Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Mimpi yang menjadi kenyataan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada seluruh keluarga, kini mereka berdua sedang berada di dalam pesawat menuju Papua. Sedari menaiki pesawat hatiali semakin gelisah dan tidak tenag, tapi ia tetap mencoab menenangkan hatinya bahwa yang sudah tertulis maka akan terjadi cepat atau lambat.


"Tenanglah Ali.. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Sudah setengah perjalanan yang kita lalui, kamu belum juga memejamkan matamu. Tidurlah walau senbentar. Ayo, ingat Allah banyak-banyak di dalam hatimu." Imbuh Lana membuat Ali mencoba untuk memejamkan matanya walau terasa berat.


Dan ya, setelah berulang kali menyebut asma Allah, kini Ali tertidur begitu tenang. Lan tersenyum walau terlihat sendu. Ada sesuatu yang akn terjadi dengan adik ipar nya ini. Entah apa dan bagaimana cuma Tuhan lah yang tau.


Tiab di papua sudah pagi. Baru saja tiab merk sudah dipanggil oleh atasan untuk menemui mereka. Ali dan Lana menurut. Kali ini Fatir belum tiba. Ia masih dalm perjalanan. Pesawat yang ia tumpangi sempat mengalami delay hingga tiga jam lamanya. Berbeda sedikit dari jam terbang Lana dan Ali.


Sementara di Medan, Nara sudah di sibukkan dengan kuliahnya. Hari ini ia akan mendaftar di dua kampus. Maura ikut serta menemani nya.


"Sudah siap Dek? Kalau sudah, Kakak igin menitipkan Malik dan Zia pada Mak nanti saat kita melewati mall." ucap Maura pada Nara yang sedang beberes menyiapkan keperluan Gading termasuk obat yang masih ia minum selama tiga bulan lagi.


"Sudah Kak. Ini sudah siap. Ayo!" ajak Nara pada Maura.


"Oke!" sahut Mauira.


Mereka berdua begegas keluar dimana Gading, Malik, Zia dan Mbak Sus sedang meunggu mereka berdua didepan pintu mobil milik Lana yang sudah terbuka.


Berkat Nara dan Algi, kini Maura sudah bisa menyetir mobil sendiri. Semua ini semua karena saran dari Nara. Ia mengatakan jika salah satu dari mereka berdua melahirkan nanti, paling tidak salah satu dari mereka berdua ada yang bisa menyetir mobil milik Lana untuk tiba dirumah sakit dalam keadaan mendesak.


Maka dari itu, Maura belajar bersama Algi dan Nara disaat Ada waktu senggang.


*


*


*


Satu bulan berlalu.


Kini Nara dan Maura sudah di sibukkan denagn tugas mereka. JIka Nara sibuk dengn ujian mata kuliahnya, Maura sibuk dengan tugasnya sebagi guru di pesantren ustad Mahmud.


Sementara Ali dan Lana sedang berperang melawan penyusup ilegal dari luar Negeri. Mereka terlibat baku tembak hingga baku hantam.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Dor!


"Mereka disini!" pekik Fatir pada Lana Dan Ali.


Ali yang berada dekat dengan Fatir lebih dulu mendahuluinya. Tiba disana, ia melihat penyusup ilegal berkebangsaan Nigeria itu sedang terlibat baku hantam dengan Fatir.


Mereka saling adu otot.


Bughh..


Bughh..


Bughh..


Bughh..


"Arrrgghhhh..."


"Fatirrr!!!!" pekik Ali saat melihat Fatur jatuh ke jurang. Sedang penyusup ilegal itu langsung menepi. Ali yang terkejut langsung berlari. Padahal dirinya juga sedang terlibat baku hantan dengan penyusup yang berjumlah sepuluh Orang itu.


Salah satu dari mereka telah di taklukkan oleh Lana di sebelah sana. Lana berlari saat mendengar suara Ali memanggil nama Fatir begitu kuat.


Ia berlari dengan cepat namun, ia berhenti di tempat saat melihat Ali di dorong paksa oleh kedua orang penyusup yang sengaja berlari mengikuti Ali.


"Fatirr!!'" pekik Ali begitu panik saat melihat Fatir bergelantungan di dahan kayu yang begitu jauh dari atas tebing.


"Tunggu disana! Abang akan menyelamatkan mu!" seru Ali pada Fatir


Fatir menggelengkan kepalanya. "Jangan Bang! Awas! Di belaknag mu!!!" pekik Fatir sembari bergenlatungan di dahan kayu dibawah tebing sana.

__ADS_1


Ali tidak peduli. Ia tetap sibuk ingin turun ke tepi tebing. Namun, nahas menimpa Ali. Dua penyusup ilegal itu berjalan di belakangnya yang sedang merangkak turun menuju Fatir dimana berada.


Kejadian itu begitu ceoat hingga tidak bisa di elakkan.


BUghhh..


Plaakk..


"Allahu Akbarr!!!" pekik Ali begitu terkejut ketika dirinya di dorong dari belakang hingga tidak sempat menyentuh apapun.


"Arrggghhtttt... Tidaaaaaaakkkkk... Abaaaaaaangggg... Bang Aliiiiii..." pekik Fatir saat melihat tubuh Ali melayang melewati dirinya.


Sedangkan Lana berdiri mematung di tempat. Kaki nya terasa lemas saat melihat Ali di depan matanya terjatuh akibat di dorong dari belakang. Tubuh Lana bergetar seketika.


Masih teringat olehnya jikalau Ali pernah berkata, ia akan meliha Ali jatuh ke dalam lubang hitam yang tak berdasar hingga sulit untuk keluar dari sana. Tidak ada jalan keluar dari sana terkecuali sebuah keajaiban.


Lana tergugu, tidsk tau harus berbuat apa. Sedang Fatir menangis menjerit memanggil nama nya berulang kali. Telinga Lana berdengung. Masih teringat oleh nya tadi pagi, kalau Ali berpamitan padanya yang membuat Lana menertawai dirinya.


Katanya, kalau tugas ini adalah tugas terakhirnya. Belum lagi mimpi Ali jatuh ke lubang hitam setiap malamnya Lana mimpikan.


"Ya Allah.. Inikah arti mimpi itu?? Apakah ini artinya adik ku... aaaaaaaa... AAALLLIIII....." pekik Lana sekuat tenaga.


Ia berjalan sambil mengarah kan senjata laras panjan nya di tujukan pada penyusup ilegal yang telah baerlari karena terkejut melihat Lana yang tidak jauh dari mereka berdua.


Dor!


Dor!


"Bang Lanaaaaaa.... Bang Aliiiiii...."


Deg!


Deg!

__ADS_1


__ADS_2