
Sementara dirumah Mak Alisa, Lana masih saja mengurung diri. Ia hanya akan turun untuk makan dan sholat berjamaah di mesjid komplek perumahan indah permai blok G.
Lana selalu menunjukan sisi humorisnya pada keluarga. Walau saat ini hatinya sedang terluka begitu dalam.
Setiap malam ia hanya bisa menangis di setiap sujud nya pada sepertiga malam. Papi Gilang selalu berdiri di depan pintu kamar Lana.
Berdua dengan Mak Alisa. Dua paruh baya itu semakin sakit hatinya mendapati pangeran mereka harus tersakiti begitu dalam karena kelakuan Madan dan putrinya.
Ingin sekali Papi Gilang menghancurkan semua usaha mereka. Bukan hal yang sulit baginya untuk menghancurkan usaha milik keluarga Gunawan.
Tapi karena bujukan dari wanita tersayangnya, Papi Gilang mengalah. Walau hatinya sering sakit saat mendengar Isak tangis dari dalam kamar Lana.
Pagi ini Lana mendapat telepon dari atasannya untuk segera kembali ke camp. Karena ada yang harus dibicarakan.
Sebenarnya pembicaraan ini sudah terjadi dua bulan yang lalu. Tapi karena Lana meminta waktu lagi untuk menjawabnya, maka atasan nya pun mengijinkan.
Dan hari ini keputusan itu telah di ambil oleh Lana. Ia akan memilih ikut atasannya ke perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.
Mendengar kabar yang diberikan oleh Lana, Mak Alisa sangat terkejut. Wanita itu sampai jatuh terduduk dilantai.
Papi Gilang hanya bisa menghela nafas berat. ''Sayang... izinkan putramu pergi. Abang sedang bertugas loh.. masa' iya sih kamu mau menahan kepergian nya?'' bujuk Papi Gilang yang kesekian kalinya.
Ia menatap jengah pada istri tersayang nya ini. Bibir wanita paruh baya itu manyun. Matanya mengembun.
__ADS_1
Sekali kedip, bulir bening itu akan tumpah membasahi pipinya. ''Kamu bisa diam nggak sih Papi? Hiks.. orang aku lagi ngomong sama putraku juga! Sshhuutt..." Mak Alisa menyusut ingusnya.
Papi Gilang terkekeh begitu juga dengan Lana. "Mak.. izinkan Abang pergi ya? Abang pergi untuk bertugas, Mak! Permohonan ini memang sudah disetujui sejak dua bulan yang lalu. Tapi karena Abang pikir, Abang harus ngomong dulu sama Maura, makanya Abang pulang. Batas waktu untuk Abang libur sudah cukup, Mak.. izinkan Abang ya?" pinta Lana dengan wajah sendu.
Mak Alisa tak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia memeluk putra semata wayangnya dari pernikahan pertama dengan ayah Emil.
Ia menangis sesegukan di pelukan Lana. "Mak takut, jika kamu pergi dalam keadaan seperti ini, Nak. Kamu sedang terluka. Mampukah kamu menjalani ini sendirinya tanpa kami?"
Lana tertegun sesaat sebelum ia mengurai pelukannya dan menangkup wajah Mak Alisa.
"Mak tau Abang seperti apa selama ini bukan?"
Mak Alisa mengangguk. Lana tersenyum. Cup. Kecupan sayang mendarat di dahi wanita yang begitu ia sayangi selama ini.
Lana terkekeh geli. "Apa sih yang Mak takutkan? Abang udah dewasa loh.. Masa' iya Mak masih takut sih Abang pergi? Biasakan juga seperti ini? Jangan bilang, kalau Papi udah punya Mami baru?'' goda Lana sembari menatap Papi Gilang.
Plaakk..
''Astaghfirullah! Ih Papi! Kok di geplak sih?! Kepala Abang setiap tahun di fitrahin ya!'' sungut Lana melotot menatap Papi Gilang.
Papi Gilang memutar bola mata jengah. ''Kamu itu ya! Jangan menuduh Papi seperti itu! Papi nggak akan pernah berubah. Papi tetap sama Mak kamu!'' ketus Papi Gilang.
Mak Alisa terkekeh. Sedangkan Lana masih dengan wajah jenaka nya. ''Kan bisa saja Papi? Lupa ya? Apa yang pernah Papi lakukan sama Mak dulu?''
__ADS_1
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Itu cuma salah paham, Nak.. Mak mu pun tau itu. Iya kan sayang?''
Mak Alisa mengangguk. ''Ya sudah, Mak mengijinkan mu untuk pergi bertugas. Tapi ingat! Apapun yang terjadi padamu, kabarkan kepada kami disini. Hem?''
''Tentu, Mak! Keluarga segalanya buat Abang. Abang berharap, dengan kepergian Abang bertugas, segala rasa sakit ini akan berkurang nantinya.'' imbuhnya dengan sedikit cengengesan.
''Jangan membohongi dirimu sendiri Nak.. jika Maura adalah jodohmu, maka berdoalah. Sebutlah selalu namanya di setiap sujud mu. Pinta pada sang penguasa alam semesta. Papi yakin, jika kamu berjodoh dengan nya, sejauh apapun kamu melangkah, pasti ia akan menemukan mu. Percayalah dan yakinlah! Papi hanya bisa berharap, kamu akan berubah menjadi lebih baik lagi setelah kejadian ini.''
''Tentu Papi. Abang berangkat ya Mak? Salam untuk Rayyan, Algi dan Nara. Katakan pada kedua adik sialan ku itu! Jangan selalu menggangguku saat aku sedang bertugas!'' ketus Lana.
Membuat Mak Alisa dan Papi Gilang tertawa. Bukan apa Lana berbicara seperti itu, kedua adik kembarnya itu selalu usil mengganggu nya.
Aku pergi sayang. Sampai saat itu tiba, aku mohon. Kamu tetaplah sama seperti Maura ku yang dulu. Walau status mu dan diriku sudah berbeda. Tapi aku yakin, jika kita berjodoh pasti akan di pertemukan kembali sejauh apapun kita pergi.
Maulana Akbar.
...💕💕💕💕💕...
Hadeuhhh.. typo nya euuy... hihihi..
Tenang.. udah othor revisi kok.
Happy reading..
__ADS_1