Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Malu sama Besan


__ADS_3

''Baiklah, sekarang pakaikan mahar yang telah kamu berikan tadi untuk istrimu.'' Kata Pak penghulu kareanmelihat merasa jengah dengan semua pengantin yang terus saja menertawakan Lana.


Lana menggangguk patuh. Dengan segera tangan kekarnya mengambil mahar untuk Maura tadi.


Lana pasangkan di jari manis Maura. Gelang tangan di sebelah kanan. Terakhir, kalung berliontin berlian ia pakaikan di leher Maura yang tertutup hijab.


Setelah selesai, mereka berdua bangkit dan menuju tempat resepsi. Tempat resepsi Lana dan Maura juga ada di sebelah Utara hotel Papi Gilang.


Sekalian ingin menyaksikan pernikahan Ali dan Kinara. Mereka berjalan bergandengan tangan.


Maura tersenyum di sela-sela perjalanan mereka. Dari kejauhan, sudah terlihat kalau Faizah sedang berjalan terburu-buru dan masuk ke tempat ijab qobul Ali dan Nara.


Lana dan Maura saling pandang. "Kacau ini Bang! Faizah pasti buat kerusuhan disana!'' serunya dengan segera berlari menuju aula tempat resepsi mereka.


Karena disanalah acara pernikahan itu dilaksanakan. Lana pun ikut mengejar, dan tiba di depan ruang acara resepsi pernikahan mereka, Maura dan Lana mematung melihat Faizah mengamuk ingin memukul Nara.


Tapi ditahan oleh Ali. ''Cukup!'' sentak Papi Gilang dengan rahang mengeras.


Mak Alisa mendekati Papi Gilang. ia mengelus tubuh sang suami. Papi Gilang memejamkan kedua matanya.


''Sabar.. nggak akan ada jalan keluar kalau kamu marah-marah seperti ini, Pi.. Adek udah sah kok jadi istri Ali. Jadi.. tidak ada yang perlu di ribut kan lagi disini. Malu.. Mak malu sama tamu kita! Kak Madan, Aini! Bawa pulang putri kalian dari sini! Dan kamu Faizah! Berhenti mengejar sesuatu yang bukan menjadi milikmu! Jika memang kau ingin mendapatkan Ali, kenapa kau tidak merayu Allah, agar mau memberikan nya padamu? Bukan dengan cara seperti ini! Mak kecewa sama kamu! Kamu sudah mempermalukan keluarga Mak di sini! Pulanglah!'' tegas Mak Alisa dengan wajah datarnya.


Suara lembut dan mendayu itu, menusuk relung hati siapa yang mendengar nya. Mata Nara berkaca-kaca.


Ia menunduk. ''Maaf Papi.. Mami.. gara-gara adek, pesta bang Lana jadi seperti ini.. hiks.. maaf..'' Isak Nara.


Ali mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap nyalang pada Faizah. Ingin sekali mencekik leher wanita itu. Jika tidak mengingat, gadis sebaya adiknya itu merupakan saudara ipar Lana, maka ia akan menyeretnya dan menghempaskannya keluar.


Tapi akal sehatnya masih berfungsi saat ini. Daripada Ali marah pada gadis yang tidak jelas itu. Lebih baik ia memeluk Nara untuk mendamaikan hatinya yang sedang gundah karena emosi yang memuncak.


''Ssstt .. udah.. kita istirahat ya? Ayo!'' ajak Ali pada Nara.


Nara mengangguk, dengan segera ia menuntun Nara untuk menuju kamar hotel milik mereka. Diikuti oleh keluarga Ali yang lainnya.


Lana pun ikut berlalu setelah melihat Papi Gilang menyuruhnya untuk ikut bersama mereka untuk menenangkan Nara.


Sedangkan Maura mendekati Faizah dan memeluk adiknya itu. Awalnya ia ingin marah, tapi melihat reaksi keluarga Lana tadi, ia jadi kasihan pada Faizah.

__ADS_1


''Pulang! Setelah ini jangan tunjukan batang hidungmu dirumah keluarga Lana lagi! Malu Abi sama Besan! Punys anak perempuan kayak gini kelakuan nya! Kemarin aja kamu koar-koar naggak jelas ketika dirumah, nah sekarang? Pulang Faizah! Aini! Bawa putri kita pulang kerumah, setelah itu kami balik lagi ke sini!'' kata abi Madan pada ummi Aini.


Ummi Aini mengangguk. Paman Edi pun mengikuti mereka berdua. Sementara Abi Madan dan Maura, mereka berlalu untuk menemui besannya itu.


Di kamar Nara.


Seluruh keluarga berkumpul di sana. Termasuk Mak Alisa, Papi Gilang, Lana dan juga kedua besannya.


Sedangkan Ira, tidak bisa hadir. Karena ia punya bayi yang baru berusia satu tahun delapan bulan. Sebaya dengan Malda. Lagi aktif-aktif nya. Dan kebetulan pula, hari ini bocah kecil itu sakit.


Jadi Ira tidak bisa hadir. Raga dan kedua orang tuanya ikut hadir tapi mereka berada diluar bersama kedua adik Lana. Yaitu Rayyan dan Algi.


