Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Saling introspeksi diri


__ADS_3

"Abang memaafkan mu sayang, Abang pun minta maaf karena perkataan Abang tadi menyakiti perasaan mu. Maafkan Abang sayang.. maksud Abang baik, tapi maaf. Abang kesal dengan komandan Kevin yang mengatai dirimu sok jagoan!''


Deg!


''Apa?!'' seru Maura dengan wajah terkejut.


Lana mengangguk, "Ya, Komandan kevin mendapatkan telepon dari istrinya. Ia mengatakan bahwa kalau kamu itu sangat sok kejagoan! Kamu kepintaran! Berani-beraninya kamu menghadang perampok itu tanpa persiapan apapun. Dan juga kamu sok pintar dalm menujukkan bakatmu kepada seluruh istri tentra di komplek ini! Abang panas mendengarnya! Abang nggak suka dia mengatai istri Abang seperti itu! Abang kesal sayang, Abang kesal!" Ucap Lana begitu kesal.


Rahangnya mengeras saat mengingat perkataan komandan kevin tadi sore. Ia yang baru saja bertemu dengan jendral, malah dihadang dan di hina sedemikian rupa dihadapan seluruh para prajurit yang lain.


Siapa yang tidak kesal jika istri sendiri dihina dan di rendahkan di hadapan seluruh para prajurut lainnya.


Lana tidak bisa berkata-kata saat komandan kevin menghina Maura. Mulutnya terkunci untuk menyahuti sepatah kata saja dari komandan kevin.


Tiap kali ingin berbicara, komandan kevin pasti mendahuluinya dan membuat citra buruk Lana dalam sekejab menyebar ke seluruh tentara lainnya.


Lana hanya bisa pasrah saat ia di panggil atasan untuk menghadap padanya karena ucapan komandan kevin yang begitu mengganggu seluruh tentara lainnya.

__ADS_1


Lana mendapatkan teguran karena mulut komandan kevin yang begitu tajam menuduhnya telah mengajarkan Maura untuk bisa melukai orang lain.


"Astaghfirullahal'adhim.." ucap Maura begitu terkejut dengan cerita Lana.


Maura menunduk. "Maaf Bang.. Gara-gara adek.. Abang harus mendapatkan surat peringatan. Maaf.. Hiks.. Maaf.. Adek janji. Setelah ini, adek tidak akan melakukan hal ini lagi, walaupun mereka memintanya! Menyesal adek memenuhi keinginan mereka!" Ucap Maura begitu kesal di ujung kalimatnya.


Lana mengernyitkan dahinya. "Apa maksudnya? Kamu memenuhi keinginan para istri komandan di komplek ini untuk memancing para perampok itu??"


Maura mengangguk, saat ini mereka berdua masih saling duduk berhadapan di lantai pintu dapur. Mbak Sus dan Malda masih setia disana. Gadis kecil itu begitu baik Budi nya. Ia tidak berani menyahuti ataupun memanggil walau untuk sekedar melerai ucapan kedua orang tuanya.


''Nggak jadi lah Bang. Biarkan saja mereka berkata apa. Adek tau adek salah karena telah menunjukkan kebolehan dalam hal bersenjata. Maaf Abang, maaf..'' lirih Maura lagi sambil menunduk memeluk kaki Lana.


Lana memegang kedua bahunya, ''Bangun sayang. Iya, sudah. Jangan begini. Ayo bangun. Abang memaafkan mu. Abang pun salah dalam hal ini. Mari kita perbaiki bersama-sama agar tidak ada kesalahpahaman berikutnya timbul di dalam rumah tangga kita. Bangun sayang.'' Kata Lana pada Maura.


Maura mengangkat kepalanya melihat Lana. Ia tersenyum namun sendu. ''Maaf Abang.. maaf..'' lirihnya lagi masih dengan terisak.


Lana membawa Maura ke dalam pelukan nya. ''Sudah.. Abang sudah memaafkan mu. Abang juga minta maaf ya? Abang udah kasar tadi ngomong sama kamu. Nggak ada sedikitpun dihati Abang untuk mengatakan hal itu padamu. Hanya saja... ucapan komandan Kevin itu begitu terngiang-ngiang di telinga Abang. Abang nggak suka, kesal dan marah itu saja. Maaf.. karena Abang lampiaskan itu padamu.. maafkan Abang sayang.. maaf..'' kini gantian Lana yang meminta maaf pada Maura.

__ADS_1


Maura mengangguk dalam pelukan hangat Lana. ''Iya Bang. Tak apa. Sempat sakit hati sih. Tapi setelah mendengar cerita Abang, adek jadi paham. Kita pasangan baru yang masih banyak belajar dan menyesuaikan diri. Bisa melakukan kesalahan berulang kali. Kuncinya hanya satu. Komunikasi.''


''Ya, benar sekali. Abang pun berpikir begitu. Kita memang sudah dewasa, tapi kedewasaan kita belum lagi cukup apabila ketika kita dihadapkan pada masalah, kita saling marah dan keras kepala seperti tadi. Kita harus istrospeksi diri. Itu lebih baik. Daripada menyalahkan pasangan. Abang bangga padamu bisa memancing perampok itu. Tapi Abang minta, setelah ini. Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Cukup sudah kamu bergelut dalam bahaya. Abang Tidak mau kalian mengalami masalah gara-gara harus menolong orang lain. Ingat sayang, Malda itu amanah buat kita. Banyak sekali pemburu diluar sana yang menginginkan dirinya. Kamu pahamkan??''


Maura mengangguk, ''Ya, adek paham. Ayo kita makan. Tadi udah makan sih. Cuman ya.. lapar lagi. Hehehe..''


Lana terkekeh. Ia mengurai pelukannya dan duduk disamping Malda. Sedang Mbak Sus sedang menyiapkan piring dan segala sesuatunya untuk majikannya itu makan.


Melihat Mbak Sus, Lana dan Maura menjadi tidak enak. ''Mbak...'' panggil Maura.


Mbak Sus tersenyum, ''Tak apa Bu. Saya paham kok. Tapi maaf, saya terpaksa harus mendengar nya. Karena Malda tidak mau pergi. Jadi ya...'' Mbak Sus merasa tak enak hati pada majikannya itu.


Lana tersenyum. ''Tak apa. Mari makan bersama kami. Kamu pun kami anggap keluarga disini. Bukan orang lain. Maaf, jika masalah kami ini membuatmu tidak nyaman.''


Mbak Sus Terkekeh. ''Kalau dirumah saya nyaman atuh Pak! Asal jangan seperti tadi, djalanan! Saya jantungan Bu!'' kelakar nya.


Membaut Lana dan Maura tertawa. Akhirnya mereka berani dan saling introspeksi diri.

__ADS_1


__ADS_2