MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Cemburu


__ADS_3

Drap drap drap


Suara derap langkah kaki yang bergesekan dengan lantai membuat seorang Gamma yang tengah menegak segelas air putih meletakan kembali gelasnya. Ailee berlari menuruni satu persatu anak tangga. Pagi ini wanita itu sudah begitu rapi dengan dress baby blue yang melengkapi harinya, tak lupa ia juga membawa tas selempang bewarna hitam. Ailee nampak terlihat jauh lebih muda pagi ini. Gamma mengintip Ailee yang sama sekali belum menyadari keberadaannya.


“Mau pergi kemana sepagi ini?” Wanita itu terlihat terkejut bahkan kedua bahunya bergetar karena suara bariton Gamma yang menggelegar.


Ailee membalik tubuhnya. Ia mendapati Gamma masih lengkap dengan piyama tidurnya namun dengan aura yang berbeda, pria itu terlihat jauh lebih seksi bahkan rambut hitam legamnya yang berantakan semakin memekatkan aura menggoda itu. Baru kali ini Ailee merasa terkagum akan sosok Gamma hingga tanpa sadar ia melamun sembari menatap suaminya dengan begitu intens.


“Kau tuli? Aku bertanya padamu Ailee...” Hingga Ailee pun tersadar karena Gamma sejenak ia meneguk salivanya sendiri, membasahi kerongkongan yang mendadak terasa kering.


“Aku mau ke cafeku Al... sudah lama aku tak kesana.” ungkap Ailee, masih dengan rasa gugup dan malunya karena menyadari bahwa ia baru saja jatuh dalam pesona Gamma. Untungnya pria itu tak menyadarinya, bila Gamma sadar pasti dia hanya akan membully Ailee.


“Semalam—“


“Oh iya semalam terima kasih... maaf sekali lagi aku terus membuatmu kerepotan dan tentang pelukan itu aku berjanji tak akan mengulanginya...” Ailee memotong ucapan Gamma. Entah berapa banyak kesalahan yang Ailee lakukan semalam. Dirinya bahkan malu mengingatnya. Memeluk Gamma, menangis dalam dekapannya bahkan tidur dibahunya. Ailee terus mengulangi hal yang bahkan tak Gamma sukai.


Huft


Tep tep tep


Gamma perlahan menghampiri Ailee, “Kenapa kau selalu saja berani memotong ucapanku..” Mata mereka bertautan. Gamma yang memandang Ailee seperti biasa, tajam dan menusuk sedangkan Ailee yang ketakutan, ia merasa membuat bencana lain di pagi harinya, “Semalam Valery menghubungiku... dia bilang Alpha ingin pulang. Jadi aku akan menjemputmu di cafe, kita akan kerumah orang tua Valery.”


“Kita? kau dan aku?”


“Kau jadi bodoh karena menangis semalaman ya? pergilah sebelum aku melarangmu pergi.” Hingga akhirnya Ailee bisa keluar dan menghirup udara segar. Pagi ini begitu terasa amat berbeda, ia mendadak canggung kepada Gamma. Terlebih Ailee selalu saja memperlihatkan sisi terlemahnya pada pria itu entah bagaimanpun ia menyembunyikannya selalu saja diketahui Gamma.


Ailee menggeleng karena terlalu pusing mengingat hal memalukan yang terjadi karena ulahnya. Samar- samar ia mengingat ucapan Gamma yang entah bagaimana muncul dalam benaknya.


‘Tuhan adil Ailee... dia kirimkan aku untukmu...’


“Tidak mungkinkan Al mengucapkan kata seperti itukan?” meski begitu hati Ailee tetap bergetar karenanya.

__ADS_1


[]


Sedangkan disisi lainnya. Dirumah keluarga baru Astoria. Wanita yang kini menyandang gelas istri orang itu tengah merangkap perannya menjadi selayaknya ibu kandung bagi Ellisha. Pagi ini Astoria begitu yakin dan berniat meluluhkan hati putri kandungnya, ia tak ingin Ellish terus membenci dan menghinanya seperti kemarin.


Srek


Astoria membuka gorden yang menutupi jendela kamar Ellisha, membiarkan sinar matahari menyinari wajah putri tersayangnya. Ellisha yang merasa terusik perlahan membuka matanya. Ia berusaha membiasakan sinar matahari yang tiba-tiba menyeruak masuk mengusik tidurnya. Dan perlahan melihat penampakan seseorang ada didepannya, dialah Astoria. Wanita itu tersenyum menyambut pagi harinya.


“Ellish kau sudah bangun?”


“Untuk apa kau dikamarku?” Ellisha balik bertanya dengan begitu sinis. Melihat Astoria ada dikamarnya sepagi ini sama sekali tak mengurangi rasa benci Ellish pada wanita itu. Gadis itu masih ingat betul bahwa selamanya pernikahan sang ayah dengan wanita dihadapannya sekarang tak akan pernah diterimanya.


Sedangkan Astoria membalas tatapan sinis Ellish dengan kelembutannya. Respon Ellish yang menurutnya tak mengenakan hati sama sekali tak membuatnya menyerah, ini baru permulaan perjuangannya, “Mom hanya ingin membangunkanmu dan mengajakmu sarapan bersama...” jawab Astoria tak mengurangi rasa ramahnya.


Ellish yang melihat perlakuan lembut Astoria padanya, memutar bola matanya karena jengah. Ia merasa wanita dihadapannya ini adalah seorang munafik yang sangat bermuka dua. Ia tak mengerti bagaimana ia terlahir dari rahim Astoria bahkan dadnya begitu mencintai wanita ini. Sungguh Ellish malu memiliki ibu seperti Astoria, “Aku tidak mau dan jangan sebut sebut dirimu mom. Kau bukan ibuku. Pergilah! lakukan peranmu sebagai pembantu ditempat lain! pergi!” Ia mengusir Astoria. Lalu kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, ia bergelung kembali didalam selimut.


