Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Dosen Killer


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Maura di pesantren itu begitu menyenangkan. Sedikit demi sedikit Maura merubah kepribadian nya yang dulu cengeng, kini sudah tidak ada lagi.


Maura berubah menjadi dingin dan datar. Sangat sulit untuk di ajak bersenda gurau. Semua santri-santri segan padanya.


Ingin menyapa dengan menatap wajahnya tapi tak berani. Dirinya yang terkenal tegas, dan tidak ada toleransi bagi yang melakukan kesalahan akan ia hukum dengan segera.


Walaupun santri itu minta maaf, Maura tak peduli. Hukum tetap harus di tetapkan. Semua santri menjadi takut padanya.


Maura terkenal sebagai guru yang datar dan dingin di pesantren itu. Berita itu sudah menyebar kemana-mana.


Saking terkenalnya Maura, ada satu universitas memintanya untuk menjadi tenaga pendidik disana.


Maura dengan senang hati menerimanya. Namun sebelum itu, ia harus meminta izin Abi dan ummi Hasna dahulu.


Dan bersyukur nya Maura, mereka berdua mengizinkan Maura. Dengan catatan, Maura tetap harus kembali ke pesantren ketika tugasnya sudah selesai.


Selama enam bulan ini Maura mendidik santri perempuan menjadi lebih disiplin dalam bersikap dan bertanggung jawab.


Semua itu ia lakukan untuk memantaskan para santri perempuan untuk lebih mandiri namun tidak dipandang rendah karena tidak memiliki adab ketika keluar dari pesantren nanti.


Dan hari ini, untuk pertama kalinya Maura harus mengajar di sebuah universitas di Bandung yang terkenal dengan kota hujan.


Maura berangkat menggunakan motor pemberian ummi Khadijah dan Ustad Hasan untuk transportasi Maura selama mengajar di kampus.


Maura seminggu hanya tiga kali mengajar di kampus ini. Maura memang hanya lulusan strata satu di bidang ekonomi.


Namun, Maura tidak berfokus disitu saja. Gadis dua puluh tahun itu adalah gadis memliki segudang prestasi sama seperti Maulana.


Seperti saat ini. Ia di tugaskan untuk mengajar mahasiswa jurusan Sastra. Karena dosen yang memegang mata kuliah ini sedang cuti melahirkan.

__ADS_1


Maura menerima dengan senang hati. Maura tiba disana pukul sepuluh siang waktu Bandung. Udara yang panas namun dingin tidak menyurutkan langkah Maura menuju keruang dekan untuk melapor, bahwa dirinya sudah bisa mengajar hari ini.


Selesai dari ruang dekan, kini seorang dosen mengantarkan Maura menuju ke kelasnya. Banyak mahasiswa yang seumuran dengan Maura menatap aneh padanya.


Mereka pikir, jika Maura itu adalah mahasiswa baru disana. Terdengar kasak kusuk tidak menyenangkan di telinga Maura.


Namun ia tak peduli. Ada satu orang mahasiswa yang nekad ingin berkenalan dengannya.


Maura diam saja. Ia masuk keruangan itu dan berdiri di depan seluruh mahasiswa yang terdiam melihat kedatangan nya.


Sejak kedatangan Maura, ruangan itu mendadak sepi. Maura tersenyum dalam hati, namun wajah itu tetap datar dan dingin.


Pemuda yang tadi menegurnya, kini tersenyum manis kepada nya dan melambaikan tangan ke pada Maura. Maura menatap nya datar.


''Assalamualaikum, selamat pagi semua? Perkenalkan ini Ibu Maura dosen baru kalian pengganti ibu Tina yang cuti melahirkan. Silahkan Bu Maura. Saya permisi kembali ke ruangan.'' imbuhnya dengan segera berlalu.


''Terimakasih, Bu Rita. Hem, baiklah. Perkenalkan nama Saya Maura Putri Kartika. Kalian bisa memanggil saya dengan Maura saja. Baiklah-,''


''Siapa nama kamu?'' tanya Maura.


Pemuda itu tersenyum dan bertingkah sok keren dan paling tampan. ''Saya Aldi! Saya menyukai anda Bu dosen!''


''Huuuuu....'' sorak seluruh mahasiswa di dalam kelas itu.


Maura diam. Seluruh kelas sekarang sedang menertawakan si biang rusuh di dalam ruangan itu.


''Sudah selesai?'' tanya Maura begitu tegas namun dingin.


Aura Maura saat ini begitu dingin. Terkesan seperti ingin mengamuk, namun tidak terjadi. Seluruh mahasiswa terdiam mendengar suara Maura yang berubah menjadi dingin.

__ADS_1


''Saya tidak suka ketika dalam mata pelajaran saya ada yang tidak patuh. Saya disini sebagai dosen! Bukan teman kalian! Jika ingin berteman, cari diluar kampus ini! Saya tidak menerima ada mahasiswa yang tidak menuruti peraturan saya. Saya disini untuk mengajar bukan untuk di goda oleh siapapun! Jika kalian tidak bisa menghormati saya sebagi dosen, silahkan keluar dari kelas saya! Anda Taukan dimana pintu saudara Aldi?''


Deg!


Jantung Aldi berdegup kencang mendengar suara dingin Maura. Baru kali ini ada seorang dosen, masih muda lagi bisa mengalahkan Aldi dalam hal berbicara.


''Bagaimana? Ada yang tidak ingin mengikuti kelas saya? Kalau ada silahkan keluar!'' tegas Maura.


Semua mahasiswa terdiam. Mereka semuanya menunduk. Aura Maura saat ini begitu menyeramkan dilihat oleh mereka semua.


Wajah nan ayu, bibir tipis tanpa polesan lipstik hanya pelembab saja. Namun, mata nya itu begitu tajam saat melihat seluruh mahasiswa nya.


''Tidak ada yang mau keluar?'' tanya nya lagi. Hening dan sepi. Tidak ada yang menyahuti ucapan Maura.


''Baiklah, diam nya kalian saya anggap kalian mau mengikuti kelas saya! Kita adakan kuis pagi ini!''


Deg!


Deg!


Lagi jantung seluruh mahasiswa bergemuruh hebat saat ini. Apalagi Aldi si biang rusuh dalam kelas kali ini tidak bisa berkutik.


Sementara diluar sana, Tiga orang dosen termasuk dekan sedang mengintip dari celah pintu.


Mereka tersenyum mendapati mahasiswa yang dikenal bandel dan sukar diatur itu, kini mendadak kicep.


Sunyi sepi dalam sekkab letiakuar sudah berbicara. ''Anda lihat kan Pak dekan? Saya bilang juga apa. Beliau ini terkenal dingin dan tegas kepada seluruh santrinya. Beruntungnya saya, anak saya berada di pesantren itu. Jadi saya tau semua darinya. Kita lihat, bagaimana keseharian Maura selama belajar disini. Menurut saya sih, saya sudah bisa menebak. Kalau Maura ini pasti akan mendapatkan julukan Sebagai Dosen Killer di kampus ini.'' celutuk ibu Rita.


Dosen yang tadi mengantarkan Maura ke kelas sastra. Mereka mengangguk setuju dengan perkataan ibu Rita ini.

__ADS_1


Dan benar saja saat mata kuliah selesai, seluruh mahasiswa terus saja membicarakan Maura yang menjadi dosen Killer menggantikan seorang dosen yang sekarang sedang kuliah melanjutkan strata dua nya di Singapura.


Mengingat seorang dosen itu, mereka berkeyakinan jika Maura akan berjodoh dengan dosen killer mereka yang pertama.


__ADS_2