MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Aku Mencintainya


__ADS_3

Mata Ailee tak berhenti memburam karena air mata yang terus berulang kali menutup pandangannya. Ia ingin menahan sekuat tenaga, mengingat ada Alpha disampingnya. Ailee pikir ia tak boleh lemah dihadapan anak itu. Alpha tak boleh mengkhawatirkan dirinya ditengah hari bahagianya ini. Namun begitu sulit dadanya terus merasakan sesak. Semua tingkah laku Gamma pagi ini sudah begitu menyesakkan hatinya.


“Mom... mom tak apa?” Alpha begitu peka melihat keterdiaman Ailee. Ia meneggakan bahunya untuk melihat wajah Ailee yang begitu fokus mengendarai mobilnya. Wanita itu menoleh memaksakan senyum palsunya lalu kembali menghadap ke depan dimana jalanan terbentang dimatanya.


“Alpha tak perlu khawatir... hari ini sayang mommy hanya perlu menikmati sekolahnya dengan bahagia...”


Tak berapa lama Ailee dan Alpha sampai disebuah gedung play group yang menjulang tinggi. Ailee menggandeng Alpha untuk turun dari mobilnya. Ia merapikan baju putranya yang terlihat tampan itu masih dengan sisa-sisa kesedihan. “Nah sekarang Alpha bisa sekolah dengan tenang...” ujarnya terlihat bangga.


Ditengah itu Alpha memperhatikan Ailee. Alpha merentangkan kedua tangannya, membuat Ailee tak mengerti, “Peluk aku mom...” pinta Alpha dengan bibir kecilnya. Ailee pun menuruti, ia memeluk Alpha dan menikmati pelukan itu. Sungguh tak menyangka tubuh yang bahkan begitu mungil itu mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan yang bahkan tak bisa Ailee rasakan dari seorang Gamma.


Tangan Alpha tanpa disangka mengelus pelan rambut Ailee, baru beberapa bulan semenjak sang ayah menikah dengan Ailee. Wanita itu mampu membuat Alpha secandu ini, rasanya Alpha hanya ingin cepat tumbuh dan melindungi Ailee, ibu yang sangat dicintainya. Anak itu tak pernah menyangka setelah sekian lama tak mendapatkan rasa cinta dari seorang ibu kini ia menemukannya didalam hati Ailee. Wanita itu begitu tulus...


“Mom... Alpha pernah bilang, Alpha tak masalah hidup tanpa dad. Alpha tak mengharapkan kasih sayang darinya lagi. Jadi jika mom sedih, kita bisa pergi bersama kemanapun itu Alpha akan selalu ikut...”


Mendengar ucapan itu membuat Ailee melepas pelukan mereka, ia memandang Alpha tak bisa mengerti bagaimana bocah yang bahkan belum fasih membaca alphabet itu bisa mengeluarkan kalimat penghiburan semudah itu. Alpha seperti memintanya untuk menyerah pada Gamma dibanding memilih menyakiti dirinya lebih lagi.


Tes


Cup


Dengan bibir mungilnya Alpha mengecup kening Ailee. Ia pernah dikecup seperti ini sebelumnya, oleh bidadari cantik didepannya ini. Alpha terlalu terbiasa melihat senyuman manis Ailee yang menghipnotis dirinya, ia tak terbiasa melihat ibunya menangis setiap kali dadnya melakukan sesuatu. Dan Alpha tak ingin melihat itu lagi.

__ADS_1


“Alpha sangat sayang mommy, jadi ayo pergi kemanapun asal mom tak menangis lagi...” Ailee mengangguk. Bibirnya tersenyum dengan deretan gigi yang terlihat. Namun matanya tak berhenti mengalirkan air mata. Ia menangis namun juga bahagia. Bahagia karena disaat tiada siapapun lagi yang bisa mengerti Ailee, anak sekecil Alpha mampu memahami rasa putus asanya. Dan sedih, karena itu artinya Ailee tak bisa lagi melihat Gamma. Nyatanya ia terlalu tak sanggup bersama dengan pria itu. Ailee tak bisa menunggu sesuai janjinya, ia tak bisa menunggu sampai Algamma memintanya untuk benar-benar pergi. Ini terlalu melelahkan.


[]


“Aku menyerah padamu..”


Kata-kata itu bagaikan lagu yang terus berputar ria dipikiran Gamma. Suara yang terdengar penuh kesedihan dan rasa putus asa. Mengambil seluruh fokusnya. Semenjak mengatakan itu Ailee yang biasa dilihatnya selalu menari-nari didapur setiap pagi, sampai saat ini belum terlihat kehadirannya. Dia yang selalu menyapa pagi hari Gamma dengan senyuman lalu menawarkan sarapan dengan bau mengguggah selera tak nampak lagi. Wanita itu benar-benar pergi, menghilang dan menyerah seperti ucapannya.


