Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Menginap


__ADS_3

Selesai dengan sarapan pagi, Lana membawa Ali menuju kamarnya. Kamar yang dulu pernah Papi Gilang buat untuknya.


''Ayo masuk! Kita mandi dulu! Kamu aja duluan. Abang mau ke kamar Mak sebentar ada yang perlu di omongin sama mereka berdua. Baju Abang ada di lemari. Ambil aja mana yang menurutmu pas di tubuhmu.'' ucap Lana pada Ali.


Ali tertegun sejenak. ''Beneran Bang? Abang nggak keberatan kalau aku pakai baju Abang selama disini?'' tanya Ali dengan wajah terkejut nya.


Lana tersenyum, ''Pakai saja! Setelah ini pun kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini!''


Deg!


''Hah? Maksud Abang?!''


Lana terkekeh geli. ''Kamu tau maksud Abang Ali! Udah ah! Mandi sana! Abang balik, kamu udah siap mandi, oke?''


Ali mengangguk tapi ragu. ''Udah... tenang aja! Anggap aja rumah kamu sendiri! Abang percaya sama kamu, Komandan Ali!'' goda Lana dengan segera berlalu meninggalkan Ali yang lagi-lagi terkejut karena ucapan Lana baru saja.


''Hah? Komandan? Emang iya aku akan jadi komandan? Bukankah bang Lana yang akan menjadi komandan setelah ini? Hisshh.. bang Lana ini suka sekali menggoda ku! Tapi aku beruntung, bisa kenal dan bertemu dengannya! Hah! Lebih baik aku mandi saja untuk menyegarkan seluruh tubuh yang terasa kaku karena tidak mandi habis kesini tadi.'' gumam Ali, dengan segera ia mengambil handuk dalam lemari Lana dan masuk ke kamar mandi.


Sementara Ali mandi, Lana menuju kamar Mak Alisa dan Papi Gilang. Ia menghela nafas sebelum mengetuk pintu berwarna putih dan ada warna kuning emas di setiap Relife nya berbeda dari kamar-kamar yang lain.


''Hah! Semoga Mak dan Papi mau menerima usulanku ini! Semoga! Bantu hamba ya Allah..'' imbuh Lana dengan sedikit khawatir.


Tok, tok, tok.


''Mak? Papi? Abang boleh masuk nggak? Ada yang perlu Abang bicarakan dengan kalian berdua!'' ucap Lana masih berdiri di depan pintu.


Papi Gilang yang sedang tengkurap di ranjang, menoleh dan menyahuti ucapan Lana.


''Masuk saja, Nak! Pintunya nggak di kunci!'' sahut Papi Gilang dari dalam kamar.


Lana menghela nafasnya. ''Ya, Abang masuk!'' katanya.


Ceklek!


Pintu kamar utama, Lana buka. Dengan segera ia masuk dan menuju Papi Gilang yang sedang duduk senderan di kepala ranjang.


''Pi...'' panggil Lana. Ia duduk mendekat di kaki Papi Gilang dan memijat nya. Inilah kebiasaan Lana tiap kali pulang dari tugasnya.

__ADS_1


Papi Gilang tersenyum, ''Sudah jadi kebiasaan mu, Hem tiap kali pulang kamu pasti akan memijat Kaki Papi?'' goda Papi Gilang.


Lana tersenyum, ''Ya, karena Papi selalu mendoakan Abang sukses makanya tiap kali Abang pulang, hanya ini yang bisa Abang berikan untuk Papi. Terimakasih banyak Papi..'' lirih Lana dengan tersenyum lembut pada Papi Gilang.


Papi Gilang terkekeh, ''Ada apa? Apa ini tentang Ali?'' tanya Papi Gilang tepat sasaran.


Lana terkejut, ''Bagaimana Papi tau?'' tanya Lana dengan reaksi yang berlebihan. Ia mengedipkan matanya berulang kali hingga Papi Gilang tertawa terbahak.


''Hahaha... ketahuan kamu! hahaha...'' ucap Papi Gilang. Ia menjebak Lana dengan ucapan nya.


Lana berdecak sebal. ''Ck! Selalu begini! Papi selalu menjebak Abang dengan pertanyaan Papi!!'' seru Lana jutek.


Papi Gilang semakin tertawa terbahak melihat wajah Lana kesal padanya. ''Ya.. kan keliatan Bang! Kamu itu memang ingin mengatakan sesuatu sama Papi kan??'' tebak Papi Gilang lagi.


Dan itu semakin membuat Lana manyun. Pria dewasa itu selalu saja kalah tiap kali berhadapan dengan Papi Gilang.


''Hahaha...'' tawa Papi Gilang menggema dikamar utama itu.


