
Rasa cinta dan ingin memiliki. Walau kita tak pernah menyadarinya sekalipun, mencintai tetaplah sesuatu yang membuat si perasanya merasa dia telah menjadi yang paling bahagia. Senyuman yang tak pernah luntur dari wajah, dan berseri-seri hanya ketika mengingat seseorang yang saat itu terkenang dalam ingatan kita. Dan itu jugalah yang kini dialami Gamma.
Pria itu seperti kembali menjadi remaja muda yang sedang jatuh cinta. Ia selalu mengingat wajah Ailee dan bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka malam itu. Kali ini pria itu bahkan tak berusaha mengelak sedikitpun, hari-harinya hanya ia habiskan untuk mengingat istri kontraknya itu. Gamma sendiri mungkin tak menyadari bahwa gosip dengan cepat mulai menyebar. Bagaimana tidak saking bahagianya, predikat dingin direktur baru yang tiba-tiba menjadi pria ramah yang murah senyum itu membuat semua orang terkejut. Gamma bagai orang asing yang begitu kentara sekali sedang jatuh cinta.
Ehem
Aiden berdehem pelan. Sejak tadi asisten Gamma itu terus berdiri disamping bos barunya dengan setia, di pandangan Aiden tak sedikitpun pria itu melewatkan bagaimana Gamma terus tersenyum seperti orang gila. Ia tak menyangka dengan sebuah ciuman yang menggairahkan bosnya bisa berubah dalam semalam menjadi orang yang gila kasmaran. Jujur melihat hal itu sedikit ada rasa jijik di hati Aiden.
“Gam... apa kau akan terus tersenyum seperti orang gila dihadapanku?”
Gamma melirik sinis Aiden, ia mulai menganggap Aiden sebagai pengganggu rasa senangnya, “Kau tak akan mengerti.. kau tak pernah jatuh cinta...” ujarnya tanpa sadar.
Cklek
“Jadi putraku sudah mengakui bahwa dia mencintai istrinya... kukira itu hanya aktingmu...” Adam membuka pintu tanpa mengetuknya. Dengan santai pria yang masih terlihat muda di usianya yang tak muda lagi itu duduk dihadapan Gamma. Dia bagaikan boss yang tak punya sopan santun didepan putranya terlihat dari bagaimana dia duduk dengan menopang kaki kanannya di atas kaki kiri.
“Untuk apa dad datang kesini?” Kedatangan Adam seperti mengubah raut wajah Gamma dengan begitu mudah. Aiden bisa melihat hal itu dengan begitu jelas, wajahnya yang tadi begitu dipenuhi senyuman, kini berubah terganti dengan raut wajah dingin penuh wibawa. Gamma seperti tak ingin terlihat buruk didepan orang tuanya sendiri, dan itulah yang membuat Aiden sedikit mengangguminya. Pria itu bisa membedakan dunia bisnis dengan urusan pribadi, hari ini saja Gamma terlalu bahagia karena Ailee akibatnya dia tak berhenti berwajah ramah.
Adam melirik Aiden, ia mengkode mantan asistennya itu untuk memberikan sedikit privasi antara dirinya dan dengan putranya. Aiden yang mengerti kode itu pun segera meninggalkan kedua ayah dan putra itu.
__ADS_1
“Jadi bagaimana Al... apakah Ailee sudah ada tanda akan hamil...?”
Kedua mata Gamma melotot ke arah Adam, ia seperti terkejut akan kalimat sang ayah. Seolah Gamma baru mengingat tujuannya kembali menikahi Ailee. Sejak awal tujuannya hanyalah menemukan pusara Aily dengan berbagai macam cara. Dia ingin meminta maaf dan mengatakan banyak hal meski harus menikah dan melawan sumpahnya untuk tidak menikah lagi. Namun kini semua tujuan itu dalam sekejap dilupakan oleh Gamma. Dan itu semua tak lain dan tak bukan hanya karena Ailee, fokusnyaa teralih hanya untuk wanita itu.
