
''Assalamualaikum.. selamat pagi... hari baik, bulan baik, tahun pun baik! Untuk seseorang nan jauh disana, semoga kamu membaca ini.'' Ketik Maura pada statusnya.
''Terimakasih.. karena sudah menjadi penyemangat untukku. Walaupun kamu saat ini sedang terluka karena diriku. Tapi percayalah! Aku tidak seperti dugaan mu..'' status kedua Maura ia kirimkan.
Lagi ia ketik lagi status yang ketiga. ''Aku akan menunggu disini. Aku akan setia pada satu orang saja. Dirimu tak akan tergantikan oleh yang lain.. kamu begitu sempurna untukku yang memiliki banyak kekurangan ini.'' Maura meneteskan air matanya saat mengetik bagian ini.
''Tapi aku percaya, jika aku adalah kekurangan. Maka kamu lah kelebihan ku! Untukmu yang tersayang.. dimana pun kamu berada, aku berharap bahwa cinta dan hatimu hanya untukku.''
''Aku akan setia menunggumu dua tahun lagi. Sampai saat itu tiba, aku harus memantaskan diriku terlebih dahulu agar layak bersanding denganmu.. untuk itu, selalu jaga hatimu untukku.'' status ke lima Maura terkirim lagi.
''Aku memaafkan orang-orang yang telah menyakiti ku tanpa sadar dan sadar. Siapalah aku yang tidak bisa memaafkan orang lain? Sedangkan Allah saja sang maha pemberi maaf?''
''Untukmu yang terkasih, aku menunggumu disini. Jemput aku saat waktunya tiba. Aku tidak berubah. Tapi keadaan lah yang membuat kita jadi begini. Ku mohon.. jangan buang aku..'' Maura terisak lagi setelah menuliskan status yang ini.
''Aku mencintaimu karena Allah, kelebihan dan kekurangan adalah motivasi ku untuk lebih mengenal siapa dirimu..''
''Aku menunggu mu.. Cintaku .. saat ini aku sedang di Bandung untuk bertugas sama seperti dirimu nan jauh di sana. Percaya lah, aku pun sama terlukanya dengan dirimu.''
''Kamu satu-satunya pria yang selama ini selalu dekat denganku. Walaupun kita sering bertengkar ketika kecil dulu. Tapi dari situ lah aku tau, jika kamu tulus kepada ku tidak seperti yang lain..''
''Aku akan menunggu mu, aku akan setia pada satu hati. Entah kapan kamu kembali, aku tak tahu. Waktu dua tahun itu aku pergunakan untuk mendidik diriku agar pantas bersanding denganmu.''
''Aku akan selalu menunggumu untuk kamu jemput nanti. Abi.. Maaf 🙏🙏 jika Adek tidak izin dulu sama Abi jika Adek sekarang berada di Bandung.''
''Adek pergi karena mendadak. Semua ini atas perintah dari Abi dan Ummi Khadijah. Maafkan adek, Abi.. semoga Abi mengerti dengan keputusan ku ini.. semua ini ku lakukan, untuk mengurangi rasa sakit dihatiku, karena kepergiannya.''
__ADS_1
''Sekali lagi, terimakasih bagi yang telah memberikan semangat untukku. Aku berdoa, semoga kelak kalian berbahagia seperti diriku saat ini yang sedang berbahagia karena penantian ku akan segera berakhir. Tunggu Aku!'' Status terakhir Maura kirimkan melalui ponsel pintarnya.
Sengaja, ia menulis melalui status. Karena setiap berhubungan dengannya, pastilah status yang akan mereka baca. Bukan langsung menghubungi.
Sementara Abi Madan terisak sendiri di kamarnya yang dingin tanpa ada yang menemani.
Melihat status yang bertuliskan curhatan hati Maura, membuat ia menangis pilu. Kenapa ia tidak berusaha mencegah putrinya itu agar tidak pergi dari rumahnya.
Sekarang sudah terlambat untuk nya bisa membawa pulang kembali Maura. Ia akan pulang, jika Maulana yang akan menyusulnya nanti.
Sedangkan Almira, Alif dan ummi Aini. Mereka tertegun dengan rentetan tulisan yang tertera di layar ponsel mereka karena melihat status Maura baru saja.
Ummi Aini terisak di kursi yang ia duduki. Sedangkan Almira menangis dalam diam. Ternyata Maura benar-benar pergi dari mereka semua.
Begitu juga dengan Lana. Almira meneteskan air mata tanpa suara. Berbeda dengan Alif. Pemuda itu semakin merasa bersalah kepada Maura dan Maulana.
Sekarang dirinya seperti berbahagia diatas penderitaan orang lain. Ia termenung di kursi kerjanya.
Matanya menatap kosong pada layar ponsel miliknya yang menunjukkan status Maura saat ini sedang berada di Bandung begitu ceria.
''Abang akan datang untuk menemui mu, Maura. Maafkan Abang, dek..'' lirih Alif dengan mata berkaca-kaca.
Sementara sang pemilik status saat ini sedang berkeliling pesantren untuk melihat-lihat kondisi setiap santri yang akan ia ajarkan nanti.
Apa kabar dengan Maulana? Pemuda tampan dengan tubuh atletis itu menangis terisak di balik sebuah pohon rindang di dalam hutan itu saat membaca status Maura baru saja.
__ADS_1
Niat hati ingin buang air kecil, malah tanpa sengaja ponsel itu terjatuh dari saku celananya saat ia ingin membuka celana ketika berjongkok.
Karena penasaran, ia membuka ponsel itu sambil membuang hajat kecilnya. Selesai dengan itu, Maulana berdiri dan membuka kembali status milik Maura.
Lana tertegun beberapa saat. Melihat serentetan tulisan dari Maura membuat bola matanya memanas.
Tak tahan, akhirnya tubuh itu berguncang hebat di ikuti dengan suara Isak tangis yang begitu pilu.
''Abang akan menjemputmu Dek .. tunggu Abang! Abang akan pulang! hiks .. Mak! Papi! Maura ku kembali!'' pekiknya kesenangan di tepi hutan rimbun itu.
Seseorang terkekeh melihat kelakuan Lana yang begitu cengeng karena sang pujaan hati. ''Bang!'' panggilnya sambil mendekati Lana.
''Hah?'' sahut Lana sembari mengusap air matanya yang terus berjatuhan karena bahagia.
''Ayo. Kita sudah di tunggu di markas. Komandan ingin bertemu denganmu.'' imbuh nya dengan sedikit senyum simpul di bibirnya.
Lana tersenyum, pemuda itu tertegun. Sangat jarang seorang Maulana bisa tersenyum. Tapi hari ini? Dia tersenyum.
''Oke! Ayo kita pulang!'' jawabnya, dengan segera kaki jenjang Lana melangkah meninggalkan tepi hutan saksi bisu isakannya karena membaca status Maura.
''Begitu senangnya kamu, Bang. Aku ingin lihat, seperti apa gadismu itu. Hingga mampu membuatmu tersenyum, padahal selama ini kamu terkenal dingin pada setiap orang. Apalagi pada setiap perempuan yang sering menemui mu. Aku jadi penasaran dengan gadismu ini. Jangan salahkan aku, jika aku mencuri nomor ponselnya dari ponsel mu nanti. hihihi..'' pemuda ini cekikikan sendiri dibelakang Lana.
Sementara Lana tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Ia sudah kembali lagi seperti semula.
Datar dan dingin. Seperti es kutub Utara!
__ADS_1
💕💕💕