Ada rasa dimana Gamma begitu ingin menemui Ailee. Mungkin wanita itu kabur membawa Alpha kerumah orang tuanya. Ya hanya itulah yang ada dalam pikiran Gamma. Namun perasaan itu terpendam dalam rasa kebingungan. Mengapa ia menjadi sepanik ini tak ada Ailee dirumahnya. Semuanya terasa sepi. Bukankah ini yang selalu diharapkan. Tak masalah setahun itu tak lama, ia hanya perlu hidup setahun lalu perjanjian itu selesai dan mungkin Ailee sudah memberi tahu momnya bahwa dia hamil. Meski itu Gamma akui bukan anaknya tapi tak masalah bukankah dengan begitu Gamma tak perlu repot meminta Ailee dan meminjam rahimnya.


Tapi mengapa Gamma merasa semua itu salah. Ia marah Ailee hamil tanpa Gamma mengetahui segalanya. Dan kini wanita itu bilang menyerah dan tak kembali hingga kini. Bayang-bayang wanita itu yang menangis sedih karena Gamma membuat Gamma semakin sakit. Pria itu bingung harus melakukan apa. Dia menegak satu persatu botol wine yang begitu berantakan dilantai rumahnya. Cairan memabukan itu terus tercecer dikemeja putih dan lantai.


Gamma duduk bersandar diatas lantai ruang keluarga. Dengan lampu tamaram yang sampai pagi ini masih menyala. Bersamaan dengan perginya Ailee, Gamma juga tak pernah lagi hadir dikantornya. Ia menenggelamkan dirinya dalam perasaan bingung, marah yang tercampur aduk dan memilih untuk memabukan dirinya. Berharap bisa meringankan beban perasaan ini.


Cklek


Kriet


Sebersit sinar yang ditangkap mata Gamma membuatnya menyipit. Pintu rumahnya terbuka begitu saja, “Ailee...” Gamma yang saat itu mabuk tanpa sadar berlari ke arah pintu yang terbuka. Alangkah senangnya hati Gamma menyangka itu adalah Ailee. Namun ia salah kira. Dia Aiden, pria itu menangkap tubuh Gamma yang hampir terjatuh karena berjalan dengan cara yang salah. Pria itu terlihat terburu-buru dengan bau alkohol menyertainya. Sungguh semerbak.


“Ailee.. mana Ailee...?” Gamma terus mencari-cari Ailee dalam dekapan Aiden. Ia berharap Aiden mungkin datang bersama istrinya itu.

__ADS_1


“Apa-apaan kau ini?!”


Brugh


Aiden membanting tubuh Gamma diatas sofa. Ia terkejut melihat seluruh rumah sahabatnya begitu tak tertata dengan banyak botol wine juga baunya yang begitu menyengat diindra penciumannya. Niatnya mengetahui kabar Gamma yang tak masuk kekantor beberapa hari ini tanpa memberi kabar, cukup membuat Aiden kesusahan. Dan kini ia dihadapkan pada keadaan kacau Gamma yang seperti ini.


“Ada apa denganmu Gam! Astaga...” Ia mengusap wajahnya. Hanya satu alasan yang bisa membuat Gamma sekacau ini. Pasti pria itu sedang dalam kondisi frustasi dan terjebak dalam situasi yang buruk. Tapi bila Gamma  sedang dalam kondisi seperti ini dia pasti selalu melibatkan Aiden didalamnya tetapi ini... Aiden sampai tak menyangka pria itu hampir menghabiskan seluruh botol.


“Apa kau merindukan Mikaily hah? Kau masih tak ikhlas dengan kepergian Aily? akukan sudah bilang cobalah mengikhlaskannya...”


Gamma memandang Aiden yang terus mengomel. Netranya penuh kekacauan. “Ak—aku tidak merindukan Mikaily Aiden... aku tidak merindukannya...”’


“Aku merindukan Ailee, aku takut dia pergi... tolong bawa dia padaku, aku mencintainya...” Dalam kebingungan itu. Gamma hanya bisa mengambil satu kesimpulan. Ia marah saat Ailee membohongi pernikahan pertamanya, ia marah saat hubungan Ailee dan Arslan bukanlah hubungan yang biasa, ia sakit melihat wanita itu menangis, dan ia ingin selalu melihat senyum Ailee. Gamma mencintai Ailee


”Hah!!?”


[][]


Hohoho ini yang kalian mau kan wkwkw.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2