itu banyak sekali rahasia kunci dari harta bang Amir.'' lirih Puan Maharani.
Lagi dan lagi Lana tertegun. ''Kemana bang Amir??''
''Dia sudah meninggal karena di bunuh oleh pamannya yang haus akan harta. Demi menyelamatkan diriku, ia rela mati di bunuh oleh pamannya. Bang Amir udah tau hal ini akan terjadi. Maka dari itu, ia menyuruh Pak Samsul supir pribadi sekaligus asisten kepercayaan nya untuk membawa lari diriku. Agar bayi yang kulahirkan seminggu yang lalu selamat dan dialah yang akan merebut kembali tampuk kekuasaan milik Abah nya nanti.''
''Aku percayakan putri kami berdua padamu Maulana Akbar! Seseorang yang memang sudah di tetapkan untuk mengurus bayi kami. Aku percaya pada takdir. Aku akan tetap disini. Biarkan mereka membawa ku. Aku ikhlas. Asalkan putriku selamat. Pergilah! Mereka semakin mendekat! Ayo!!'' sentak puan Maharani.
Dengan segera Lana dan Ali berlari dan bersembunyi di dalam sebuah gua di tepi tebing curam itu.
Sementara puan Maharani, mengambil sesuatu dari saku bajunya dan menenggak nya hingga habis.
Kemudian ia menyayat-nyayat seluruh jari tangan dan kakinya. Sakit dan perih tak terhingga, namun inilah pesan dari suaminya.
Saat melihat beberapa orang mendekati nya, ia memejamkan kedua matanya. ''Lailahailallah.. Muhammad urrasulullah...''
Dor!
Dor!
Suara tembakan itu bergema hingga ke telinga Lana dan Ali yang bersembunyi di dalam gua.
Seakan tau, bayi itu menangis. Dengan cepat Lana mengusap tubuh nya dan menenangkan nya.
Tapi bayi itu tidak mau berhenti. Takut akan Ketahuan, Ali dan Lana keluar dari gua itu dan berlari sekencang mungkin untuk menuju markas mereka.
Sementara pihak suami puan Maharani, sibuk melihat kesana kemari mencari bayi yang dilahirkan oleh Maharani seminggu yang lalu.
Mereka mengumpat kesal karena tak menemukan bayi itu. Sementara puan Maharani sudah mereka tembak tadi saat Lana bersembunyi di dalam gua demi menyelamatkan penerus tunggal kerajaan Datok Al Amirullah Syam.
💕💕💕💕
__ADS_1
Ikutin terus ye!