
Gamma terbangun dengan kepala yang terasa pening. Ia melihat kemejanya kini berganti dengan pakaian hangat yang tanpa sadar membuatnya tersenyum tipis. Syukurlah Ailee masih mempedulikannya. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding itu, membayangkan Ailee membenci dirinya setelah segala kesalahan yang Gamma buat hampir membuat dirinya patah semangat. Namun Ailee sama sekali tak berubah, dia masihlah Ailee yang selalu mencintai Gamma.
Ia hendak bangkit meninggalkan ranjang nyaman yang membelenggunya. Keiinginannya melihat wajah Ailee lagi semakin merebak, tetapi karena kepala Gamma yang terasa berat membuat tubuh kekar itu oleng. Untungnya saat itu Ailee ada disana, ia segera membantu suaminya menemukan keseimbangan tubuhnya.
“Jika kau butuh sesuatu kau bisa berteriak memanggilku... tak perlu bangun dari ranjangmu Al...” disana Gamma mendengar nada penuh kekhawatiran yang membuat Algamma merasa dirinya sangat berarti bagi Ailee.
“Aku tak ingin apapun,” Gamma menegakan tubuhnya sempurna, ia menunduk menatap wajah cantik istrinya yang selama beberapa hari tak ia lihat. Wajah Ailee terlihat tirus untuk ukuran wanita hamil, Gamma menyentuh pipi putih istrinya dan membelainya lembut, “Aku hanya butuh dirimu Ailee...” kata-kata itu tanpa sadar membuat kedua pipi Ailee merona merah, Gamma dibuat tersenyum kecil karena saat ini Ailee begitu menggemaskan dimatanya.
“Maaf... maaf aku tak mempercayai dirimu dan memilih menyakitimu, sungguh butuh waktu lama untuk sadar bahwa aku mencintaimu, Ailee...”
Dalam hati sungguh Ailee sangat senang, tak ada yang lebih membahagiakan ketika pria yang amat ia cintai membalas cintanya. Tanpa sadar bulir air mata bahagia meleleh dimatanya. Ailee kira semua usaha kerasnya untuk meluluhkan Gamma tak akan pernah membuahkan hasil tetapi ternyata Tuhan memberinya kejutan—kejutan yang sangat membahagiakan.
“Hei... kenapa menangis?” Pria itu menatap Ailee dengan wajah yang seolah terkejut melihat Air mata Ailee. Tanpa diminta kini Gamma menghapus air mata Ailee yang mengalir dengan pelan, ia seolah memeggang permata berharga yang harus dijaganya dengan hati-hati—itu membuat Ailee bahagia.
Tetapi Ailee tak bisa begitu mudah luluh pada Gamma, ingatan bagaimana pria itu menorehkan luka dihatinya lalu menambahkannya lagi sama sekali tak bisa Ailee lupakan. Wanita itu menggenggam tangan Gamma dengan lembut, membiarkan tangan kekar itu berhenti menyentuh wajahnya, “Aku memaafkanmu Al... bagaimanapun aku selalu mencintaimu, tapi berikan aku waktu untuk sendiri... aku butuh waktu untuk melupakan semua.”
Sinar dimata Gamma meredup, “Baiklah...” Ia nampak kecewa namun terbersit sebuah ide, “Aku akan mengizinkan tapi aku akan tinggal disini bersama denganmu... kita hanya perlu pisah ranjang saja, aku tak masalah...” Kini Gamma nampak seperti anak kecil. Ia memutuskan segala hal dengan antusias, sinar yang tadi sempat meredup kini kembali menyala berbinar.
Ailee menggeleng pelan, “Kau tak bisa tinggal disini Al...”
“Tapi kenapa?”
“Kau tak memberiku waktu, jika kau tetap berada didekatku...” Gamma menggeleng seolah tak menerima alasan Ailee.
__ADS_1
“Aku tak bisa Ailee...” Gamma menolak, mana mungkin ia bisa berjauhan dengan Ailee lagi, “Aku tak bisa jauh-jauh darimu...” Ailee menatap Gamma. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Ailee pun membawa tangannya untuk membelai wajah Gamma dengan sayang. Bukan hanya Gamma yang tersiksa bila berjauhan dengan Ailee, tapi juga Ailee, ia juga sama tersiksanya apalagi dikondisinya yang saat ini sangat membutuhkan Gamma.
Ailee mamasang senyum hangat dan memandang Gamma dengan mata teduhnya, “Kau harus bisa Al... sama seperti saat aku harus berjauhan denganmu karena kau yang memintanya, kau juga harus melakukan apa yang aku minta, ini hanya sementara saja saat semuanya telah membaik aku akan kembali padamu... aku janji...”
Gamma melihat permohonan dan keyakinan taguh di netra Ailee, ia pun memilih mengalah. Bagaimanapun sejak awal semua adalah salah Gamma, masih sangat beruntung Ailee hanya memintanya menjauh untuk sementara itupun dengan cara lembut. Gamma tak bisa membayangkan jika Ailee memilih menuruti perkataan orang tuanya untuk segera mengakhiri pernikahan mereka. Mungkin ia akan mati sekali lagi, sama seperti saat ia harus kehilangan Aily.
