MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Sandiwara dan Kecupan


__ADS_3

Setelah kemarin Ailee habiskan waktunya dengan banyak rasa penasaran kepada Ayah dan Gamma, ia tak kunjung mendapatkan jawaban. Mereka berdua seolah memang sengaja tak mau membahasnya dengan Ailee.


Hari ini pun Gamma hanya diam saja. Pria itu kini ada disampingnya tengah berfokus mengendarai mobil. Gamma akan membawa Ailee untuk menemui kedua orang tuanya alias akan mengunjungi rumah keluarga Canis.


Pria itu tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan semuanya. Kemarin meminta restu sang ayah dan kini kedua orang tuanya. Ailee sendiri yang mengalaminya harus menahan rasa geroginya saat bertemu orang tua Gamma. Karena bagaimanapun meski pernikahan ini bukanlah atas dasar cinta namun ini tetaplah pernikahan yang butuh restu setiap keluarga.


Semalam saat Gamma mengantar Ailee pulang ke apartnya pria itu meminta Ailee untuk melatih dirinya agar terlihat alami saat bersandiwara. Namun mau sebanyak apa pun ia berlatih tetap saja Ailee merasa akan canggung dengan pria yang akan nenjadi suaminya itu. Mereka tak dekat juga sikap Gamma yang memang sengaja tak membuka dirinya untuk Ailee. Pria itu benar-benar seolah menjalani semuanya karena kontrak.


Tak butuh waktu lama menempuh perjalanan ke rumah keluarga canis. Gamma membuka pintu mobilnya lalu berjalan memutari mobil, pria itu membuka pintu mobil Ailee dan menjulurkan tangannya. Ailee akui akting pria itu benar-benar luar biasa.


"Kekasihmu. Anggap saja aku begitu." ujarnya dengan suara yang lebih terdengar berbisik dengan pandangan menatap lurus kedepan. Tangan pria itu bergilya dengan lancar dipinggang Ailee. Membuat si empu setengah terjengkit kaget, ia sedikit geli dan risih. Ia memandang Gamma mengkode pria itu untuk melepaskan tangannya.


"Sandiwara tak perlu seperti ini kan Al..." Dia menggenggam tangan Gamma hendak menyingkirikannya namun justru pria itu semakin erat merengkuh pinggang ramping Ailee.


Gamma menatap tajam Ailee, "Aku benci pengacau Ailee. Tetaplah diam dan ikuti aku." suara Gamma berubah menjadi ditaktor. Dia tak membiarkan Ailee melepaskan pegangannya.


"Tapi aku tak suka Al..." bisik Ailee tetap tak setuju. Gamma tak menggubrinya, ia memaksa Ailee berjalan mengikutinya. Sedangkan Ailee memandang tak suka Gamma.


Saat mereka hendak memasuki rumah megah Gamma. Ellen yang menggandeng tangan Alpha kecil berjalan keluar hinga bertepatan dengan putranya itu. Ia menatap putranya dan Ailee, wanita yang dirasanya tak asing. Ellen juga terlihat fokus memperhatikan tangan Gamma yang dengan enaknya terkait dipinggang Ailee.


"Gamm..." Ellen mempertanyakan Gamma dengan tatapannya.


"Mom... Dad dimana? Aku mau bertemu dengan calon istri ku juga." ucap Gamma santai dengan intonasi yang memperjelas bahwa wanita disamping Gamma adalah calon yang ia bawa.


Ellen beralih memandang wanita disamping Gamma yang terasa tak asing. Ia berusaha mengingat siapa wanita itu. Lalu saat Alpha yang samar tadinya menundukan kepalanya malah tersenyum lucu pada Ailee Ellen baru mengingat bahwa gadis ini adalah seseorang yang Alpha sebut-sebut 'mommy-nya'


Ellen tersenyum, "Yaampun mom baru ingat... kamu Ailee kan?" Ailee mengangguk dengan ramah sebagai jawaban.


"Gamm? jadi hubungan kamu sama Ailee?"


