MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Rumah Penuh Kenangan


__ADS_3

Kematian adalah hal yang bahkan sering terjadi. Setiap menitnya ada beribu hidup baru yang ditiupkan tuhan turun ke bumi, begitu pula setiap detiknya akan ada hal yang terengut dan terambil.


Seperti halnya Aily yang kini tak lagi ada. Algamma melewati harinya selama 5 tahun ini hanya untuk menangisi dan belajar menerima. Namun bagi pria itu setelah halnya kematian kita memang diwajibkan mengikhlaskan hanya saja kenanganlah yang menghalangi mereka untuk ikhlas akan direngutnya orang tercinta.


Dan kini Gamma dihadapkan pada tempat dimana semua awal ceritanya bersama Aily, wanita yang teramat ia cintai dimulai. Sebuah rumah yang tak megah juga tak terlalu sederhana. Hanya sebuah hunian nyaman berlantai 2 dengan warna putih tulang. Nuansa Classic yang mengelilingi rumah tak membuat rumah itu terlihat membosankan.


Dihiasi dengan bunga mawar merah yang mengelilingi gerbang-gerbang bewarna hitam.


Rumah yang sangat lama tak pernah ia lirik atau lihat lagi. Karena ia tahu hanya dengan membuka setiap pintunya, selalu terngiang Aily disana. Ia memandang Ailee, istri yang baru ia nikahi begitu pula dengan Alpha yang berada digendongannya.


Gamma membiarkan Ailee mengekorinya masuk kedalam hunian yang mungkin bagi wanita itu tak berarti apa-apa. Tapi bagi Gamma amatlah penting bahkan seharusnya tak ada orang lain termasuk Ailee berhak memasuki 'Rumah penuh kenangan'.


Cklek. Kriet


Bunyi pintu yang berdecit dengan lantai terasa amat merindukan. Gamma disambut hunian dalam yang juga bercat putih beserta perabotannya yang masih terawat bersih. Pasti Adam dan Ellen memerintahkan seseorang untuk selalu membersihkan rumah ini.


Saat masuk, disana ada dua tangga lantai dua yang terpisah oleh dapur yang ada ditengahnya. Dapurnya terhalangi tembok dimana ditembok tersebut ada perapian hangat dan diatasnya lah diletakkan foto prewedding Aily dan Gamma yang masih menempel apik disana.


Gamma memperhatikan foto besar berbingkai itu dengan intens. Ailee menyadari mata Gamma menyalurkan ekspresi penuh rindu dan kesedihan yang mendalam saat menatap foto didepan mereka kini.


"Apakah wanita itu Aily?" Ailee memberanikan dirinya bertanya. Gamma mengalihkan perhatiannya karena pertanyaan Ailee lalu balik lagi memperhatikan foto itu seperkian detik. Setelahnya ia mengangguk pelan.


Ailee ikut memandang foto itu. Pandangannya melembut, ia tersenyum lalu melirik Alpha. Mata anak itu sangat persis dengan ibunya, "Dia cantik..." Gumam Ailee yang dapat didengar Gamma.


"Ya... aku sangat mencintainya." Ailee menoleh karena ucapan pria disampingnya. Tatapan hangat yang penuh cinta. Ahh... betapa beruntungnya Aily bisa mendapatkan cinta yang sedalam dan sesetia itu dari sosok Algamma. Bahkan Ailee yang mungkin cocok menandingi kecantikan Aily, ia mundur secara perlahan. Gamma tak akan mencintainya sedalam dan setulus ia mencintai Aily.

__ADS_1


"Kamarmu ada diatas begitu juga dengan dia..." tunjuk Gamma pada Alpha. Yang sejak tadi memandang penasaran foto yang nampak tak asing. Itu seperti wajah mommy kandungnya yang pernah omanya tunjukan.


Lalu Ailee membawa Alpha juga kopernya untuk menaiki satu persatu tangga sebelum Gamma memandang istrinya seolah Ailee adalah wanita bodoh yang melakukan segalanya sendiri, "Tinggalkan kopernya disana... aku akan membawanya."


Ailee terkesiap sesaat, siapa yang mengira seorang Gamma akan berbaik hati begitu. Walau hanya sekedar membawakan koper Ailee, tetap saja ini baru pertama kali pria itu berbuat baik padanya. Biasanya dia akan menjadi pria acuh tanpa belas kasihan.


Ailee sampai dilantai 2. Disana ia disambut koridor rumah dengan banyak pintu bewarna coklat kegelapan yang memang terlihat pas dengan cat putih tulang. Wanita itu terlihat bingung ingin menebak satu persatu yang mana kamarnya karena Gamma sendiri tak memberikan petunjuk spesifik letak kamar itu.