“Baiklah...”
Cup
Pria itu mengecup kening Ailee. Baiklah, saat ini Gamma memilih untuk menjauhi Ailee jika itu bisa membuat sang istri membaik dan memaafkannya. “Aku akan menunggumu Ailee, aku akan menunggumu sampai kau siap lalu kita akan membangun semuanya dari awal...”
Ehem
“Apanya yang membangun dari awal?” Suara bariton seorang pria yang tak asing didengar menggema dikamar Ailee saat itu. Adam menatap putra dan menantunya dengan pandangan tajam, terutama Gamma, ia menatap penuh ketidaksukaan seolah masih mengingat betul bagaimana putranya itu menyakiti Ailee dengan segala perbuatannya.
“Cih...” Adam menertawakan putranya, “Jadi apa kau tak akan berjuang mati-matian lagi untuk menemukan pusara Aily...?”
“Aku tak akan menyerah,” didekapan Gamma Ailee mendongak menatap rahang kokoh suaminya, ada rasa takut ketika Gamma mengucapkan jawaban untuk pertanyaan Adam. Sebenarnya Ailee berharap Gamma menyerah namun sepertinya Gamma sama sekali tak menyerah selama itu untuk Aily, ia lupa meskipun Gamma mengatakan mencintainya Ailee sama sekali tak bisa menghilangkan Aily dalam hati Gamma. Dia terlalu angkuh hanya karena Gamma berubah.
“Aku pasti akan mencari pusara Aily dimanapun dad menyembunyikannya aku pasti akan menemukan pusara itu. Bagaimanapun Aily juga istriku, aku hanya ingin mengunjunginya dan meminta maaf atas semua yang kulakukan pada putra kami... bersama dengan Ailee...” Gamma menundukan pandangannya, ia memandang Ailee yang juga tengah memperhatikannya. Ia tahu wanita dipelukannya itu pasti takut Gamma kembali melakukan segala cara demi Aily dan menyakitinya. Terbukti dari cengkraman erat Ailee di kaosnya.
“Ya akhirnya kebodohanmu itu menghilang juga, kau beruntung Ailee memaafkanmu... jika aku jadi dia aku lebih memilih bercerai dengan suami seperti dirimu...” Adam memandang keduanya, “Temui aku setelah makan siang... banyak hal yang ingin aku beritahu padamu...” Adam melenggang pergi begitu saja meninggalkan Gamma dan Ailee. Sepertinya pria itu juga tak mau lagi memaksa Gamma dan Ailee berpisah jika kejadiannya sudah seperti ini. Ailee terlihat benar-benar memaafkan Gamma, mana mungkin Adam tega menentang keputusan Ailee.
__ADS_1
Gamma akhirnya merasa lega, ia kembali memandang istrinya, “Sekarang kau tak perlu khawatir Ailee...” ia tersenyum hangat, senyuman yang jarang sekali dilihat Ailee, “Kau benar-benar telah memiliki hatiku bahkan seluruhnya... aku sudah merelakan Mikaily...” Ailee tersenyum. Gamma ternyata peka dengan ketakutan Ailee. Ia menggangguk percaya akan ucapan suaminya.
“Aku percaya padamu Al...” Gamma juga ikut tersenyum. Ia memandang Ailee dengan intens, entah berapa kali ia harus terkagum dengan kecantikan dihadapan matanya, dengan apapun Ailee selalu menggoda. Gamma beruntung tuhan memberinya kesempatan kedua untuk menemukan Ailee. Gamma memandang bibir Ailee, hasrat ingin mengecup bibir itu penuh kelembutan muncul dibenaknya. Gamma perlahan memisah jarak antar dirinya dengan Ailee, ia tak sabar ingin mendaratkan dan merasakan benda kenyal milik istrinya yang merah menggoda. Tetapi sebelum itu terjadi tangan Ailee menghalangi bibir Gamma untuk mengecup bibirnya.
“Jangan menciumku seenaknya. Walau aku sudah memaafkanmu tapi aku belum bilang kau boleh menyentuhku Al..." ujar sang istri dengan sarkas menimbulkan helaan nafas kecewa yang dikeluarkan Gamma.
Cup
“Tapi sebaliknya aku boleh mengecupmu dimanapun itu...” Ailee tersenyum nakal, ia mengecup pipi kanan Gamma, bermaksud menggoda pria itu.
“Bisakah kau menciumku disini?” Gamma menunjuk bibirnya.
“Itu terserah padaku... kau tak bisa bernegoisasi Al. Karena aku yang memeggang kendali...”
Gamma terkekeh, “Tapi mencium bibirku lebih nikmat Ailee... dibanding hanya mencium pipiku saja... bukankah kau pernah merasakannya?” Ia bermaksud menggoda istrinya dan Ailee terpancing. Ia terus memperhatikan bibir tipis Gamma dengan netranya, “Ada apa? Apa kau ingin menciumnya... tak masalah semua yang ada padaku adalah milikmu sayang...”
Pipi Ailee merona bagai kepeting rebus, “Al!!”
[]
Hi hmmm kalian pasti kangen ya setelah dibuat menunggu lama....
__ADS_1