
Tiga Minggu berlalu setelah kepulangan Nara dari Bandung dan juga kepulangan Lana dan Ali ke Bengkulu. Kini kedua pemuda tampan itu sedang menuju rumah mereka.
Mereka berdua sengaja ingin memberi kejutan kepada istri-istri mereka. Ponsel sengaja mereka matikan agar semua orang tidak tau tentang kepulangan mereka.
Lana dan Ali terkikik geli saat nanti Nara dan Maura akan terkejut karena kepulangan mereka. ''Kamu bawa kunci serap rumah mu kan Li?'' tanya Lana pada Ali.
Ali terkekeh kecil. ''Ya bawa kah Abang. Ini tuh ya, senang udah rencana aku dulunya. Kalau kita di izinkan cepat pulang, maka ini akan menjadi hari istimewanya adek. Hari ini kan ia sedang mengadakan acara perpisahan sekolah? Aku yakin bang. Adek pasti juara umum lagi kayak dulu-dulu.''
Lana terkekeh lagi, ''Ya. Adikku yang satu ini memang begitu pintar! Aku bersyukur memiliki adik sepertinya. Dan kamu pun beruntung karena sudah mendapatkan adik kesayangannya ku itu.'' Imbuh Lana pada Ali, membuat Ali tertawa bahagia.
''Tentu dong.. Ali gitu loh!'' selorohnya.
Lana tertawa bersama dengan Ali di dalam mobil pesanan mereka dari bandara Kuala namu. Butuh waktu dua jam untuk tiba dirumah mereka.
Mereka berdua tiba saat subuh. Sebelum pulang, mereka sholat terlebih dahulu. Mereka tidak ingin pulang ke camp seperti perintah jendral Wawan.
Sekali-kali mereka berdua melanggar peraturan. Lana dan Ali terkikik geli saat jendral Wawan tertawa karena jawaban Ali yang begitu membuat nya merasakan muda.
Bagaimana tidak, Ali mengatakan. ''Ini waktunya untuk bertempur dan mencetak bibit baru penerus Ali Jaber Al Basri! Kan saya pulang untuk ini? Masa' anda tega melarang saya untuk bertemu dengan istri. Sementara pusaka saya ini sudah lama negjarag dan tidak di asah! Anda mau, pusakanya saya ini menjadi lembek kayak jeli? Karena terlalu tidak mendapat jatah dari sarangnya? Yang ada saya bisa di tendang sana istri saya nanti. Masa' iya saya harus menunggu lagi sih Jendral? Ck. Nggak asik ah! Kalian msh enak, udah ngerasain yang namanya pecah tanggul surga. Kah aku? Umurku udah kepada dua kayak tanduk kambing gini belum juga merasakan yang namanya tanggul surga? Ck. ck. ck. Miris sekali hidup saya...'' lirihnya mendramatisir.
Lana dan jendral Wawan sampai terbahak dibuatnya. Ali. Ya, Ali. Dasar. Begitu kata jendral Wawan tadi saat pria tua itu menghubungi mereka berdua.
Dan saya ini, mereka berdua sudah tiba di kediaman mereka. Di komplek perumahan tentara. Lana turun dari mobil itu dengan tersenyum manis s pada sang pujaan hati yang berdiri mematung karena amelihat kedatangan nya.
__ADS_1
Sedangkan Ali langsung menuju kerumah nya. Tuang ia dan Nara. Saat ini i istri kecilnya itu sudah pergi bersama Mak Alisa dan Papi Gilang. Ia ingin memberi kejutan untuk sang istri dengan kepulangan nya itu.
Maura memebku ditempat saat melihat Lana masuk ke dalam pagar rumah mereka dengan tersenyum manis padanya. ''Assalamu'alaikum Sayangku... apa kabar mau nih??'' tanah Lana pada mahar yang berdiri mematung karena melihatnya datang.
Saat ini ia sedang menyapu halaman dan juga menyiram tanaman bunga miliknya dan milk Nara yang mereka tanam secara bersamaan.
Lana terkekeh melihat wajah terkejut Maura. Ia mendekati Maura dan mengecup dahi, pipi, kedua matanya, dan terakhir ia mengecup sekilas putik merah jambu Maura yang terlihat begitu pucat.
Cup.
Mata mahar mengerjab lucu. Lana tertawa. Dengan segera ia memeluk tubuh chubby Maura setelah ia melahirkan kedua anak kembarnya.
Grep!
Maura masih terdiam. Ia masih mencerna. Ini mimpi atau nyata. Ia melakukan Lana yang jauh disana namun, semua itu Buyat saat mendengar suara lengkingan Malda yang memanggil nama sang Papi dengan keras hingga suara itu membuat Maura jatuh terduduk dalam pangkuan Lana.
Malda yang baru saja selesai mandi sendiri dibantu Mbak Sus, ia keluar setelah tubuh bersih seperti kata Mami mau tadi.Ia berlari kecil hingga tiba didepan pintu.
Anak kecil mirip Puan Maharani itu terkejut bukan main saat melihat sang Pai sedang memeluk Maminya dengan erat.
Senyum indaklh terukir di bibir manisnya. Sambil berlari ia memanggil Lana dengan suara khas nya.
''Papiiiii... papi Pulang.... huaaaa... Papiiiiii... Papi Lana aaaaaaaaaa...''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Deg!
Brruukkk.
Maura jatuh pingsan saat menyadari jika itu benarkah sang suami tercinta nya. Lana panik namun, setelah nya ia tertawa terbahak. Suara tawanya itu hingga terdengar kerumah Ali.
Ali pun ikut tertawa melihat Lana telah berhasil mengejutkan Maura. Belum lagi dirinya. ''Tunggu Abang sayang. Sebentar lagi. Abang harus menyiapkan kejutan ini dulu untukmu. Tunggu. Abang akan datang di waktu yang tepat! Tunggu saja!'' gumamnya sambil terus terkekeh.
Tangan kekarnya terus cekatan mendial nomor yang akan mengurus sesuatu untuk kejutan untuk sang istri.
Sementara diruang Lana, Maura menangis tersedu di dalam pelukan Lana. Ia tak menyangka bahwa kepulangan Lana dan Ali begitu cepat berbeda dari waktu yang di tentukan.
''Abang.. hiks..'' Isak Maura.
Lana tertawa. Ia begitu puas melihat sang istri terkejut karena kepulangan nya. Lana terkekeh, ia semakin gencar menggoda Maura yang sedang menangis tersedu di pelukan nya.
Sementara kedua anak kembar Mayang sedang di pangkuan Lana. Kedua bocah rusuh itu sedang menarik, menepuk, dan menjebak rambut Lana.
Lana tertawa terbahak. Melihat kedua bocah kembar biang rusuhnya itu.
__ADS_1