
Sementara di Medan Nara yang sedang makan bekal bawaannya, tiba-tiba saja tersedak hingga ia menyenggol gelas kantin dan pecah berderai.
"Uhuuk.. Uhuuk.. Uhukk.. Ya Allah Abaangg!!.. Uhuuukk..." seru nya sambil terus terbatuk-batuk.
Pyaarrrr..
Surara pecahan kaca jatuh ke lantai membuat stensi seluruh mahasiswa kampus terkejut karena pecahan kaca akibat tersenggol tangan Nara yang begitu cepat.
"Adek!!" Seru Algi saat melihat Nara terbatuk-batuk hingga wajah nya memerah.
"Kamu kenapa Dek? Kok bisa tersedak kayak gini? Ada apa? Kenapa tadi kamu memanggil Abang?" tanya Algi masih mencoba mengusap tubuh belakang Nara dengan lembut.
"Uhuuuk.. Uhuukk.. Ehemm.. Uhuukk... Itu tsdi, adek dengar kalau Bang Ali memanggil adek begitu kuat, makanya adek tersedak." Jelas Nara masih denagn sesekali terbatuk.
Sedang Algi tertegun. "Kok bisa sama kayak Abang ya? Abang pun tadi mendengar suara Bang Lana memanggil nama mu begitu lirih. Seakan ia sedang menangis saat ini. Kok bisa bersamaan ya? Ada apa ya Dek?" ucap Algi pada Nara yang membuat Nara tertegun juga dengan ucapan Abang kembaran nya itu.
Sementara Lana duduk tepekur ditanah yang basah karena saat ini cuaca nya sedang mendung. Semendung hati Lana yang sedang terluka karena Ali terjatuh kedasar jurang.
Jurang itu terhubung dengan laut. Jika pun Ali jatuh di tepian, sama saja. Ali tetap akan jatuh ke laut lepas.
__ADS_1
"Haaaa... Aliiii.. Hiks.. Aliiii... Abang bilang apa sama Nara?? Inikah yang menjadi ketakutan mu dulu saat kita kembali kesini? hiks..Naraaaa.. Abang harus apa Dek?? Suami kamu jatuh kejurang! Sudah dua jam mereka belum kembali dari bawah sana! HIks.. Aliiii..." lirihnya begitu menyayat hati.
Sementara Fatir pun ikut menangis sambil turun pelan-pelan menuruni tebing bersama para prajurit lainnya. "Hiks.. Bang Aliiii!!!" panggil Fatir dari atas.
Sambil menuruni tali itu secara perlahan, Fatir terus mencari dan memanggil nama Ali. Ia tiba didasar jurang dengan ke sepuluh temannya yang lain.
Lagi dan Lagi Fatir berseru memanggil nama Ali. Namun yang dicari tetap tidak terlihat batang hidungnya.
Satu haru suntuk mereka mencari Ali. Hingga malam hari nya di bawah jurang itu begitu terang karena pencahayaan dari lampu yang dibawa para petugas damkar yang di panggil khusus untuk mencari Ali.
Namun, hingga malam harinya Ali tetap sja tidak di temukan. Terpaksa semua itu menghentikan pencarian itu. Mereka kan lanjut mencari keesokan harinya.
Lana sudah seperti raga tanpa nyawa. Ia mengingat Nara yang jauh disana. Apa yang akan terjadi jika jasad Ali tidak di temukan?? Lana duduk tepekur seorang diri disana.
"Abang!"
"Hiks. Ali pergi Tir. Tadi pagi ia pamit sama Abang. Katanya hari ini adalah hari terakhir ia bertugas. Ia ingin pulang ke Medan menemui istrinya. Adek Abang, Tir! Abang harus bilang apa sama Nara tentang suaminya?? Hiks.. Ali... Kalau tau begini, Abang melarangnya untuk ikut tugas ini! Hiks.. Abang menyesal Tir. Abang sangat menyesal.. Haaaa.. aaaa.. Naraaaa.. Abang harus bilang apa sama Nara??? Haaaaaa.. Maakk.. Papiiii.. Hik.. Hiks.. Hiks.. Aliii..." lirih Lana begitu pilu.
Semua yang mendengar isak tangis Lana pun ikut menagis. Mereka semua duduk di samping Lana dengan merangkul tubuh Lana dari samping. Mereka menangis bersama.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Lana sudah bersiap, hari ini ia sendiri yang akan turun ke bawah untuk mencari Ali. Dan ya, saat ini Lana sudah berada didasar jurang yang terhubung langsung dengan laut lepas.
Sehabis subuh, Lana sudah turun sendiri ke bawah untuk mencari keberadan Ali. Namun, hingga senja menjelang keberadaan Ali tetap tidak di temukan.
Lana jatuh terduduk di tepi jurang tempat Ali terjatuh. Lana tau jejak itu adalah jejak tubuh Ali yang jatuh berguling-guling hingga bajunya tersangkut di ranting berduri itu.
Tubuh Lana bergetar saat mengenali seonggok kain yang terkoyak di dahan yang yang kini Lana duduki. Tidak jauh dari tempat Lana berada, Fatir juga menemukan jam tangan Lana beserta kotak kecil berwarna biru dongker disana.
"Aku menemukannya!" pekik Fatir begitu girang saat mengangakat tinggi-tinggi kotak beludru milik Ali beserta jam tangan miliknya. Lana yang terkejut mendengar suara seruan Fatir, langsung berlari mendekati bawahan nya itu.
Lana mendekati tempat Fatir menemukan jam serta sebuah kotak punya Ali. Lana melihat dahan kayu itu patah. Kemungkinan besar, sebelum Ali jatuh ia sempat bertahan di dahan kayu iyu.
Namun, karena tidak kuat menahan bobot tubuh Ali, maka nya patah. Dan Ali ikut terseret hingga jatuh ke jurang berujung ke dalam laut lepas.
Lagi dan Lagi LAna jatuh terduduk. Ia sudah bisa menebak jika Ali sudh jatuh kelaut dan dibawa arus laut mulai dari kemarin malam. Arus laut yang begitu kencang, tidak menutup kemungkinan jika tubuh Ali masih berada disana.
Ali saat ini pasti sudah terseret ke laut lepas. Lagi, Lana meraung memanggil nama Ali. "Tidaaaaakkkk... Aliiiii....."
__ADS_1
Deg!
Deg!