Mak Alisa yang baru saja tiba dari bawah, terkejut mendengar suara Papi Gilang seperti orang kesurupan.


Mak Alisa masuk dan duduk di sebelah putra sulungnya itu. ''Ih Papi! tertawa itu tidak boleh berlebihan! Diam ih! Kamu ada apa kesini nak? Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?'' tanya Mak Alisa serius namun mendelik melihat Papi Gilang yang terus saja tertawa.


Plaakk..


''Allahu!! Sakit sayang! Isshh.. suka banget sih mukulin suami sendiri?!'' gerutu Papi Gilang pada Mak Alisa.


Lana tertawa. ''Diem ih! Anaknya mau ngomong ini!'' sungut Mak Alisa.


''Udah dong.. masa' Abang baru pulang kalian selalu saja ribut kayak gini? Abang kesini mau minta ijin sama Mak dan Papi. Kalau Abang ingin minta gaji Abang selama jadi tentara untuk diberikan kepada keluarga Ali di Bandung. Papi punya orang kan di Bandung?''


''Punya. Memangnya kenapa?''


Lana menghela nafasnya. ''Lana ingin memberikan gaji itu untuk pelunasan hutang ayah Ali di bank selama ia menjadi tentara. Dan kemarin, saat ia pindah kesini Ayahnya sempat minjam lagi ke bank karena Ali. Ali meminta uangnya pada Ayahnya untuk beli motor disini. Padahal Abang udah bilang sama dia, nggak usah beli motor, pakai aja punya Abang tapi Ali tidak mau. Ia tetap Keukeh pada pendiriannya.'' Lirih Lana dengan menunduk.


Mak Alisa dan Papi Gilang saling pandang. Mereka tersenyum. ''Tentu Nak. Biarkan kami yang mengurus nya. Apakah kalian akan pulang ke camp?''


Lana tersenyum. ''Kami akan menginap, Mak, Papi. Nggak pulang kok. Ada waktu cuti selama seminggu untuk dirumah. Dan waktu itu akan Abang gunakan untuk menjenguk Maura di Bandung. Abang akan berangkat bersama Ali nanti. Ali udah setuju kok. Sekalian nanti Malda Abang bawa. Baby sitter yang Abang pesan udah ada kan?'' tanya Lana pada Mak Alisa.

__ADS_1


''Alhamdulillah udah ada. Mungkin saat ini putri kamu itu sedang bermain di taman di sekitaran komplek ini?''


''Ya sudah, kalau begitu Abang keluar dulu mau mandi. Udah bau asem ini saking buru-buru mau kesini.'' ucap Lana dengan segera berlalu.


Mak Alisa dan Papi Gilang terkekeh melihat tingkah Lana. ''Siapkan uangnya sayang. Kirimkan melalui mobile banking aja ke rekening Ali. Mana sini kan ponsel ku?'' pinta Papi Gilang pada Mak Alisa.


Dengan segera Mak Alisa memberikan ponsel papi Gilang padanya. Namun ditolak. ''Kamu aja yang kirimkan. Berapa pun itu terserah kamu. Aku percaya padamu.'' imbuhnya dengan menatap mak Alisa dengan senyum lembut nya.


''Oke! jangan salahkan aku, jika uang mu akan habis banyak By!''


Papi Gilang tertawa. ''Tak kan habis sayang!''


Mak Alisa terkekeh. Ia memegang ponsel Papi Gilang dan mulai mengetikkan sesuatu di ponsel itu dan di kirimkan ke nomor Ali.


''Sudah selesai!''


''Ayo sini istirahat! Kita ini udah tua. Harus banyak istirahat. Biarkan Maura menjadi urusan Abang. Apapun yang menjadi keputusan Lana kita harus menerima nya. Aku tidak yakin, jika Abang akan sama seperti dulu setelah mengetahui fakta yang sebenarnya!'' imbuh Papi Gilang dengan menghela nafasnya.


''Serahkan Pada Allah By. Jika Lana memang berjodoh dengan nya, maka mereka berdua pasti akan di persatukan. Semoga saja..''


''Amiinn... semoga Maura lah muara terakhir untuk Lana berlabuh. Ayo kita berbaring. Capek pinggangku duduk aja! Hadeuhhh.. beginilah masih kalau udah tuwir!''


Mak Alisa tertawa mendengar candaan dari Papi Gilang.


💕💕💕💕💕


Pasangan tuwir ini selalu saja membuat othor tertawa sendiri saat menulis cerita mereka.


Ada yang penasaran? Yuk, mampir di Mak dan Papi bang Lana.


PELABUHAN TERAKHIRKU


( Kamu Bukan Pembawa Sial )


Biar kalian semua pada nyambung ceritanya ya? hihihi..


Kembang nya jangan lupa buat othor! 😉

__ADS_1


__ADS_2