Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Terpecah


__ADS_3

''Abi...''


''Pergilah! Aku tidak butuh manusia egois seperti kalian bertiga! Hanya mementingkan diri sendiri dari pada orang lain! Orang yang sudah kalian lukai sampai saat ini masih merasakan sakit dihatinya? Kalian? Kalian berbahagia di atas penderitaan nya! Selamat! Selamat buat kalian bertiga yang telah berhasil menghancurkan kehidupan putriku! Pergi! Aku tidak butuh keluarga seperti kalian disini! Dan kau Aini! Bukankah aku sudah menceraikan mu dua tahun yang lalu? Dan bukankah saat ini kamu sudah dilamar oleh Paman menantu kesayangan mu?''


Deg!


Deg!


''Apa?!'' pekik Faiz dan Faizah.


Mereka berdua begitu terkejut mendengar kabar ini. Selama hampir tiga tahun kuliah di Kairo, tidak sekalipun kedua orang tuanya mengatakan hal ini kepada mereka.


''Abi...'' lirih Almira lagi dengan leher tercekat


''Kenapa? Kau ingin mengatakan kepadaku, jika kejadian dua tahun yang lalu, cukup sampai disana saja? Lalu bagaimana dengan Maura? Apakah kau bisa mengganti kan waktu Maura yang terbuang akibat perlakuan mu dan juga suami tercinta mu itu?''


Deg!


Lagi, Faiz dan Faizah semakin terkejut mendengar ucapan Abi Madan. ''Tunggu dulu Abi! Ini ada apa sih?! Kenapa kalian semua bersitegang di depan pintu! Ayo masuk ummi, kak Almira! Bawa serta siapa ini?'' kata Faizah

__ADS_1


Maura tersenyum kecut, ''Anak dan suaminya, Faizah. Apalagi yang harus dia jelaskan sekarang? Dia sudah bahagia dengan kehidupan nya! Sedangkan aku? Aku harus terjebak selama dua tahun di Bandung, dan terjebak dipaksa untuk menikah dengan seorang pemuda yang bahkan tidak aku inginkan! Semua itu karena mereka berdua!''


Deg!


Mata Faizah membola sempurna mendengar ucapan Maura. ''Apa?! Jadi pernikahan yang dulu diselenggarakan itu Kak Almira yang menikah? Bukan kak Maura?! Tapi kenapa?! Aku belum paham nih, ini ada apa sebenarnya?! Selama dua tahun ini, kabar ummi dan kak Almira hilang bagai ditelan bumi! Setiap kali aku bertanya, Abi pasti mengelak! Maksudnya apa ini?! Ada yang bisa jelaskan?!'' seru Faizah dengan suara naik satu oktaf.


Faiz terdiam mendengar suara Kakaknya berdenging seperti itu. Ummi Aini semakin merasa bersalah kepada Maura.


''Bolehkah kami masuk? Agar kami bisa menjelaskan yang sebenarnya!'' tegas Alif


Muara tertawa, ''Siapa kamu yang ingin menjelaskan di sini? Kamu tak punya hak apapun dirumah ini! Kamu hanya seorang menantu yang tidak bisa tegas dalam setiap situasi! Bisa-bisanya kamu mau menikah dengan ku, tapi batal Karena aku pingsan! Dan setelah semuanya kacau, kau bersedia menikah dengan istrimu? Itu yang ingin kau jelaskan saudara Alif???''


Deg!


''Dek...''


''Apa?! Ingin pembelaan apa?! Ingin bilang jika ini sudah menjadi suratan takdir? Begitu?! Aku harus ikhlas?! Ya, aku ikhals! Aku ikhlas Karena terpaksa menerima keputusan takdir yang kalian buat untukku!''


Ddduuaaarrr...

__ADS_1


Almira oleng ke samping. Dengan sigap, Alif memegang tubuhnya. ''Cih! saking cintanya, malah aku yang jadi korban! Menerima lamaran karena terpaksa, menikah pun karena dipaksa, kemudian ketika calon suamiku yang sesungguhnya datang, aku pingsan. Dan disaat itulah kalian bertindak! Bahkan yang lebih parah lagi, kalian bisa bercinta disaat kehidupan ku diantara hidup dan mati! Jijik aku melihat kalian berdua! Pergi! Aku tidak ingin melihat kalian berdua! Melihat kalian berdua membuat luka lama terbuka kembali, melihat kalian berdua, seperti aku berada dimasa lalu! Pergi!'' usir Maura.


Ia menatap dingin pada ke empat orang yang berdiri di depan pintu rumah Abi Madan. ''Nak.. biarkan kami masuk dulu. Ummi ingin mengatakan sesuatu pada mu-,''


''Ya, hallo assalamualaikum, Bang Lana! Kerumah ya? Ada yang perlu adek bicarakan. Ada keluarga adek disini sekarang. Ya, bawa putriku juga! Ya, ya.. ishhh.. cepetan! Keburu adek usir nih orangnya!'' ketus Maura pada Lana di seberang telepon.


Saat tadi melihat gelagat ummi Aini ingin bicara, Maura langsung saja merogoh ponselnya dan mendial nomor Lana.


''Oh, oke. Adek tunggu! Waalaikum salam..'' ucap Maura pada sambungan telepon yang sudah terputus.


Maya menatap datar pada Ummi ketiga orang itu. ''Masuk! Tunggu sampai calon suamiku datang kesini. Baru semua ini dibahas!'' imbuh Maura dengan segera berlalu masuk ke kamar nya yang berada di lantai atas.


Faizah menoleh pada ummi Aini. ''Masuk ummi. Ayo, Kak. Bang! Mari masuk. Kita tunggu Bang Lana ya? Kakak siapin minum dulu buat kalian. Faiz, temani ummi disini. Walau bagaimana pun rumah ini masihlah ummi. Ayo ummi!''


''Tidak sebelum Abi mengucapkan kata talak untuknya Faizah. Mulai hari itu, rumah ini bukanlah rumahnya lagi. Begitu juga dengan saudaramu! Yang telah tega memecah belah keluarga kita. Yang disetujui oleh ummi kamu! Keluarga kita sudah terpecah sedari dulu, tapi Abi selalu bersabar. Karena Abi tau, sabar itu tiada batasnya. Pergilah, kamu juga harus mandi, sebelum Lana datang kesini. Bersiap lah, karena mungkin setelah ini kamu tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka. Kamu tau 'kan seperti apa Kakak mu, Maura??''


Deg!


Deg!

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Bulan baru, baru othor update nya rutin. Sabar ye?


__ADS_2