“Ellish kumohon bangunlah dan makan sarapanmu... mom tak mengerti kenapa kau begitu membenci mom. Bagaimanapun aku hanya ingin berdamai denganmu, kita bisa menjadi selayaknya ibu dan anak...”


Astoria menggeleng pelan. Baiklah, hari ini ia akan menyerah membujuk Ellisha, putrinya. Namun tidak dengan lain kali, ia tak akan gagal lagi. Dan soal Ailee. Karena ucapan Ellisha, putrinya yang lain mendadak terngiang di dalam ingatannya. Wajah cantiknya yang tadinya begitu teduh dan penuh kelembutan menjadi penuh dengan tatapan benci ketika mengingat Ailee.


Ia bergumam setelah menutup pintu kamar Ellisha, “Jika Ailee penyebab dirimu tak bahagia. Maka mom akan merebut kebahagiaan itu darinya, Ellish.”


[][]


Hari mulai beranjak siang. Ailee mulai menyibukan dirinya sejak pagi tadi tiba di SA. Bahkan rasa sedihnya yang masih bersisa perlahan menghilang terganti dengan rasa senangnya. Kini ia tengah menghias satu persatu kue pesanan pelanggannya dengan begitu ceria. Hobi yang membuatnya selalu mengunjungi SA sampai detik ini. Ia juga tak sabar menyelesaikan semuanya karena hari ini ia bisa bertemu Alpha juga.


Tring tring tring


“Sebegitunya kau menyukai kue Ailee. Kau bahkan tak menyadari kehadiranku...” Ailee menoleh mengalihkan perhatiannya ke depan dimana ada Ars yang kini tengah memainkan bel pesanan.


“Oh yaampun Ars... kau disini.” Ia meletakan masing-masing peralatan kuenya dan melepaskan apron yang menempel ditubuhnya. Perlahan ia mengkode Ars untuk mengikutinya pada salah satu kursi cafe.

__ADS_1


Ia mengajak Ars duduk disalah satunya begitupun dengan dirinya yang duduk dihadapan pria itu. Mereka saling menatap dengan canggung, “Ehem.. jadi bagaimana kabarmu?” Ars membuka suaranya terlebih dahulu.


Ailee seperti biasa menyunggingkan bibirnya dengan begitu mempesona. Sampai sekarang senyuman itu selalu menjadi favorit Ars yang selalu ingin ia lihat, “Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja...”


“Aku merindukanmu Ailee.”


Tatapan mereka bertautan. Ailee mengarungi tatapan Ars yang 180 derajat berbanding terbalik dari tatapan dingin Gamma. Pandangan Ars padanya selalu meneduhkan bahkan benar-benar terdapat rindu yang bisa ia baca disana.


“Aku juga merindukanmu Ars.” Ucapan Ailee sempat membuat Ars yang ada dihadapannya begitu merasa senang dibuatnya, Ars merasa terbang oleh kata-kata Ailee, “Aku merindukan waktu yang kita habiskan sebagai teman...” Namun kata-kata itu juga melunturkan senyum tipisnya yang tak disadari Ailee. Hanya Ailee lah yang mampu menerbangkan lalu menjatuhkannya seperti ini.


Namun Ars tetap menanggapinya dengan santai, “Jika kau merindukan itu, kita bisa pergi kemanapun kau mau sekarang. Kita bisa menonton, melihat kembang api atau apapun itu... bagaimana?” ada secercah harapan dimata Ars berharap Ailee menyetujui pendapatnya.


Tak


“Tidak Bisa.” Suara Gamma mengejutkan mereka berdua. Ia meletakan coffee late  yang sempat pria itu seduh untuk menunggu Ailee dengan tak santai hingga membuat gelasnya berbunyi.


“Al...”


Gamma memandang Ailee tajam, “Kau tak lupa kan?” Ailee menggeleng keras, tanda ia tak melupakan janjinya dengan Gamma tadi. “Kalau begitu jangan membuatku menunggu.”


Ailee hanya mengangguk dengan patuh, ia memandang Ars dan mendekatinya, “Ars maaf mungkin kita bisa pergi lain waktu... aku akan pergi menjemput putraku. Maaf Ars.” Gamma memandang sambil tersenyum miring tanpa disadari Ailee. Mereka berdua saling menatap penuh permusuhan.


Arslan tersenyum, “Baiklah Ailee tak masalah...” Ia langsung mendekap Ailee begitupun Ailee yang juga menerima pelukan Ars dengan lapang. Bagi Ailee ia sudah terbiasa melakukan ini bersama Ars sebelum berpisah, namun tidak dengan Ars dia sengaja melakukan pelukan ini didepan Gamma demi memanasi pria itu. Dan diam-diam Gamma terpengaruh. Entah bagaimana hatinya memanas melihat Ailee berpelukan dengan pria lain selain dirinya.


“Ehem...” Gamma berdehem kencang, “Berpamitan pun harus berpelukan...” Ia menarik Ailee dari pelukan Ars dan malah mendekap wanita itu. Ia berharap sisa pelukan Ars atau bahkan perfum pria itu tak menempel ditubuh istrinya, alhasil Gamma memeluk Ailee tanpa sebab membuat wanita itu kebingungan.


“Al..”


“Ayo kita pergi...”


[][][]

__ADS_1


👋 Aku up All. Makasih ya mau menunggu lagi untuk update ini. Sorry aku rada lambat up karena sekarang udah mulai sekolah daring jadi aku sibuk sama tugas-tugas. Jangan lupa jempol kalian ya. Luv u❤😘


__ADS_2