Mengingat hal itu seketika Gamma yang merasa dirinya menjadi orang paling bahagia dan tiba-tiba merindukan Ailee, lenyap begitu saja, rasa itu berganti menjadi rasa bersalah kepada almarhumah Aily. Terngiang sudah wajah istri tercintanya yang tersenyum begitu tulus pada Gamma, dia mengorbankan segala hal untuk Gamma bahkan memberikan Gamma seorang putra namun Gamma dengan mudahnya melupakan hal itu hanya karena ciuman panjangnya bersama Ailee. Itu jelas tak sebanding dengan waktu dan kenangan panjang yang ia bangun bersama Aily.
“Aku mungkin akan melupakan hal itu jika dad tak mengingatkanku...” ungkapnya dengan suara dingin yang begitu kentara. Hilang sudah rasa rindu dan niat ingin menemui Ailee yang mungkin telah menunggunya dirumah.
Adam tertawa jenaka. Dia seperti itu juga karena tak menyadari raut perubahan wajah Gamma, dia tak menyadari bahwa kalimatnya lah yang seketika mengubah cara pandang Gamma pada Ailee, “Jangan melupakan hal itu Gamm. Kau taukan hanya dengan calon cucuku saja kau bisa menemukan pusara Aily, bukankah itu yang kau inginkan?”
Gamma menopang dagunya dengan kedua tangan, “Sampai sekarang hanya itu yang kuinginkan...” Adam tersenyum menang sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.
“Ya sudah seharusnya. Waktumu hanya tersisa 2 bulan 1 minggu lagi, dad hanya mengingatkanmu soal itu...”
Gamma mengepalkan jemarinya. Begitukah dia saat itu? terlihat sangat mengingikan Ailee dan melupakan rasa cinta yang hanya untuk Aily. Setelah Adam pergi, Gamma memukul kepalanya begitu kencang. Ia frustasi mengapa ia bisa semudah itu terlena dengan kecantikan Ailee dan melupakan segala tujuannya. Ia merasa dirinya sudah berbuat kurang ajar dan menodai cinta antara ia dan Aily. Entahlah Gamma berpikir mungkin hal ini adalah kesalahan terbesarnya yang berakibat fatal, mungkin Aily yang melihat semua kejadian diatas sana akan marah pada Gamma. Dia yang akan menjadi orang yang paling tersakiti.
“Ahhhh!!” Gamma menjambak rambutnya tak peduli betapa sakit rasanya itu. Kemudian pria itu meraup seluruh wajahnya, “Maaf Aily, maaf aku lagi dan lagi terus menyakitimu...”
Cklek
__ADS_1
Di ambang pintu muncul Aiden dengan wajah dipenuhi kepanikan. Ia baru saja mendengar bagaimana Gamma berteriak sangat kencang setelah Adam pergi dari ruangannya, “Ada apa denganmu Gam?” tanyanya serta merta dengan nada kepedulian. Ia melihat Gamma begitu kacau saat ini padahal baru saja hatinya senang melihat boss barunya itu begitu berbahagia.
Gamma hanya bisa melamun dan merenung. Ia sama sekali tak menatap Aiden dengan kedua matanya. Dipikiran dan hatinya hanya ada rasa bersalah tentang Aily.
“Gamm?”
“Aiden... apakah aku harus menyusul Aily pergi agar rasa bersalah ini hilang?” tanyanya pada Aiden dengan putus asa.
Aiden tak mengerti dengan apa yang dimaksud Gamma, “Maksudmu siapa? Ailee istrimu sekarang, atau Aily istrimu dulu?”
“Mikaily Adelson... hanya dialah istriku... aku tak pernah punya istri yang lain..”
Brak
Aiden menoleh ketika mendengar suara pintu terbanting begitu keras. Ia pikir seseorang baru saja mengintip pembicaraan mereka. Namun pria itu tak ambil pusing, ia berpikir hal yang lebih utama hanyalah pria dihadapannya ini. Gamma terlihat begitu rapuh sekarang, dia hanya akan seperti ini bila dia tiba-tiba teringat Aily.
“Jangan seperti ini Gamm... Ada apa denganmu? kau tadi begitu bahagia...”
“Bagaimana aku bisa bahagia Aiden!! kau tahu aku telah mengkhianti Aily!! Semua salahku... kenapa? kenapa aku tak bunuh diri saja saat Ailyku pergi...”
__ADS_1
[]
Hmm. Aku sempat kepikiran gak Up wkwkw tapi aku memikirkan kalian. masa ingkar janji mulu emang ni si author nakal bener...