Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Maura melahirkan


__ADS_3

Empat bulan berlalu.


Pagi ini Maura merasakan panas di pinggang dan perut bagian bawahnya. ''Sssttt.. Mbak Sus. Pinggang ku sakit banget loh.. kita keruang sakit aja ya? Panggilkan Nara. Hanya Nara yang bisa menyetir mobil bang Lana. Ssssttt.. kalau tunggu Algi nanti kelamaan. Udah dari kemarin sih sakitnya.. ssssttt.. huffftt...'' Maura menghela nafasnya saat merasakan sakit di perut bagian bawah tiada Tara.


Mbak Sus panik. ''Baik Buk. Saya panggilkan Non Nara dulu ya?''


Maura hanya mengangguk. Ia berulang kali menghela nafasnya. Berulang kali juga rasa sakit itu mendera nya. ''Ya Allah...'' ucap Maura begitu lirih ketika rasa sakit itu melanda perut bagian bawahnya.


Sementara Mbak Sus, berlari tergopoh-gopoh mencapai pintu rumah Nara. Beruntung nya Mbak Sus, pintu rumah Nara sudah terbuka padahal masih setengah enam pagi.


''Assalamu'alaikum, Non Nara!'' panggil Mbak Sus sambil berlari masuk kerumah Nara dan Ali.


Sudah menjadi kebiasaan nya dan tidak Canggung lagi. Terkecuali ada suami Nara. Yaitu Ali.


Nara yang sedang mengepel pun terkejut. ''Waalaikum salam, Mbak Sus? Ada apa?? Kak Maura mau kerumah sakit??'' tanya Nara tepat sasaran.


''Hosshhh.. hossshh.. hooh. Ibu sakit perut nya Non! Kayaknya mau melahirkan!'' ucapnya masih dengan nafas ngos-ngosan.


Nara sigap. ''Oke! Tunggu sebentar! Aku pakai baju dulu. Mbak Pulang aja dulu. Siapkan semua keperluan bersalin kakak dan juga Malda.'' Ucapnya pada Mbak Sus.

__ADS_1


''Oke. Mbak pulang dulu. Mau bersiap!''


''Ya!'' sahut Nara sambil berlari menuju ke kamar dengan berlari perlahan menuju tangga.


Nara dengan cepatemkai baju dobel. Tidak dibuka lagi. Langsung saja memakai gamis terusan dan juga hijab instan pemberian Ali. Mengingat Ali, lagi hati itu sesak.


Tapi ia tidak bisa apapun. Saat ini yang lebih penting ialah Maura. Kakak iparnya yang akan segera melahirkan bayinya.


Nara keluar dengan berlari. Ia mengunci pintu rumah dan berlari ke rumah sebelah. Yaitu rumah Maura. Disana sudah ada Maura dan Mbak Sus yang sedang menggendong Malda.


Gadis kecil Lana itu begitu baik budinya. Ia mengelus perut maut yang terasa kencang turun ke bawah. ''Mami! Dedekna mau telual ya?'' tanya Malda dengan bahasa cadelnya


Gadis kecil Lana itu masih mengusap perutnya saat Nara mengeluarkan mobil Pajero sport milik Lana. Ia memanaskan sebentar mobil itu sebelum ia bawa.


Dirasa cukup, Nara menuntun Maura untuk masuk ke mobil. Setelahnya, menyusul Mbak Sus dan Malda. Nara berlari ke arah kemudi dan melakukan mobil itu keluar dari rumah Maura. Tapi sebelum nya, ia mengunci dulu pagar rumah Lana.


Baru kemudian Nara melajukan mobil milik Lana itu menuju kerumah sakit. Saat di persimpangan jalan, Nara melihat mobil Mak Alisa berselisih dengan mereka. Tapi tidak bisa berhenti.


''Lah, loh? Itu mobil Abang mau ke mana?? Siapa yang jadi supir Pi!'' seru Mak Alisa panik.

__ADS_1


Papi Gilang Terkekeh. ''Tensng sayang.. putri bungsuku udah bisa bawa mobil kok. Ayo, kita putar balik dan ikuti mereka.'' kata Papi Gilang pada Mak Alisa.


Mak Alisa mengangguk, mereka berdua berbelok arah dan kembali mengikuti mobil Lana. Sempat ketinggalan, tapi Nara membunyikan klakson dua kali agar Papi Gilang tau, jika itu mereka.


Papi Gilang terkekeh kala mengingat Nara yang begitu ketakutan ketika Algi mengajari nya menyetir mobil dua bulan yang lalu. Mereka berdua sempat bertengkar.


Papi Gilang hanya bisa tertawa saja. Semua ini atas ide beliau. Takut, jika Maura melahirkan hanya Nara yang bisa di andalkan. Sedangkan Algi bersama mereka dirumah.


Nara tidak keberatan sama sekali ketika Algi mengajari nya menyetir mobil. Tapi yang menjadi masalah nya ialah narabawa mobil Lana itu bagian siput. Membaut Algi kesal bukan main.


Papi Gilang Samapi tertawa melihat keributan dua anak kembarnya yang saling berebutan ingin membawa mobil milik Lana dengan kencang.


Mengingat itu Nara dan Papi Gilang terkekeh-kekeh. Sedangkan Mak Alisa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Maura sudah tidak bisa fokus lagi karena merasakan sakit yang tiada Tara datang silih berganti.


Semakin lama semakin sakit. Hingga rasanya rontok semua seluruh tulang-tulang nya. Ia menguatkan diri demi buah cintanya bersama Lana.


Sementara Lana nan jauh disana, sedari kemarin perasaan nya begitu gelisah. Tidak tau kenapa ia memikirkan Maura. Ia menebak, jika Maura pasti akan melahirkan.


''Menurut perhitungan, bulan ini Maura akan melahirkan. Ya Allah.. jaga anak dan istriku. Lindungi mereka. Selalu sertakan mereka dengan orang-orang baik yang selalu bisa menolong mereka..'' pintanya dalam hati.

__ADS_1


Saat ini pun ia masih di dalam hutan. Mengejar para penyusup ilegal bersama teman yang lainnya.


__ADS_2