MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Terlalu Percaya


__ADS_3

“Lalu katakan siapa yang pantas untukmu hah!!? Katakan!!”


Suara Adam begitu menggelegar bahkan Ellisha, Alpha dan Aiden yang mendengarnya dibuat penasaran. Perdebatan Antar keluarga yang seharusnya menjadi hal paling bahagia bagi Gamma karena hari ini adalah hari ulang tahunnya mendadak sirna. Aiden yang tau diri ini bukanlah hal yang patut disaksikan bagi orang asing berniat meninggalkan taman belakang. Ia hendak mengajak Valery sebelum pertanyaanAlpha menghentikan niatnya.


“Uncle... opah kenapa marahin dad?” Wajahnya yang polos dipenuhi rasa penasaran digendongan Aiden. Dia diam-diam mengintip opah dan omanya yang entah membicarakan apa dengandad-nya. Pria itu terlihat sangat emosi.


“Gapapa Alpha... ayo kita keluar dulu, ajak tante Valery...” Alpha hanya menggangguk kecil. Tak mau ambil pusing. Aiden segera mungkin membawa Valery keluar dari perkarangan taman belakang sebelum dia mengingat bahwa ada orang lain lagi yang seharusnya juga ia ajak pergi. Ia menyuruh Valery dan menyerahkan Aiden pada gadis itu lalu segera menghampiri Ellisha yang terlihat sangat kepo dengan perdebatan keluarga Canis.


“Ellish. Lebih baik kita kedalam sekarang, tak baik mendengar percakapan antar keluarga.” Ellish memandang tidak suka Aiden. Fokusnya jadi buyar karena pria itu.


“Tidak mau...” Gadis itu menolak dengan cara menyebalkan, “Kau saja yang pergi, aku ingin melihat apa yang mereka debatkan.”


Aiden memutar bola matanya jengah dalam hati ia berkata, ‘Apalagi jika bukan tentang Gamma yang tak mau menikah dengan nenek lampir seperti dirimu, sungguh buta si paman ini’ Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan paksa ia membawa Ellish untuk segera mengikutinya, “Hei lepaskan tanganku. Dasar tak tau diri!!” gadis itu berontak namun  Aiden tak menghiraukannya. Hingga mereka benar-benar pergi meninggalkan keluarga Canis untuk berdebat.


Sedangkan disisi lain. Gamma menatap ayahnya dengan tatapan sama emosinya, “Hanya Aily yang pantas untukku tak ada yang lain,”   Pria itu benar-benar dibuat kesal setengah mati karena ayahnya. Hari ulang tahun apaan ini, tak menyenangkan seperti yang biasa ia rayakan bersama Aily.


“Aily! Aily! Aily terus... coba kau hidupkan dia kembali!! Jika memang bisa kau tak perlu menikah dengan Ellish,” sungguh permintaan konyol. Ellen hanya menonton perdebatan dua prianya, ingin menjadi penengah? Tak akan beres. Adam dan Gamma adalah dua orang yang sama, kepribadian mereka benar-benar sekeras batu.


“Aku mencintainya bahkan meski dia mati sekalipun aku tidak akan mengkhianati Aily!!”


Gamma tetap bertahan dengan keinginannya. Menikah? Untuk apa lagi hal itu harus ia bina lagi. Semuanya sudah hancur berkeping-keping dan Gamma sama sekali tak mau berusaha lagi untuk bahagia. Terlebih dengan Ellisha, Adam saja yang buta dia tak melihat sesungguhnya Ellisha bukanlah gadis yang baik seperti kelihatannya. Gamma bisa melihat itu. Entahlah firasatnya tak akan pernah salah.


“Teruslah seperti itu Gamm!! Teruslah bersikap egois!! Sampai aku tak lagi mau menganggapmu sebagai anak.. kau terlalu buta!!” Ellen mencoba menenangkan sang suami yang malah semakin terbawa emosi menghadapi putra satu-satunya mereka.


“Dad sudah lelah, rasanya mengkhawatirkan mu itu percuma, kau memang anak yang tak tahu diri... kau bisa menjadi anak durhaka terserahmu saja!! Tapi setidaknya pikirkan juga Alpha!!”


Gamma mengingat Alpha, “Jadi karena dia dad mau menjodohkanku dengan Ellisha... mengapa dia selalu saja merusak ketenanganku,” rasa bencinya pada Alpha kembali timbul, baru saja Gamma ingin mengistirahatkan sejenak namun sepertinya Alpha memanglah masalah dihidupnya, “Dia benar-benar pembawa masalah...” pikir Gamma.


Plak

__ADS_1


Satu tamparan keras mengenai pipi Gamma. Kali ini Ellen yang bertindak, ia terlalu muak dengan sikap Gamma yang terus menyalahkan Alpha putranya sendiri, “Kenapa mom juga ikut membenci anak durhaka ini?” tanya Gamma seraya mengusap pipinya, “Karena Alpha juga?”


“Kau yang keterlaluan Gamma!! Kau berubah mom tak tahu perginya Algamma yang dulu...” Ellen menatap kecewa pada Gamma, “Seharusnya otakmu itu kau gunakan dengan baik.. jangan sibuk menyalahkan cucuku... pikirkan dengan baik mengapa Ailymu itu mau mengorbankan semuanya untuk Alpha!! Pikirkan ia melakukannya juga demi siapa!”