Mereka tidak berbicara sepatah katapun karena sedang menunggu Abi Madan. Lana sudah mengatakan hal itu tadi pada mereka semua.


Abi Madan dan Maura pun tiba. Mereka berdua masuk setelah Lana membukakan pintu untuk mereka masuk.


Terlihat Nara terdiam duduk bersama Ali di ranjang. Wajahnya sembab. Sedangkan Ali biasa saja. Karena ia tidak mungkin marah kepada Abi Madan.


Wong, Abi Madan pun tak tau kalau Faizah akan muncul disaat ijab qobul mereka telah selesai dan mengamuk disana.


Abi Madan duduk di dekat Papi Gilang, dan kedua orang tua Ali. Abi Madan menatap mereka dengan rasa bersalah.


Maura berjalan mendekati Nara, tapi di tahan oleh Lana. ''Tak apa. Biarkan aku menemani Nara, ya Bang?'' kata Maura saat Lana menggeleng kan kepalanya.


Mak Alisa mengangguk. Lana pasrah. Ia melepas kan tangannya dari lengan Maura. Maura berjalan mendekati Ali.


''Boleh kakak pinjam, istrimu Ali??'' tanya Maura pada Ali.


Ali mengangguk, ''Silahkan Kak.'' Sahut Ali.


Dengan segera ia menarik Nara yang sedang melamun. ''Ayo dek! Kita duduk di balkon. Kayaknya seger deh!'' celutuk Maura sambil menarik tangan adik iparnya itu.


Melihat Maura menarik tangan nya, mata Nara kembali mengembun. Tanpa sadar, ia menubruk tubuh Maura hingga Maura terhuyung ke depan.


''Astaghfirullah!! Sabar Dek! Kita masih di jalan loh.. ayo ih! Gimana jalannya ini??'' Maura terkejut saat merasakan tubuh nya di peluk Nara dari samping.


Mak Alisa dan Lana terkekeh melihat tingkah kedua saudara ipar itu. Papi Gilang tersenyum tipis, melihat Nara begitu dekat dengan Maura.

__ADS_1


''Ayo ih! jangan di peluk dulu adek.. ini gimana jalannya coba?! Mau kamu, kita terjatuh berdua ke bawah sana, sedang resepsi aja belum di gelar??''


Nara mengurai pelukannya, ia menatap Maura dengan bibir manyun. Ali terkekeh. Begitu juga dengan para orang tua.


''Ayo ih! jangan manyun gitu bibirnya! Mau kamu disengat lebah kepala hitam??'' Lana dan Ali melototkan matanya.


Kelima orang tua disana tertawa mendengar ucapan Maura. Nara jadi bingung. ''Lebah kepala hitam?? Memang nya ada ya??'' tanya si polos Nara.


''Ada. Banyak malahan. Ada berapa itu, satu, dua, tiga, empat, ada lima orang lebah kepala hitamnya!''


Buhahahaha...


Semua yang ada disana tertawa terbahak mendengar celutukan Maura. Lana sampai menggeleng kan kepalanya melihat tingkah sang istri.


''Mana sih kak? Nggak ada ih! Kakak mah bohong!'' seru Nara dengan mencebik sebal.


Maura terkekeh, ''Sini kakak bisikin. Tapi, kamu harus janji. Pura-pura nggak tau aja nanti ya?'' bisik Maura sambil mendekati Nara dan membawa gadis kecil itu duduk di balkon.


Tiba disana mereka berdua duduk dengan berdiam diri. Sementara para orang tua, melanjutkan kembali percakapan mereka yang tertunda tadi.


''Maafakm kesalahan putri saya, Pak Husen. Gilang. Tak ada maksudku sama sekali untuk mempermalukan kalian di depan penghulu tadi. Say pun aku karena kelkaun anak saya. Maafkan saya Pak, Gi, Lis.. saya merasa malu sama Besan karena kelakuan anak saya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tolong maafkan saya..'' pinta Abi Madan lagi dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah.


Mak Alisa tersenyum pada Abi Madan dan itu membuat Papi Gilang berwajah datar. Mak Alisa menggelitik Pinggang Papi Gilang agar tidak berwajah datar seperti itu.


Papi Gilang tersenyum kaku.


''Tak apa Kak. Nama nya juga anak gadis. Kalau nggak suka ya .. di ungkapkan! Faizah itu gadis yang unik. Hanya saja.. dia butuh seseorang yang bisa membawanya ke jalan yang lebih baik lagi. Tidakkah kamu lihat tadi, bagaimana brutalnya dia saat ingin memukul putriku, Nara??'' Mak Alisa terkekeh.


Begitu juga dengan Ali dan kedua orang tua nya. Sedang Abi Madan menunduk malu. ''Maaf Lis.. maaf..'' Abi Madan menunduk kan wajahnya.


Lana dan Maura saling berpandangan, mereka berdua tau jika kelemahan Abi Madan ada pada Mak Alisa.


Lana dan Maura hanya bisa menghela nafasnya. Berharap, masalah ini tidak berbuntut panjang.


Semoga saja.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Cerita Nara, ntar ye othor buat sendiri. Nggak sekarang, tapi bukan depan! 😁😁😁


__ADS_2