Gamma tersenyum penuh keyakinan, dia semakin membawa Ailee mendekat pada dirinya, "Dia wanita yang akan kunikahi mom bukan Ellish."


"Kalian ser─"


"Mom aku ingin bertemu dad..." potong Gamma.


"Ah tentu saja sayang..." Ellen membawa putranya dan Ailee masuk kedalam rumah dan entah sejak kapan Alpha yang semula ada didekat Ellen, anak itu kini malah berada diatas gendongan Ailee. Dia terus memeluk leher Ailee yang dirasanya nyaman. Gamma yang sudah melepas lingkarannya pada pinggang Ailee memperhatikan wanita dan putra kecilnya diam-diam.


'Aku tak menyangka mereka sudah sedekat itu' Gamma bicara dalam hatinya. Pikirannya sedikit melayang memikirkan dan berandai bahwa wanita yang saat ini menggendong Alpha adalah ibu kandungnya, istri yang paling Gamma cintai. Mungkin mereka akan menjadi keluarga yang paling harmonis. Namun sayangnya yang berdiri tak jauh dibelakangnya itu hanyalah Ailee dan Alpha, putra yang sampai sekarang tak Gamma sayangi.

__ADS_1


'Bersama mereka tak mungkin aku bahagia. Hanya Aily lah yang sepatutnya disana. Menggendong putraku'


[]


Gamma dan Ailee saling berhadapan dengan kedua paruh baya yang tak lain adalah orang tua Algamma. Mereka terus memandang Ailee dan Gamma penuh tanda tanya. Terlebih akan kabar Yang Gamma berikan bahwa ia akan menikahi Ailee.


"Ailee kapan kau mengenal Gamma...?" Adam memandang Ailee penuh selidik.


Ailee terlihat Gugup dipandang demikian namun sebuah tangan yang kokoh milik Gamma menggenggam jemari lentik Ailee. Pria itu membuka suaranya mengambil alih menjawab pertanyaan sang ayah, "Kami tak kenal lama dad." jawabnya sarkas.


"Aku tak bertanya pada dirimu Gamm..." lalu ia beralih tatap ke Ailee, "Jika kalian tak mengenal lama kenapa tiba-tiba menikah?"


"Bukankah dad juga begitu. Aku tak kenal Ellish dan kalian malah seenaknya mau menikahkan ku dengannya...." protes Gamma menyindir kelakuan Adam yang main menjodohkan Gamma dengan Ellish.


"Memangnya kau tau apa?" Adam ikut protes sedangkan sang istri hanya bisa berdiam diri. Ia bisa menebak jika seperti ini akan dibuka sesi berdebat antar anak dan ayah itu lagi.


"Aku tau. aku punya dad yang see─" Ailee yang sejak tadi berusaha menghalau rasa gugupnya melepaskan genggaman Gamma. Ia sedikit kehilangan saat melepas itu karena gadis itu tak menyangka dibalik seorang Gamma yang ditaktor dan dingin ada tangan hangat disana.


Ia memberanikan diri membuka mulutnya untuk bicara, "Om, tante..." Ellen, Adam dan Gamma menghentikan perdebatan dan mengalihkan pandangan ke arah Ailee. Saat ini Ailee sepenuhnya jadi pusat perhatian. "Aku mencintai Al... sejak pertama kali bertemu..."


Telinga Gamma yang mendengar itu dengan sangat jelas sedikit terpekik karena ucapan Ailee yang dirasanya tiba-tiba. Ia memandang wanita yang akan ia nikahi kontrak itu dari sudut matanya. Netra Ailee benar-benar tak bisa terdefinisi, tak terbaca. Membuat Gamma sendiri yakin dan pasti bahwa itu hanyalah kebohongan namun tak sedikit pria itu merasa takut jikalau ucapan Ailee adalah benar. Ailee tak boleh jatuh cinta padanya.


"Ash..." Gamma meringis saat Ailee menginjak kakinya dengan sepatu hak tingginya. Ia memandang marah Ailee. Namun gadis itu malah memelototinya dengan kesal dan seolah mengkode untuk berakting dengan benar.


