Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Pulang ke rumah Baru


__ADS_3

Setelah kejadian, dimana mereka berdua sedang bercumbu dengan sambungan ponsel terhubung, kini pasangan pengantin baru itu akan pulang ke rumah baru mereka.


Ingat kejadian kemarin, bisa-bisanya Lana lupa mematikan sambungan video call dengan Rayyan. Hingga membuat pengantin baru itu malu nggak ketulungan.


Maklumlah pengantin baru, nggak tau tempat main sosor aja. Gitu kata Rayyan kemarin saat Rayyan datang membawa perlengkapan baju mereka.


Rayyan menggoda pengantin baru itu habis habisan, membuat keduanya begitu malu. Hingga Lana melarang lagi Rayyan untuk datang ke tempat mereka.


Begitujuga dengan keluarga yag lainnya, Lana tidakmengijinkam mereka untuk datang walau hanya sekedar menjenguk Maura saja. Lana bilang, ketika di rumah mereka aja nanti jika ingin menjenguk. Begitu kata Lana.


Semua keluaga menyetujui. Dan hari ini, mereka berdua sudah pulang kerumah baru mereka.


Tapi sebelum itu, Maura minta di antarkan untuk menemui para pembunuh bayaran itu. Sangat kasihan sekali mereka tidak bisa leluasa bergerak akibat totokan yang Maura berikan pada mereka semua.


Mereka menangis saat Maura melepaskan tototkan itu dari tubuh dua puluh orang pembunuh bayaran yang berasal dari negara jiran itu.


Lana menutupi semua identitas mereka. Dengan terpaksa mereka harus pulang kembali ke asal. Dengan syarat, mereka semua tidak boleh melakukan hal seperti itu ke depannya.


Baik itu di negara ini atau pun di negara mereka nantinya. Semua pembunuh bayaran itu setuju. Mereka berjanji, jika suatu saat mereka di pertemukan kembali dengan jalan yang baik maka mereka semua yang akan menolong Lana dan Maura bilamana terjadi sesuatu dengan mereka bedua nanti.


Maura bisa bernafas lega setelah melepaskan totokan itu dari tubuh mereka semua.


Dan saat ini, mereka sudah di kediaman baru milik Lana. Yaitu rumah dinas yang sudah diberikan untuk Lana sebagai bukti dedikasinya selama ini.


Tiba disana, seluruh keluarga besar sudah menunggu kedatangan mereka. Semuanya tanpa terkecuali.

__ADS_1


Maura terkejut saat melihat seseorang yang begitu ia kenal berada di komplek perumahan itu. Ini menatap nanar pada orang yang sedang berboncengan itu.


Lana hanya bisa mengelus lembut tubuh Maura. Maura tersenyum tapi sendu. Lana mencoba untuk menguatkannya.


Mereka turun dari mobil Pajero milik Lana. Dengan perlahan Lana menuntun Maura untuk masuk ke dalam rumah mereka.


''Assalamu'alaikum..''


''Waalaikum salam.. masuk nak! Kami baru saja siap masak! Ayo, duduk dulu! Ambilkan minum dek?'' pinta Mak Alisa pada Nara.


Nara mengangguk. Dengan segera gadis kecil sang pengantin baru milik Ali itu berlalu ke dapur dan mengambil kan minum untuk Maura.


Setelahnya ia kembali ke depan dimana para saudara semua berkumpul. ''Ini Mi, minumnya. Adek mau keatas bentar ya? Kayaknya kamar Abang tadi belum beres deh,'' katanya sambil terkekeh kecil.


Semua yang ada disana tertawa. ''Pergilah! Ali! temani Nara! Gadisku itu pasti butuh teman untuk bicara!'' kata Mak Alisa pada Ali.


Lana melihat itu tersenyum haru. Akhirnya, adiknya bisa juga menikah dengan Ali. Walau bersyarat.


Seluruh keluarga begitu senang saat melihat keadaan Maura yang sudah sembuh. Kini tinggal pemulihan saja untuk lengannya yang terluka itu.


Lana dengan telaten mengganti perban setiap kali perban itu basah ketika selesai mandi. Dasar Maura. Sudah di larang, tapi tetap saja keras kepala. Lana hanya bisa pasrah saat dirinya ingin mandi, namun tangannya Lana yang memegang.


Hingga membuat pemuda itu menghela nafas berulang kali. ''Sabar..'' gumamnya dan masih terdengar oleh sang istri.


Maura menjadi bersalah pada Lana. ''Dua hari lagi ya Bang?? Sabar..'' bujuk Maura lagi.

__ADS_1


Apa yang bisa ia lakukan saat ini selain harus bersabar. Sempat di goda oleh Ali, ''Abang lumayan dua hari langsung bisa jebol! Lah aku?? Harus nunggu sampai adek Abang tamat sekolah tau? Dua tahun lagi euuyy.. bisa-bisa berkarat ini pusaka jika tidak diasah!'' kata Ali tadi sebelum mereka semua pulang.


Lana terbahak mendengar ucapan Ali seperti itu. Ternyata nasibnya masih lumayan bagus dibanding kan dengan Ali. Tinggal serumah, sekamar dan saling berbagi kisah tapi tidak bisa menyentuhnya.


Coba bayangkan, betapa tersiksanya Ali saat menginginkan sang istri tapi tidak bisa? Ck! Masih untungan Lana.


Lana terkekeh saat mengingat hal itu. Saat ini mereka berdua sedang berbaring dengan tangan kanan sebagai bantal yang digunakan oleh Maura.


''Gimana sama Ali ya Bang? Kasihan juga sih??''


Lana tersenyum, ia mengelus lengan Maura yang terbuka. Kulit halus seputih susu yang sangat Lana sukai.


''Biarkan ia dengan takdir nya. Dan kita pun dengan takdir kita berdua. Sabar.. hanya itu kuncinya. Lagi pun, adek kan masih sangat kecil. Tahun ini baru tujuh belas tahun. Biarlah mereka jalani saja dulu. Yang penting, selama kami belum bertugas lagi, maka kami akan tetap berada disamping kalian, para istri kami. Abang percaya, jika Ali adalah pemuda yang tepat untuk adek. Walau terpaut usia yang begitu jauh, itu tidak akan menjadi halangan bagi hubungan mereka. Kita harus belajar dari Mak dan Papi kita, hem??'


Maura tersenyum, ia memeluk tubuh Lana dengan erat. ''Ya, dan setiap rumah tangga itu memilki ujiannya masing-masing. Adek percaya, Nara pasti bisa melewati nya.''


''Tentu, adek Nara itu titisan kedua dari Mak Alisa. Lihatlah sendiri seperti apa lembut hatinya. Kita hanya bisa berdoa saja untuk rumah tangganya. Kita pun tidak tau seperti apa rumah tangga kita ke depannya.''


''Ya,'' sahut Maura.


Kehidupan masa depan siapa yang tau? Bisa jadi sekarang bahagia, bisa jadi juga esok terluka? Tak ada yang tau tentang masa depan.


💕💕💕💕💕


Cerita adek Nara akan othor rilis setelah Bang Rayyan ya?

__ADS_1


PENANTIAN KINARA.


Judulnya aja dulu. Isinya entar ye?? 😄😄


__ADS_2