Ellen menggandeng Adam, suaminya itu menatap Gamma dengan datar. Kemarahannya akan kekeras kepalaan putranya sepertinya telah sedikit memudar karena Ellen yang menggantikannya, “Sepertinya Aily terlalu percaya padamu... ia kira kau akan menjaga Alpha dengan baik.”


Gamma hanya bisa menatap mom dan dad-nya yang bergerak menjauh meninggalkannya. Mengapa semua orang begitu betah pergi darinya bahkan dihari spesial Gamma. Ia jadi sangat merindukan Aily. Andai waktu bisa terputar kembali. Pasti ke-harmonisan yang Algamma Epsilon Canis banggakan tetap masih ada tak akan Gamma biarkan itu sirna. Namun sayangnya semua sudah terlambat.


[]


Tring! Tring! Tring!


Ailee, wanita itu berulang kali membiarkan ponselnya bergetar dan berbunyi seenaknya. Ia terlihat malas mengangkat karena tau siapa si penelpon yang berulang kali menghubunginya. Nama ‘Bunda Astoria’ muncul di atas layar. Sudah lama sejak terakhir kali nomer itu tak aktif lagi dan kini menghubungi dirinya. Entah apa yang diinginkan Bundanya pada dirinya ini.


Ting!


Sayang angkat telepon bunda plis, bunda butuh bantuanmu


Gurat kekecewaan jelas saja tercetak diwajah Ailee. Ini pertama kalinya Astoria menghubungi putrinya kembali namun sekalinya menghubungi langsung ada udang dibalik batu. Ailee masih tetap membiarkan ponselnya terus bergetar sambil mengingat-ingat jika ada ayahnya, Alferd. Pria itu tak akan pernah membiarkan Astoria untuk mendekati Ailee.


Ting!


Ailee Bunda benar-benar butuh bantuanmu... bunda mohon datanglah ke bar xxxx


Wanita itu membaca satu-persatu kalimat yang tersusun. Ia memutar otak ketika alamat yang tertera diberikan bundanya adalah sebuah bar. Ia jadi penasaran dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, apa yang sedang dilakukan Astoria di tempat seperti itu? Ailee bingung. Akhirnya dia membalas pesan Astoria.


Apa yang bunda lakukan di tempat seperti itu?


Dan akibat kepenasaran Ailee yang tanpa pikir panjang langsung membalas pesan Astoria membuat Bundanya jadi semakin sering menghubunginya. Ia terlihat tak sabar. Tapi Ailee tetap tak mau mengangkat panggilan berulang-ulang itu yang pada akhirnya sekali lagi pesan singkat masuk.

__ADS_1


Kemarilah Ailee... Bunda mohon...


Ailee bangkit karena muak. Ia menyambar jaketnya dan segera memasukan ponselnya kedalam saku jeansnya. Ailee memutuskan mengikuti kemauan bundanya. Ia terlihat tak tenang bila hanya bersikap cuek, rasa penasaran membakarnya takut takut Astoria yang cantik dalam bahaya. Ailee tak masalah bila bundanya ke tempat lain ia pasti tak akan mau untuk berangkat, tapi sayang Astoria sedang ada ditempat laknat yang penuh buaya ditambah ini sudah malam.


Wanita itu memanggil taksi dan memberikan alamat bar yang sempat bundanya berikan kepada supir taxi tersebut. Dengan segera kendaraan bewarna abu itu melaju menuju tempat yang Ailee tuju. Ponselnya tetap tak berhenti berbunyi dan masih tetap Astoria yang menghubunginya. Ailee memutuskan membiarkannya terlebih dahulu sebelum ia sampai ke tempat yang dimaksud oleh Astoria.


1 jam perjalan Ailee tempuh. Barnya benar-benar sangat jauh dari tempat Ailee berada. Ia balik mendial nomer Astoria dengan pandangan yang terkunci oleh pintu masuk bar besar yang terpampang di kedua matanya. Tempat itu benar-benar sangat dipenuhi keramaian, terlihat dari beberapa orang yang masuk.


Ia meringis kecil. Takut saat melihat ada sebagian pria yang membawa 2 orang gadis dengan pakaian minim kain sekaligus memasuki bar itu. Ailee merapatkan jaketnya. Menyalahkan keputusannya yang terlalu mengutaman kekhawatirannya pada Astoria. Padahal Astoria tak pernah sekalipun berpikir dua kali saat meninggalkan Ailee kala itu.


“Halo.”


Suara Astoria terdengar lembut di pendengaran Ailee. “Bunda dimana?” Ailee tak mau basa-basi, “Ailee ada didepan,” saat Ailee mengatakan itu entah dimanakah Bundanya itu. Namun terdengar dari beberapa suara lain wanita itu terlihat girang. Sama sekali tak terdengar dalam bahaya, apa Ailee ditipu.


“Tunggulah didepan Bunda akan kesana...” Setelah itu panggilan antara mereka terputus begitu saja.


 [][]


Hi Sorry baru Up sekarang


Aku lagi sakit wkwkwk jadi rada buntu untuk up kemarin


Terima kasih


Jangan lupa klik jempolnya ya


 


 

__ADS_1


__ADS_2