Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Kedatangan Ummi Aini dan Almira


__ADS_3

Abi Madan, Maura dan kedua adiknya tiba dirumah mereka sudah pukul enam sore. Setengah jam lagi memasuki waktu Maghrib.


''Abi... Kakak istirahat duluan ya?'' ucap Maura pada Abi Madan yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama ketiga anaknya.


''Ya, pergilah. Abi pun lelah. Pulang dari mengajar belum istirahat udah kerumah Lana dulu. Tapi tak apa. Abi senang, karena akhirnya putri Abi ini akan segera menikah. Ingat pesan Abi nak..'' Abi Madan menghela nafasnya.


''Hidup dalam rumah tangga itu berbeda dengan kehidupan sehari-hari yang sering kamu lalui bersama kami, keluarga mu. Jika biasanya kamu sering istirahat ketika senggang ataupun ketika waktu luang, berbeda ketika kamu sudah menikah. Kamu di tuntut untuk menjadi seorang yang dibutuhkan di dalam rumah itu.''


''Kamu Haras bisa menjadi ibu, teman, sahabat, untuk suami mu nanti. Ia akan berbagi semua hal dengan mu. Semuanya tanpa terkecuali. Jadikanlah dirimu tempat ia berpulang dari penat letihnya saat bertugas. Karena Abi tau, seorang seperti Lana selalu di tuntut untuk menjadi yang terbaik. Kamu harus bisa mengimbanginya. Jadi dirimu sendiri itu bagus. Tapi kamu harus lebih memperhatikan apa yang di inginkan oleh suami mu. Jika kamu tidak tau, maka tanyakan lah. Jangan hanya berdiam diri dan mengikuti alur rumah tangga yang memang sudah seperti air mengalir saja. Abi pernah merasakan sakit nya berumah tangga, Nak. Abi tidak menyalahkan ummi kalian untuk hal ini.''


''Abi hanya mengingatkan kamu agar menjadi seseorang yang di butuhkan di dalam rumah itu. Saling membutuhkan disaat mereka dalam kemelut rumah tangga. Bukan hanya lebih mementingkan diri sendiri. Lebih baik tidak usah menikah kalau seperti itu. Abi hanya menyampaikan apa yang pernah Abi alami dulunya. Saling mencintai itu bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau satu sama lain mengerti akan kondisi pasangan kita. Kita tidak di tuntut untuk menjadi yang nomor satu di dalam keluarga. Tapi kita di tuntut untuk memahami dan mempelajari, memperbaiki hubungan didalam rumah tangga.''


''Akan banyak liku-liku yang kamu temui nanti saat kamu sudah menikah dengan Lana. Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua keluarga saja, tapi pernikahan itu menyatukan dua makhluk yang berbeda menjadi satu. Di dalam rumah tangga pastilah ada ujian. Dan ujian itulah yang akan mempererat hubungan kalian berdua nanti. Kuncinya, kalian harus saling terbuka dan jujur dengan perihal masing-masing. Yang paling penting, adalah komunikasi. Jika komunikasi tidak lancar maka akan terjadi pertikaian didalam rumah tersebut.''


''Sebagai seorang ayah, Abi hanya ingin yang terbaik untuk putrinya Kala ia sudah berumah tangga nanti. Istirahat lah. Abi pun lelah. Kalian berdua pun istirahat sebelum masuk waktu Maghrib. Ayo!'' ajak Abi Madan pada ketiga anaknya.


Namun belum lagi mereka berjalan, terdengar suara orang mengucapkan salam.

__ADS_1


''Assalamu'alaikum... Faiz.. Faizah...''


Deg!


Abi Madan dan Maura berhenti di tempat ketika mendengar suara yang begitu mereka kenal. Abi Madan dan Maura berbalik.


''Ummi!!! Kakak!!!'' pekik Faiz dan Faizah begitu senang.


Mereka berdua lari berhamburan memeluk kedua orang yang begitu mereka rindukan.


''Apa kabar Ummi? Kakak? Kenapa ketika kamu pulang, kalian tidak berada di rumah? Kemana saja kalian? Adakah yang kami tidak tau?'' cecar Faizah dengan banyak pertanyaan


''Abi .. Maura...'' panggil Almira


''Buat apa kamu kemari?!''


Deg!

__ADS_1


Almira memejamkan kedua matanya, begitu juga dengan ummi Aini. Dari belakang, muncullah Alif bersama putra mereka.


''Sayang.. ini Aldi pup deh. Bersihin dulu gih! Abang mau-,'' ucapannya terhenti saat melihat satu keluarga itu sedang berdiri mematung melihat Abi Madan dan Maura.


Maura tersenyum kecut. Abi Madan menatap dingin pada ketiga orang itu. Matanya hanya tertuju pada putra Almira yang sudah berumur dua tahun.


''Abi-,''


''Apa yang kau inginkan dengan datang kerumah ku? Belum puaskan selama ini kau menyakiti kami dengan perbuatan kalian berdua, huh?!'' seru Abi Madan dengan dingin.


Suara itu begitu dingin dan tegas. Aldi, putra Almira sampai menangis melihat Kakek nya ini.


''Abi...''


''Pergilah! Aku tidak butuh manusia egois seperti kalian bertiga! Hanya mementingkan diri sendiri dari pada orang lain! Orang yang sudah kalian lukai sampai saat ini masih merasakan sakit dihatinya? Kalian? Kalian berbahagia di atas penderitaan nya! Selamat! Selamat buat kalian bertiga yang telah berhasil menghancurkan kehidupan putriku! Pergi! Aku tidak butuh keluarga seperti kalian disini! Dan kau Aini! Bukankah aku sudah menceraikan mu dua tahun yang lalu? Dan bukankah saat ini kamu sudah dilamar oleh Paman menantu kesayangan mu?''


Deg!

__ADS_1


Deg!


''Apa?!''


__ADS_2