
Sore hari nya.
Selesai mengajar di pesantren, Maura pamit pada Ummi dan ustadz Mahmud untuk pulang. Mereka membawa motor matic sambil tertawa-tawa Karena tingkah lucu Malda.
Saat melihat rumah makan, tiba-tiba saja perut Maura berbunyi. Ia terkekeh, dengan segera ia membelokkan motor nya menuju rumah makan itu.
Maura dan Mak Sus langsung duduk di rumah makan itu. Perutnya terasa lapar karena terlalu lama mengajar. Mbak Sus ikut saja begitu juga dengan Malda. Gadis kecilnya itu begitu senang diajak jalan-jalan dengan motor matic milik Maura.
Setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Maura mengambil jalan pintas. Jalan pintas penghubung jalan raya dan lokasi perumahan miliknya.
Agak jauh memang. Tapi itu tidak menyurutkan keinginan Maura untuk pulang dari jalan itu. Entah kenapa saat memasuki kawasan yang rawan rampok itu, Mbak Sus ketakutan. Tapi tidak dengan Maura.
Ia sudah tau jalan itu rawan rampok. Dan ia pun sering melewati jalan itu. Dan belum pernah bertemu dengan para perampok yang terkenal kejam dan bengis kepada korban yang tidak mau menyerahkan harta benda mereka.
Maura membawa laju motor matic nya dengan lumayan ngebut. Karena sudah memasuki waktu Maghrib. Mbak Sus semakin gelisah saja kala melihat ada lima motor sedang mengikuti mereka dari belakang.
Mbak Sus ketakutan. ''Bu.. lebih cepat! Kayaknya kita di kejar perampok Bu!!'' serunya dengan suara ketakutan.
Maura terkejut. Ia melihat dari spion motor matic nya. Ia tersenyum smirk. ''Akhirnya kalian keluar juga ya? Ketika aku sendiri, kalian tidak mau keluar! Dan ketika aku berdua dan membawa seorang anak kecil, kalian mengejarku? Baik! Mari kita bermain! Aku ingin lihat setangguh apa kalian! Hingga berani mengganggu seluruh masyarakat yang melewati kawasan ini.'' Gumam Maura masih terdengar oleh Mbak Sus.
__ADS_1
Mbak Sus terkejut. Karena ia tidak habis pikir kenapa majikan nya ini ingin menantang para perampok itu.
Ia semakin erat memeluk tubuh Malda dan Maura. Maura tersenyum tipis. Lima motor itu terus saja mengejar nya.
Mereka saling balapan untuk mendahului siapa yang lebih dulu. Maura Terkekeh saat melihat para perampok itu saling berebut ingin lebih dulu menghampiri nya.
Maura sudah bersiap dengan segala persiapan nya. Ia tersenyum smirk saat melihat salah satu motor perampok itu semakin dekat dengan motornya dan ingin mencegat perjalanan nya.
''Ayo, aku ingin lihat. Sampai dimana kalian ingin mengejarku? Sanggup tidak? Ck! Dasar perampok Abal-abal! Ingin ngerampok kok pakai kereta botot! Motor tua! Ya.. mana kuat lari nya sama seperti punyaku! I am Varrio!! Hihihi...'' Gumam Maura sambil cekikikan sendiri.
Mbak Sus sempat aneh dengan kelakuan Maura, tapi cuma sebentar. Ia memekik ketakutan kala salah satu perampok itu mencolek tubuhnya dengan celurit yang ia bawa.
Maura tidak mendengar kan. Ia semakin sengaja membuat perampok itu marah padanya.
Maura terkikik geli. Ia sengaja mempermainkan perampok itu. Ia ingin membawa perampok itu ke jalan komplek perumahan yang dihuni oleh banyak tentara.
Ia ingin mereka semua di sidang oleh para tentara itu. Sengaja Maura memancing mereka. Karena sudah banyak menimbulkan korban.
Salah satunya istri dari komandan Kevin yang baru saja Maura tau melalui grup WA para istri komandan. Entah kenapa nomor Maura bisa ada di grup itu. Maura pun tidak tau.
__ADS_1
Yang jelas, saat ini ia sengaja menuntun perampok itu untuk menuju ke kediaman mereka semua.
Maura ingin istri para komandan dan juga tentara lainnya yang sudah menjadi korban perampokan itu yang akan menghukum perampok itu.
Maura terkikik geli saat Mbak Sus semakin ketakutan. Sedikit lagi mereka masuk ke jalan pintas masuk komplek perumahan para tentara.
Bodoh nya, perampok itu tidak tau kemana arah jalan Maura membawa mereka. Hingga salah satu dari mereka terkejut karena memasuki gerbang perumahan tentara.
Mereka kalang kabut. Sementara Maura tertawa puas. Ia mendial satu nomor dan langsung saja semua tentara berhamburan keluar dari persembunyian mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
''Bu Maura!!''
Deg!
__ADS_1