Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Berdamai


__ADS_3

Dirumah Mak Alisa dan Papi Gilang, saat ini Lana sedang bersiap untuk berangkat ke rumah Maura.


Karena Lana baru saja mendapat telepon dari Maura tentang kedatangan ummi Aini dan Almira.


Lana turun ke bawah dan menemui kedua paruh baya yang sangat harmonis itu.


''Mak, Papi, Abang kerumah Maura dulu ya? Ada yang perlu dibahas disana. Sepertinya kedatangan ummi Aini dan Almira memancing emosi Maura. Tadi saja ngomong nya begitu ketus sama Abang!'' adu Lana pada Mak Alisa dan Papi Gilang.


Papi Gilang terkekeh, ''Pergilah. Malda tidak dibawa?''


Lana mengangguk, ''Abang bawa. Maura udah pesan tadi. Kayaknya bakalan terjadi perang lagi dah ini! hadeuuhh.. ngelebihi Abang yang tentara ini perangnya!'' celutuk Lana membuat Papi Gilang tertawa keras.


''Hus! Nggak boleh ngomong gitu. Kamu datang kesana itu sengaja untuk mendamaikan keluarga itu. Ingat nak, beri pemahaman pada Maura untuk berdamai dengan masa lalu. Jangan berlarut dalam dendam, itu tidak baik! Sampaikan itu pada Maura!'' Lana terkekeh


''Oke, Abang pergi dulu. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut keduanya.


Lana dan Malda segera berangkat menuju kerumah Maura menggunakan motor matic milik Mak Alisa.


Motor jadul yang masih terawat dengan baik. Mengingat itu Lana terkekeh. Papi Gilang sering kali marah padanya, karena udah tua sering bepergian menggunakan motor, padahal punya mobil.


''Aaaaaa... Papiii.. aciiiikkk...'' pekik Malda dengan senangnya.


Malda berdiri diantara kedua kaki Lana. Yang terlihat olehnya hanyalah Sisi kiri dan kanan motor itu.


Lana terkekeh, ''Adek senang??''


''Ya .. mau nana Papi??''


Lana tersenyum, namun tetap fokus ke depan. ''Kita mau kerumah Mami Maura, sayang. Katanya adek mau nginap disana kan?''


Malda mengangguk. ''Hihihi.. ceneng naik motollll.. yeeee...'' pekik Malda kesenangan.


Lana tertawa-tawa.


Cukup dua puluh menit menggunakan motor, mereka sudah tiba di rumah Maura. Sudah terlihat dari kejauhan jika Maura sedang berdiri di depan pagar rumahnya.


Mendengar suara motor bebek milik Mak Alisa, Maura tertawa. Begitu juga dengan Lana.


''Hahaha.. Abang bawa motor Mak lagi? Nggak dimarahin sama Papi??'' tanya Maura dengan segera membuka pintu gerbang rumah nya.

__ADS_1


Segera Lana masuk setelah Maura membuka pintu pagar rumah itu. Maura menutup kembali pintu pagarnya kemudian mendekati Malda yang terkantuk-kantuk.


Maura dan Lana terkekeh-kekeh, ''Adek... sayang.. bangun nak. Kita udah sampai dirumah Mami. Bangun Nak.'' Ucap Lana pada Malda yang matanya hanya tinggal di watt lagi.


''Malda...''


Klep, klep..


''Mamiii... haaaaa.. endong!'' celutuk nya dengan bibir manyun kayak bebek.


Lana terkekeh begitu juga dengan Maura. ''Hahaha.. kok manyun gitu??''


Malda mencebik, ''Antuk!'' celutuk nya lagi.


Maura tertawa lagi. Ia mengangkat tubuh Malda untuk di gendong nya. ''Ayo, Bang! Perusuhnya udah nunggu dari tadi!'' ketus Maura.


Lana terkekeh, ''Nggak boleh gitu sayang.. bagaimana pun mereka itu keluargamu. Ya?'' tutur Lana lembut sambil tersenyum pada Maura.


Maura menghela nafasnya. ''Terserah Abang lah!'' ketus Maura lagi.


Lana menggeleng kan kepalanya. Lana mengikuti Maura untuk masuk kerumah itu. Tiba di depan pintu, sudah terdengar celoteh an putra Almira dan Alif.


Deg!


''Bang Lana!'' seru Almira Karena terkejut. Ia sampai berdiri saking kagetnya melihat kedatangan Lana.


Maura tersenyum sinis. ''Cih! Sok pura-pura kaget lagi! Padahal tadi, ia sudah tau jika bang Lana akan datang! ingat suami kamu Almira! Apakah ingin mencoba merebut bang Lana lagi begitu?!''


Deg!


''Sayang...'' tegur Lana lagi sambil menggeleng kan kepalanya.


Maura mencebik. ''Terserah Abang! Adek mau ke kamar! mau tiduran Malda dulu.'' ketusnya.


Lana hanya bisa menghela nafasnya. Kemudian beralih pada ummi Aini dan tersenyum.


''Apa kabar Ummi?'' sapa Lana sambil mengulurkan tangannya.


''Alhamdulillah, baik nak. Mari, silahkan duduk.'' Titah ummi Aini.


Almira masih berdiri mematung. Alif menatap datar pada Lana. ''Maaf saudara Alif, saya tidak berniat untuk merebut istrimu seperti yang kau lakukan pada calon istriku!''

__ADS_1


Deg!


Almira tersentak mendengar ucapan Lana. Ia menoleh pada Alif yang juga sedang menatap Lana dengan datar.


''Saya datang kesini untuk berdamai dengan masa lalu, yang dulu pernah kalian buat. Sudah lama saya menunggu saat ini. Dan ya, inilah saatnya!'' tegas Lana dengan wajah dinginnya.


Mata Almira mengembun. ''Duduk Almira!''


Deg!


Lagi, Almira tersentak saat mendengar suara tegas itu. Ia menunduk dan segera duduk di sebelah Alif.


Tes.


Tes.


Air matanya menetes saat mendengar suara dingin Lana. ''Ma-maaf Bang..'' ucap Almira sambil menunduk.


Ia tidak berani menatap Lana. Ummi Aini hanya bisa diam. Semua ini pun karena kesalahannya.


Jika ia tidak memaksa Maura dulu, pastilah kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi. Ia menyesalkan semua ini.


Dari dapur, Faizah datang dengan membawa nampan ditangan nya. ''Sudah datang Abang?'' sapa nya pada Lana.


Lana mengangguk, tidak tersenyum seperti pada ummi Aini tadi. ''Sudah berkumpul semua? Maura!!''


''Ya, Abi!''


''Turun! Masalah kalian bertiga harus segera di selesaikan disini jangan sampai berlarut! Dan kau Almira, jika kau masih ingin bersama keluarga ini dan kami maafkan, lupakan Lana! Berdamai lah dengan hatimu, jika Lana bukanlah jodohmu! Tapi jodoh adikmu. Maura putri Kartika!''


Deg!


Deg!


💕💕💕💕💕


Yuhuuu... jangan lupa tinggalkan jejak. Dan ikuti cerita ini sampai selesai, jangan separuh-separuh!


Emang cerita othor ini kelapa apa? Yang bisa di paruh dua?? 😒😒


Hihihi..

__ADS_1


__ADS_2