"Alpha..." Ailee memanggil Alpha karena anak itu tak banyak bicara sejak sampai disini. Ia menatap bola mata yang biasanya berbinar terang kini menggelap karena terlihat mengantuk. Anak itu bersandar di ceruk leher Ailee kembali. Lalu Ailee kembali disibukkan dengan 5 ruangan disekelilingnya.


"Hah...." Ailee memutuskan memilihnya dari yang paling menarik. Dan pilihannya jatuh dikamar yang paling ujung sebelah kanan. Perlahan tapi pasti ia membuka pintu. Knop pintu sudah berada digenggamannya dan sudah siap Ailee putar.


Kriet


Kamar itu juga dipenuhi figura menggantung. Ada hasil usg dari umur 2 minggu sampai 8 bulan juga ada figura Gamma yang tersenyum hangat sembari menyentuh perut wanita yang tak lain Aily dengan sayang. Ailee menyentuh figura itu mengeluh pelan wajah Gamma.


"Kau terlihat bahagia memiliki Alpha saat itu..." gumamnya.


Lalu disana ada figura Aily yang difoto candid oleh Gamma. Pasangan yang amat bahagia namun sayangnya kebahagian itu harus punah karena pengorbanan besar yang Aily lakukan. Mengerti akan hal itu entah mengapa relung hati Ailee merasakan debaran kesedihan yang entah bagaimana datangnya. Bukan karena ia merasa ikut kehilangan melainkan ia merasa iri bahagia seperti itu tak pernah terjadi dalam hidupnya.


"Apa yang kau lakukan disini!"


Suara bariton pria yang tak lain Gamma bergema kencang. Tatapannya yang semula biasa kini berubah mendingin melihat pemandangan dihadapannya. Disana berdiri Ailee, wanita itu tengah menganggumi seberapa bagus ruangan yang Gamma sebut sebagai ruang terlarang. Seharunya tak ada yang bisa masuk kesini.


Ailee sedikit tersentak mendengar bentakan Gamma yang tiba-tiba, "Al... apakah ini kamar Alpha?"

__ADS_1


Mungkin Ailee mengira Gamma masihlah seperti sedia kala, ia berani bertanya karena sebelumnya pria itu menjawab dengan ramah, tentang Aily. Namun dugaannya salah, pria itu menghampirinya dengan ekspresi dingin yang menguarkan amarah. Ia menarik tangan istrinya dengan kasar bahkan jika Ailee tak menahan Alpha dengan satu tangannya anak yang tertidur itu akan terjatuh.


"Apa yang kau lakukan..." bisik Ailee pelan, "Alpha hampir terjatuh karenamu..." wanita itu ikut marah karena Gamma hampir membuat Alpha dalam bahaya. Bahkan Ailee tak sadar bila saat itu pergelangan tangannya memerah karena genggaman erat Gamma.


"Kaulah yang sembarangan." ujar Gamma memandang dingin Ailee, "Ruangan itu seharusnya tak pernah kau tapaki."


Ailee seperuhnya mengerti bahwa Gamma berubah menjadi dingin dan marah karena dia dengan sembarangannya memasuki ruangan itu namun Ailee juga tak tahu. Ia hendak mencari pembelaan, "Kau juga tak bilang padaku jika kamar itu tak boleh kulihat."


Gamma tersenyum miring, "Berpikirlah. Jika bukan karena dad aku tak akan membawamu kesini. Bahkan bagiku setiap sudut rumah ini menjadi tempat terlarang untukmu dan..." Gamma menunjuk Alpha yang tertidur begitu lelapnya, "anak itu."


"Anak ini putramu..." Ailee berusaha menahan diri dengan kata-kata Gamma yang menyakitkan.


"Ailee Kanedy ingatlah satu hal. Aku menawarimu menikah karena memang kita akan sama-sama diuntungkan... kau tak perlu memprotes apa yang kuucapkan, apa yang kulakukan atau bahkan kehidupanku sekalipun..." Gamma berbalik hendak pergi lagi.


"Tidurkan dia dikamar ujung kiri. Kutunggu kau dibawah. Ada banyak kesepakatan yang perlu kita bicarakan. Termasuk hukumanmu karena sembarangan berkeliaran."


Ailee mengumpat tanpa sadar. Ya selamanya bagi Ailee. Algamma adalah pria jahat yang bahkan tak punya sekecil apapun belas kasihan padanya. Wanita itu bingung bagaimana bisa Gamma mendapatkan banyak cinta yang berlimpah.


"Jangan sibuk mengumpatiku nona Ailee..."


[]


Hula hula. Jadi pengen eskrim wkwkw.


Hai jangan lupa jempol dibawah ya. Terimakasih atas kebaikan kalian.

__ADS_1


__ADS_2