Cup


Algamma mengecup kening gadis dipelukannya dengan lembut seolah memperlihatkan betapa dua sejoli didepan orang tuanya ini benar-benar jatuh cinta. Ia beralih menatap Ellen dan Adam, "Dad aku dan Ailee saling mencintai..." ujarnya dengan nada permohonan.


Adam mengangguk samar, ia meminta persetujuan Ellen dan sang istri juga menerima dengan lapang. Ellen malah menjadi yang paling senang bila Ailee menjadi menantunya. Dia baik dan memang cocok menjadi 'mommy' untuk sang cucu.


"Baiklah..." Gamma harap-harap senang, "Tapi sebelumnya, kau tak mencintai Ailee karena dia mirip istrimu, Aily itukan?" Adam bertanya penuh selidik. Dia sedikit masih tak yakin. Karena bagaimanapun pria paruh baya itu jelas lebih tahu putranya, saat ditinggal pergi Aily selamanya pun Adam begitu susah payah menemukan Gamma yang enggan pulang. Dia bahkan terus menyalahkan Alpha atas meninggalnya Aily.


"Dad... aku tak seperti itu... "


"Kau taukan Gamm? resiko apa jika berbohong padaku... "


Gamma serius, "Ailee dan Aily berbeda dad... aku mencintai mereka..." ungkapnya.


"Lalu apakah dengan adanya Ailee kamu bisa mencintai Alpha?"

__ADS_1


Gamma terlihat berpikir, "Dia Putraku."


"Hmmmh baru sekarang kau bilang dia putramu kemarin-kemarin dia malah seperti putraku..." sindir Adam.


"Jika kalian memang saling mencintai. Aku akan merestui kalian menikah tapi dengan syarat..."


"Apa??" Ailee dan Gamma bertanya dengan berbarengan.


Adam tersenyum mencurigakan, "Pertama Tanggal pernikahan aku yang tentukan, Kedua setelah kalian menikah kalian akan tinggal dengan Alpha dan yang ketiga dalam waktu 2 bulan kalian harus memberikan Alpha adik, cucu keduaku..." pria itu tersenyum puas telah menjabarkan masing-masing syaratnya.


Gamma dan Ailee saling memandang karena persyaratan ketiga ayah Gamma yang dirasa mereka terlalu sulit. Gamma bahkan lupa bahwa pria didepannya itu adalah pria gila yang begitu seenaknya.


"Dad kita belum menikah dan kau sudah memikirkan momongan."


"Lalu kenapa?" Ia bertatapan dengan Gamma yang seperti terus protes padanya.


"Itu terlalu cepat om..." kini berganti Ailee yang protes.


"Kalian setuju atau tidak? Kalau tidak ya tak usah menikah." Adam mengungkapkan semuanya dengan begitu enteng. Ia seperti memeggang remote control atas Gamma.


"B--bukannya kami tak set─"


sanggahan Ailee dipotong oleh Adam, "Baiklah kalian setuju..." Dia mengangguk-anggukan kepalanya sembari menatap istrinya penuh paripurna, "Pernikahan kalian 2 hari lagi."


"Dad!!!"


"Ingat aku yang memutuskan..." Adam lalu mengajak istrinya, Ellen. Ia meninggalkan dua sejoli itu. Ailee yang kebingungan dan Gamma yang berdiri mengepalkan tangannya karena kesal akan ulah sang ayah. Ia kira membawa Ailee adalah kartu Asnya. Namun tetap saja Adam adalah Adam, dia selalu seenaknya bahkan ketika Gamma sekalipun membawa Ailee pengganti Ellish.


2 hari? itu terlalu cepat.


[][]


Hi Aku kangen kalian gaess. Hihi kalian kangen aku gak btw? wkwkw


Sorry baru update lagi. Kemarin aku udah bilang lagi ulangan nah sekarang aku lagi sempetin up buat kalian. Aku takut kalian kabur hehe.


Jangan kabur ya berat Author gak kuat.


SEE you :*

__ADS_1


__ADS_2