
Mak Alisa mengajak Ali untuk sarapan bersama di ruang tivi. Karena mereka Tian pada waktu sarapan pagi.
''Ayo, Nak. Duduk, kita makan bersama. Tadi kami aku makan, tapi tak jadi karena mendengar suara Lana.'' ucap Mak Alisa dengan senyum lembutnya.
''Iya, Mak. Wuih .. enak nih! Semur ayam euuuyyy!'' celutuk Ali begitu semangat. Ia duduk tepat di sebelah Nara.
Nara yang melihat itu tersenyum tipis. Sedari pertama melihat Ali, gadis kecil itu terus saja mencuri-curi pandang padanya.
Ali tau itu. Tapi ia pura-pura tidak melihatnya. Ia pun ikut curi-curi pandang menatap Nara. Gadis cantik berparas ayu, sangat mirip dengan Annisa.
Sedangkan saudara kembar nya, Algi. Mirip dengan Mak Alisa. Sangat mirip. Ali terharu melihat keluarga Lana begitu menghormati dan menghargai nya sebagai tamu.
''Ayo, Nak dimakan!'' tegur Mak Alisa
''Iya, Mak!'' sahut Ali.
Dengan segera ia mengambil piring, dan sendok nasi untuk menyiduknya ke dalam piring.
Tapi hal yang tidak di duga ialah, Nara pun mengambil juga sendok yang sama. Jadilah sepasang tangan itu saling bersentuhan.
Sssrrrtttt..
Seperti ada aliran listrik tegangan tinggi ketika tangan mereka berdua bersentuhan.
__ADS_1
Tring!
Suara sendok nasi jatuh ke mangkuk kaca yang berisi nasi. Semua orang tau ada disana terkejut.
Mereka semua menatap Ali dan Nara bersamaan. ''Dek??'' panggil Mak Alisa.
''Hah? I-iya Mi! Adek nggak sengaja tadi. Hehehe.. maaf adek lagi melamun.'' jawabnya membuat Mak Alisa tersenyum.
Begitu juga dengan Algi dan Rayyan. Mereka berdua mencubit sang adik dengan mencebik kan bibir mereka.
Tapi tidak dengan Papi Gilang. Ia menatap Ali dan Nara bergantian. Ada yang aneh pikirnya. Tapi entah apa.
''Kenapa aku melihat sekilas mereka berdua mirip ya?'' gumam Papi Gilang tapi terdengar oleh Mak Alisa.
Ia menyikut lengan Papi Gilang dan tersenyum manis tapi mata itu mendelik pada nya. Papi Gilang terkekeh.
Plaakk.
''Allahu! Sakit sayang! Isshh.. kamu kok sering banget sih mukulin aku?? Dosa loh..''
''Biarin! Tuwir-tuwir gini, kamu nggak pernah jauh dari aku! hem!'' cebik Mak Alisa kesal.
''Kalau masalah itu jangan di tanya. Sehari tanpa kamu rasanya hidupku sunyi seketika!'' ucap Papi Gilang puitis.
__ADS_1
Mak Alisa hanya mencebik saja. Papi Gilang terkekeh. ''Jsngan marah atuh sayang.. Papi itu cintanya sama Mami! Nggak ada yang lain! Beneran!''
''Heleh! Gombal!''
''Beneran sayang.. tuh buktinya! Anggota kita udah ada dua! Apa namanya kalau bukan cinta?''
''Hilih, cinta-cinta! Tanpa cinta, tuh Rayyan kok bisa ada?!''
Papi Gilang terkekeh lagi, ''Itu beda cerita sayang! Rayyan itu bonus untuk hubungan kita! Karena dialah kita bisa bersatu! hem?'' goda Papi Gilang dengan menaikkan turunkan alisnya.
Mak Alisa melengos. Ali tertawa melihat Mak Alisa dan Papi Gilang begitu kompak dan sangat kocak menurutnya.
''Abang mau yang mana? Biar adek ambilkan?'' tanya Nara pada Ali.
''Eh? Nggak usah Dek! Abang ambil sendiri ya?'' sahutnya dengan tersenyum lembut pada Nara.
''Tak apa Bang! Dari pada kayak tadi? Adek ambil aja ya?'' paksa Nara lagi.
''Iyakan saja nak.. mumpung Nara lagi mau itu? Biasanya mah Papi suruh aja kamu nggak mau?'' goda Papi Gilang sambil menyuapkan nasi ke mulut nya.
Nara mencebik kesal. ''Malas! Papi kan selalu ada Mami? Walaupun ada kami dirumah, Papi tetap cari Mami! Papi itukan cinta Mati sama Mami ??'' ledek Nara namun terkesan malas.
Papi Gilang tergelak kuat. Ia sangat suka menggoda putri bungsunya itu. Melihat nya sepeti melihat Annisa.
__ADS_1
Kakak Nara yang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Adrian Pratama.
Ali terkekeh kecil melihat keseruan dirumah Lana ini. Ia semakin bertekad dalam hati agar bisa masuk dalam keluarga besar Bhaskara.