
Setelah dokter keluar beserta perawatnya, masuklah Papi Gilang, Ali, dan Rayyan. Mereka bertiga mendekati bangkar Maura.
TerlihatMaura begitu damai dalam tidurnya. "Sudah selesai kah?" tanya Papi Gilang
Lana mengangguk. " Sudah Pi. Sebaiknya kalian semua pulang ya? Malam semakin larut. Jangan buat Mak dan yang lainnya panik. Besok saja mengatakan ini sama Mak. Pulanglah." katanya pada padamereka bertiga.
Papi Gilang menghela nafasnya. "Baiklah. Kabari kami jika terjadi sesuatu pada Maura. Kami pulang. Istirahatlah!" imbuh Papi Gilang
Sebelum pergi, ia mengusap bahu sang putra untuk menyemangatinya. Lana tersenyun menanggapi elusan tangan Papi Gilang.
"Kami pulang Bang. Besok, kami kembali lagi kesini untuk mengantarkan perlengkapan Abang sama Kak Maura. Ayo Pi, Bang Ali! Orang rumah pasti sedang menunggu kita saat ini. Assalamualaikum.."
"Waalaikum saam.. Hati-hati. Ambil jalan lain sajauntuk pulang. Jangan jalan itu lagi." Sahut Lana dengan memperingatkan mereka semua.
Papi Gilang, Rayyan, Ali mengangguk bersama. Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Lana bersama Maura yang harus menginap selama satu malam disana untuk melihat perkembamngan dari tangan Maura yang tertembak.
Lana menatap sendu sang istri. Ia mendekati Maura yang sedang tidur dengan terlelap. "Maafkan Abang sayang.. Cup!" Lana mngecup kening Maura yang tertutup hijab instan yang baru saja Lana beli melalui Rayyan.
Puas dengan memandangi Maura, Lana masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan baju kaos dan juga kain sarung yang dibeli Rayyan tadi.
Selesai dengan ritual mandinya, Lana berdiri di tepi bangkar Maura. Ia jadi bingung karena sajadah untuk sholat tidak ada disana.
Dengan terpaksa Lana membentang kain bersih yang ia ambil dari nakas di ruangan itu. Setelahnya, ia mulai melaksanakn sholat isya yang tertunda dan disambung dengan sholat tahajud.
__ADS_1
Selesai denga sholat malamnya, Lana mendekati bangkar Maura dan menaiki bangkar itu.
Ia berbaring dengan memeluk tubuh Maura. Merasakan ada pergerakan dan ada yang memeluk tubuhnya, Maura tersenyum.
Ia pun memeluk tubuh Lana dengan erat. Lana terkekeh. "Bahkan dalam tidur pun kamu tau jika ini adalah Abang, hem?" bisik Lana di telinga Maura.
Maura terkekeh, ia semakin erat memeluk tubuh tegap Lana. Tubuh yangsedari kecil selalu usil padanya.
Tiap kali mendapatkan masalah, pastilah selalu Maura yang menjadi tempat berlindungnya. Melindungi dirinya dari amukan Mak Alisa.
Maura semakin erat memeluk tubuh Lana. Searusnya malam ini mereka berdua sedang memadukasih. Tetapi karena kejadian yang baru saja menimpa mereka berdua, otomatis semua iu tertunda.
Mereka berdua terlelap setelah merasakan hangat dari tubuh keduanya yang tidur saling berpelukan.
Keesokan paginya.
"Sudah pagikah?" gumam Lana dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia menggerakkan tubuhnya perlahan dan meraih ponsel milik Maura yang masih ada daya walau sedikit.
"Jam tujuh tiga puluh? Astagfirullah! Sholat subuhku kesiangan!" serunya dengan sura terdengar panik.
Maura masih saja terlelap dengan damai. Lana melihat sebentar pada Maura. Sang istri masih begitu terlelep di dalam tidurnya. Lana tersenyum.
__ADS_1
"Sangat nyenyak ya tidurmu sayang, Abang sholat subuh yang sudah kesiangan sebentar ya? Cup." Lana mengecup kening Maura lagi.
Sudah menjadi kebiasannya setelah ijab tadi pagi. Lana turun perlahan dari bangkar Maura. Ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri baru setelah nya ia melaksanakan sholat subuh yang sudah kesiangan.
Selesai sholat, Lana membuka kain jendela yang tertutup rapat.
Sreeekkk..
"Ehmm.. Silau Abang.. Tutup lagi ih!" Ucap Maura dengan bibir mengerucut sebal.
Lana tetawa. "Bangun sayang.. Kamu ketinggalan dua loh. Sholatnya?"
Maura berdecak. "Ck! Abang gimana sih? 'Kan tangan adek kotor, nggak bersih! Gimana mau sholatnya coba?" sungut Maura kesal pada Lana.
Lana tertawa. "Iya deh iya.. Hemm.. Seharus nya ya, kit sedang dirumah kita saat ini. Tapi karena kejadian semalam terpaksa deh kamu dirawat dulu disini untuk dua hari saja." imbuh Lana dengan sedikit kekehan kecil di bibirnya.
Maura pun ikut terkekeh. "Hooh, malam pertama kita bermalam di rumah sakit. Tapi tak apa Bang. Dimana pun kita berada, asalkan berdua sama Abang itu sudah cukup untukku," imbuh Maura dengan tersenyum manis pada Lana.
Lana pun tersenyum padanya.
Benar sekalI seperti kata Maura tadi. Seharusnya mereka istirahat dirumah mereka sendiri. Tapi karena kejadian yang tidak mengenakkan, akhirnya mereka terpaksa menginap dirumah sakit.
Lana tidak masalah dengan hal itu. Yang penting mereka selalu berdua dimana pun mereka berada. Karena itulah keinginan mereka berdua sebelum mereka di ikat dalam janji di depan penghulu.
__ADS_1
💕💕💕💕
Besok lagi ye? 😁