Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Bahagia bersama mu


__ADS_3

POV Lana


Hari ini aku begitu bahagia begitu mendapati istri tercinta ku sedang berdiri mematung saat aku baru saja pulang dari bertugas. Ali sudah melangkah lebih dulu menuju kerumah nya.


Aku terkekeh melihat tingkah Ali yang begitu bersemangat dalam memberi kejutan untuk adek kecilku. Kinara. Adek kecil yang sedari dulu begitu ku jaga, kini sudah menjadi istri orang.


Dulu, Mak pernah bilang. Kalau aku tidak boleh menikah selagi Nara belum menikah. Rasanya dunia ku hancur seketika ketika mendengar ucapan Mak untukku. Aku tidak marah sama Mak.


Hanya saja.. ucapannya itu seperti melarang ku menikah sebelum Nara menikah. Dan juga semua itu terjadi karena ulahku. Gara-gara aku, Kinara sampai jatuh dari motor saat aku membawanya pergi ngabuburit saat puasa dulu.


Aku tak sengaja melindas lubang, hingga mengakibatkan Nara terjatuh dan pingsan seketika. Padahal saat itu, Kinara sedang asyik-asyiknya bergurau denganku. Umurnya waktu itu masih tujuh tahun.


Baru kelas dua SD. Jangan terkejut kenapa umur tujuh tahun Nara sudah kelas dua SD. Semua itu karena otak adik kecilku itu begitu pintar dalam hal pelajaran sekolah maupun menghafal Al-Qur'an. Mak dan Papi bangga sekali padanya.


Tapi aku tidak cemburu dengan adikku. Aku akui, dia terlahir dari orang yang begitu hebat. Sempat insicure dengan diri sendiri, tapi semua itu terpatahkan karena adik kecilku itu begitu menyayangi ku. Bahkan ia rela merajuk sama Mak, karena Mak telah menghukum ku yang telah membuat nya terjatuh dari motor.


Kinara sampai mogok ngomong sama Mak gegara aku di hukum tidak diberikan uang jajan sepeser pun. Beruntung sekali aku memiliki adik kecil sepertinya.


Dan yang lebih beruntung lagi, Algi juga ikut mogok ngomong sama Mak. Hahaha.. aku ingin tertawa mengingat hal itu. Mereka berdua begitu menyayangiku.


Maka dari itu, aku selalu menomor satukan mereka berdua daripada diriku. Aku masih terngiang dengan ucapan Mak. Bahkan Papi sampai memarahi Mak gegara ucapan Mak yang begitu menyakiti ku.


Papi pergi dari rumah karena kesal sama Mak yang sangat keras kepala karena memarahi ku akibat kecelakaan itu. Hubungan Mak dan Papi sempat renggang karena ulah Mak.


Tapi aku bersyukur. Dengan kejadian itu, aku bisa lebih baik lagi mengajar Adek. Aku pun berjanji sebelum aku pergi bertugas bahwa aku akan menikah saat Nara memilki pasangan hidupnya. Kami akan menikah di hati yang sama nantinya.


Alhamdulillah nya. Allah mengabulkan doaku yang selalu ku pinta di setiap malamnya. Allah mengirimkan Ali kepadaku. Dan baru aku tau, jika mereka berdua memang sudah terhubung melalui diriku.


Hahaha... permainan takdir!

__ADS_1


Ya, permainan takdir untuk kehidupan kami berdua. Saat ini aku sedang duduk bersama istriku. Sedari tadi, ia terus terisak di sebelah ku. Ia tidak bisa memeluk ku, karena tiga bocah rusuh ini sekarang berada di pangkuanku.


Maura cemberut saat melihat ketiga anakku memonopoli diri ku yang baru saja pulang. Bahkan sampai saat ini, aku belum lagi mandi. Hahaha... ketiga anakku ini memang begitu rusuh!


''Abang...'' rengek Maura sambil merengut.


Aku tertawa. ''Ada apa sayang?'' tanyaku padanya.


Ia merengut lagi. Dan aku pun tertawa lagi. Belum lagi kelakuan kedua bocah rusuh ku ini. Malik memanjati diriku, sedang Zia menepuk pipiku. Malda di belakang pun ikut membantu Malik yang sedang menguasai diriku.


''Aduhh.. adek? Udah ih! Kasihan Papi! Papi baru pulang loh ..'' kata si sulung ku.


Aku tersenyum melihat nya. ''Tak apa sayang. Papi senang jika kalian masih bisa mengenali papi,'' kataku padanya.


