Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Obat untuk Maura


__ADS_3

Abi Madan mendengar kan semua kemarahan Maura yang ia lampiaskan pada orang yang sangat ia sayangi.


Maura pergi kesisi kiri ruangan itu, sedangkan Abi Madan berdiri di sisi kanan ruangan itu. Ia menatap datar pada kedua orang yang tertegun karena ucapan Maura baru saja.


Abi Madan melangkahkan kakinya untuk menemui dua orang itu. Ia menatap putri sulungnya dengan mata mengembun.


Terlihat sekali jika Almira saat ini ia sedang hamil. Cucu pertama keluarga Madan Al Farisi.


Ingin merangkulnya dengan senyum manis, tapi teringat akan Putri keduanya yang tersakiti akibat mereka bertiga, membuat nya lagi, dan lagi mengurungkan niatnya.


''Sudah puas? Sudah puas membuat putriku terluka untuk kesekian kalinya? Sudah ku katakan berulang kali pada kalian! Bahwa aku tidak merestui pernikahan kalian berdua selagi putriku belum bisa memaafkan kalian berdua!''


Deg!


''Abi...'' ucap mereka bersamaan sambil menoleh pada Abi Madan.


''Jangan temui putriku hanya untuk menunjukkan bukti dan status mu saat ini Alimira Putri Kartika! Karena kedatangan mu sama saja dengan membuka luka baru untuknya! Kamu tidak bisa menjadi obat untuknya, paling tidak jangan lukai hatinya untuk kedua kalinya. Hanya Maulana yang bisa. Kamu tau kenapa Maura bertahan disaat ia begitu terluka oleh mu dan suami mu?'' tanya Abi Madan pada Almira masih dengan wajah datarnya.

__ADS_1


''Abi..''


''Itu karena Maulana! Maulana lah yang jadi penyemangat untuknya disaat ia sedang terluka! Hanya Maulana obat untuk Maura. Aku sudah mendatangi rumah Alisa untuk meminta maaf dengan apa yang terjadi kepada putriku dan juga putranya. Tapi apakah kau sudah mendatangi nya untuk meminta maaf pada wanita yang telah melahirkan Maulana itu??''


Deg!


''I-itu .. A-aku...''


''Tidak usah kau menyahuti ucapan ku Almira! Aku sudah tau jawabannya tanpa kau katakan kepadaku. Sejauh yang kulihat, kau dan suami mu begitu bahagia saat ini. Dengan perut membuncit pastilah keluarga suami mu sangat senang sekarang! Selamat! Selamat untukmu! Berbahagialah kamu karena kamu sedang mengandung! Tapi sayang, kau bahagia di atas penderitaan orang lain karena perbuatan mu! Ingatlah ini Alimira Putri Kartika. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai nantinya!''


Almira membeku di tempat saat mendengar ucapan Abi Madan. Begitu juga dengan Alif. Ternyata... kehadiran mereka tetaplah tidak di inginkan oleh Abi Madan.


Abi Madan berlalu meninggalkan sepasang pengantin baru yang duduk karena termenung mendengar ucapan Abi Madan baru saja.


Untuk kesekian kalinya, Almira melakukan hal yang sama. ''Hiks.. padahal tujuan kita kesini murni untuk meminta maaf padanya. Tapi kenapa Abi selalu menuduhku seperti itu?''


Abi Madan yang belum jauh berjalan, kembali mendengar ucapan Almira. Ia mengepalkan tangannya, ''Karena memang kau lah penyebab dari semua ini. Jangan pernah lupakan sepuluh tahun yang lalu kau pernah melakukan apa pada Maura, Almira! kau tega mendorong nya hingga terjatuh dengan pelipis berdarah. Ia hampir meregang nyawa oleh ulah mu yang sengaja meninggalkan nya begitu saja!''

__ADS_1


''Aku belum lupa tentang kejadian itu Almira. Kau! sengaja mendorong adikmu karena cemburu pada Maulana yang lebih memilihnya di bandingkan dengan dirimu! Ternyata pilihan Maulana tepat. Jika seandainya ia memilihmu, pastilah sekarang ini ia terluka karena kelakuan mu itu. Bisa saja kau cemburu dan menginginkan Alif menjadi suami mu, sementara kau sudah menikah dengan Maulana?''


Deg!


''Kau tidak pernah berubah Almira! Kau tidak pernah berubah. Sekarang aku baru paham, kenapa selalu Maura menutupi kelakuanmu kepadaku! Dan hari ini terbukti, apa yang pernah Maura katakan dulu padaku memang benar adanya. Apa yang menjadi milik Maura, kau juga ingin memiliki nya! Sungguh tega kau Almira! Aku kecewa memiliki putri seperti mu! Sangat malu!''


Almira terhenyak mendengar perkataan Abi Madan. Ia jatuh terduduk, padahal ia sudah berdiri dari kursinya ingin mendekati Abi Madan.


Namun karena ucapan Abi Madan baru saja membuat nya tidak tau harus berkata apa lagi sekarang.


''Abi...'' lirih Almira dengan bibir bergetar. Ia menatap nanar pada Abi Madan yang berlalu meninggalkan nya tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sementara Alif benar-benar shock mendapati kenyataan jika Almira pernah mendorong Maura karena cemburu hingga hampir saja membuat Maura tiada akibat perbuatannya itu.


Alif menatap sendu pada istrinya. Sedangkan Almira, wajah itu datar. Tatapan nya kosong. Sangat kosong. Bahkan ketika Alif menyentuh tangannya pun ia tidak sadar.


Almira hidup namun tanpa nyawa.

__ADS_1


__ADS_2