
''Bang? Kita pulang kemana nih? Ke rumah Mak atau kerumah Abi aja??'' tanya Maura pada Lana yang sedang mengemudikan mobil Pajero sport miliknya.
Mereka hanya berdua. Wajah Lana begitu serius saat ini. Mengingat, saat bersalaman tadi ada yang membisikkan sesuatu di telinganya tentang orang-orang dari luar negeri yang akan memburunya karena Malda.
Seseorang itu adalah Ali. Orang kepercayaan Lana. Ia dan Lana selalu siaga dalam setiap hal. Dan benar seperti dugaannya. Mereka, para pembunuh bayaran itu sedang mengikuti nya saat ini.
''Sayang!'' panggil Lana dengan wajah seriusnya.
Maura menoleh, ''Ya, apa.. terjadi sesuatu kah??''
Lana mengangguk, namun matanya begitu serius menatap ke depan. Di kesunyian malam yang hampir larut itu mereka berdua saja dalam mobil.
Pengantin baru tanpa ada yang menemani mereka berdua. ''Ambilkan baju pelindung itu, lalu kenalkan di tubuhmu. Dan bantu Abang untuk memakainya. Kita harus tetap waspada. Abang tidak mau terjadi sesuatu apapun padamu!'' tegasnya dengan mata menatap lurus ke depan.
Maura mengangguk patuh. Tanpa rasa malu sedikitpun, ia membuka seluruh pakaiannya dan tersisa hanya baju lengan pendek selengan berwarna putih gading membalut tubuhnya.
Begitu juga dengan bagian bawah. Celana kulot hitam sebagai dalaman nya. Dengan segera ia mengambil rompi yang dikatakan Lana tadi yang terletak dibalik kursi belakang kemudi.
Ada dua rompi disana. Maura tidak bertanya dan membantah. Karena ia tau siapa Lana sebenarnya. Siapa juga bayi kecil yang berketurunan kebangsaan Malaysia itu.
''Sudah Bang! Kemarikan tangan Abang, sebelah dulu biar adek buka kancing lengan panjang ini.'' Kata Maura pada Lana.
Lana mengangguk, ''Cepat sedikit dek! Bahaya sedang mengintai kita! Lima menit kamu harus siap memakaikan rompi itu di tubuh Abang! Oke?''
''Siap!'' sahut Maura.
Tangan Maura bergerak cepat saat membuka seluruh kancing baju Lana. Seperti sudah terlatih, Maura cepat sekali membuka jas yang Lana pakai saat ini.
Sempat tertegun. Tapi itu cuma sebentar. Ia kembali fokus pada jalan tikungan didepan sana.
Tepat tiba di tikungan jalan itu, serombongan orang menghadang mobil mereka. Mereka berjumlah dua puluh orang. Dengan mobil mereka ada empat Fortuner disana.
__ADS_1
''Selesai!'' Lana menatap Maura dengan dalam.
Maura tersenyum. ''Pergilah! Nanti adek menyusul. Adik harus pakai baju pengantin ini dulu agar mereka tidak curiga? hem?''
Lagi, Lana tertegun. ''Darimana kamu tau?'' selidik Lana, sementara sepuluh orang itu sudah mendekati mobil Pajero milik Lana.
''Apa yang adek tidak tau tentang Abang? Kita bersama dari kecil loh.. jadi sekecil apapun yang abang sembunyikan dariku, adek tau! Pergilah! Bawa ini juga.'' Katanya pada Lana, Maura menyerahkan satu buah pis*ol pada Lana untuk pegangan nya menghadapi mereka semua. Keluarlah duluan.'' Ucap Maura lagi dengan lembut menatap Lana.
Lana mengangguk, ''Hati-hati sayang! Cup!'' Lana mengecup kening Maura sebelum turun dari mobil nya.
Turun dari mobil mereka, Lana sudah dihadang oleh orang-orang bersenjata tajam. Maura dengan segera mendial nomor seseorang.
''Assalamu'alaikum, Ray! Kejalan komplek perumahan mangga dua! Kami diserang disini!''
''Waalaikum salam, baik kak! Ray bilang Papi dulu ya? Hati-hati! Assalamualaikum! "
Tut.
Cukup baju saja.
Setelah selesai, ia mengambil sesuatu dan ia selipkan dibalik gaun pesta pernikahan nya. Sesuatu itu tersembunyi dibalik kaos kaki Maura.
''Ayo kita bermain! kita lihat? Dua lawan dua puluh. Siapa yang akan menang? Jangan panggil namaku Maura Maulana Akbar, jika aku tidak bisa menangani kalian semua!'' gumamnya dengan tangan terus cekatan mengisi benda itu dengan biji bulirnya.
Sementara diluar, Lana sudah menghadapi mereka dengan adu otot.sura tersenyum, ''Cih! Dengan suamiku saja kalian keok! Bagaimana jika aku turun tangan juga?'' Maura terkekeh namun begitu menyeramkan.
Ia turun dari mobil dengan wajah pura-pura panik untuk mengelabuhi para pembunuh bayaran negeri Jiran itu.
''Abang!'' panggilnya, namun Lana tak menggubris.
Bugh.
__ADS_1
Bugh.
Bugh.
''Aaakkhh...'' pekik orang itu
Maura tersenyum. ''Kena kamu!'' gumamnya sambil mengedipkan matanya pada orang yang jatuh terkapar itu.
Melihat kedatangan Maura, sang pemimpin turun dari mobilnya. Ia tersenyum menyeringai melihat Maura dari kejauhan.
Prok.
Prok.
Prok.
Orang itu bertepuk tangan ria untuk tertawa mengejek Lana dan Maura. ''Wooahh.. baru saja menikah rupanya? Hem? Bagus cik! Puan! Selamat! Selamat menempuh hidup baru! Tapi bukan di dunia melainkan di neraka!'' serunya dengan senyum mengejek pada Lana dan Maura.
Lana menatap nya dengan tajam. Sementara Maura tersenyum tipis. ''Bang! Mereka ini siapa??'' tanya Maura masih dengan raut wajah panik.
Seseorang itu tertawa terbahak. ''Buahahaha..
sang istri sedang panik ternyata! Hahaha... habisi mereka! Setelah itu bunuh seluruh keluarganya!! Jangan ada yang tersisa! Termasuk, bocah kecil satu setengah tahun itu!''
Deg!
Deg!
💕💕💕💕💕
Dua!
__ADS_1