Malda tersenyum begitu manis, hingga gigi putihnya terlihat. Aku terkekeh. ''Mami bilang, kami harus selalu ingat sama Papi. Dimana pun kami berada. Mami sering menunjukkan foto Papi dan Mami sama adek. Dan juga ketika ngobrol di telepon adek selalu saja rusuh!'' ceritanya sambil merengut melihat kedua adiknya yang sudah berusia belum genap sembilan bulan.


Aku melihat Maura yang kini tengah menyusui Zia. Waduh! Itu buah melon menggoda bener ya? Hehehe.. maklum. Udah lama puasa akunya. Terakhir meninggalkan Maura saat ia dalam keadaan hamil satu bulan yang aku tidak tau.


Maura menatap ku sekilas sebelum ia membawa keluar Zia menuju ke kamar mereka berdua yang sudah aku siapkan dulu sebelum pergi.


Tak lama setelah nya Maura masuk lagi dan membawa Malik. Di ikuti oleh Malda yang juga ingin keluar. Aku paham apa maksud Maura.


Aku menghela nafas lega saat merasakan sesuatu yang sedari tadi ingin meronta itu akhirnya tertidur kembali. Aku menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang begitu terasa panas dan berkeringat.


Cukup lima belas menit saja aku sudah selesai mandi. Aku keluar setelah melilitkan handuk di pinggang ku. Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku sudah mendapati Maura yang sedang mengambil baju dan mendekati diriku.


Wajah ayu itu begitu sayu. Seperti kurang tidur. Aku tidak mendekati nya namun, beralih menuju pintu. Ia tercenung. Aku terkekeh. Ku putar kunci kamar kami hingga berbunyi Cetak.


Maura terkejut lagi tapi itu hanya sebentar. Ia mendekati ku sambil menunduk. Pipi itu merah merona. Aku suka sekali melihatnya seperti ini.

__ADS_1


''Bisa kita mulai?'' tanya ku langsung to the point.


Ia mengangguk dengan malu-malu. Aku segera menggendong nya menuju tempat pembaringan kami. Tempat dimana aku mencetak generasi penerus ku. Dan hari ini, aku ingin mencetak generasi penerus ku yang berikutnya.


Aku sangat puas dengan pelayanan dirinya terhadap ku. Aku suka itu. Ia semakin banyak tahu setelah sekian lama aku meninggalkan nya. Kami berbagi rasa rindu, cinta dan gelora yang sama.


Inilah yang aku inginkan sedari tadi. Tapi tidak bisa karena selalu di ganggu oleh si biang rusuh ku. Ck. ck. ck. Memang benar-benar keturunan ku!


Hahahaha...


''Terimakasih sayang. Abang bahagia bisa hidup bersama mu. Kamu satu untuk selamanya. Semoga akan tumbuh penerus Abang yang berikutnya disini,'' kataku padanya saat kami sudah selesai berbagi kasih dan peluh bersama. Aku mengelus perut ratanya yang masih polos.


Plakk..


''Auuuchh.. kok di pukul sih?'' tanya ku padanya.


Aku mengusap lenganku dengan segera untuk mengurangi rasa panas di tangan itu akibat pukulan dari tangan halus miliknya. Ia mencebik, aku terkekeh.


''Yang ada aja belum selesai nyusu! mau nambah lagi?!'' ketusnya padaku.


Aku tertawa. Sangat suka melihatnya marah dan sewot seperti itu. Inilah dia Maura ku. ''Kan benar Yang Abang bilang. Bakalan tambah rame keluarga kita! Abang mau empat lagi. Keturunan Abang itu harus rame. Asik kalau rame. Apalagi ada tiga orang lelaki tiga orang perempuan. Beuuh.. Abang bisa ngajak mereka gelut bersama.'' Ucap ku padanya hingga dihadiahi cubitan tuan krab yang begitu menyiksa pinggangku.


Maura mencebik. ''Nggak mau! Abang berhenti dari tugas, baru kita lanjut lagi buat penerusmu!'' katanya padaku. Aku tertawa. ''Tentu. Tapi... jika yang ini ada lagi, kamu tidak marah kan?'' godaku pada nya.


Ia menggeleng dan tersenyum dalam pelukan ku. ''Nggak akan. Adek pun mau punya anggota rame. Biar bisa ada yang di ajak berantem dirumah ini.'' celutuknya hingga membuatku benar-benar tertawa.


Aku bahagia. Sangat bahagia bisa menikah dengannya. Cinta monyet berubah menjadi cinta dimasa depan. Aku tak menyangka keusilan ku pada Maura berlanjut hingga kami dewasa. Walau umurku terpaut dua tahun darinya.


Tapi ia tetap bisa mengimbangi diriku yang sudah tua ini. Ck. Sudah tua tapi masih perkasa! Hehehe..

__ADS_1


POV end.


__ADS_2