
"Jangan tinggalkan aku..."
Kalimat yang penuh dengan nada permohonan yang didalamnya diliputi pula dengan gejolak ketakutan. Baru hari ini Ailee melihat lemahnya Gamma disepanjang hari mereka. Satau Ailee sepanjang bersama Gamma, pria itu selalu menjadi sosok yang mampu Ailee benci kehadirannya. Namun kini dihadapannya, wajah gamma yang remang-remang disinari cahaya ponselnya terlihat begitu membutuhkan Ailee.
Ada rasa senang ketika Ailee bisa melihat sosok lain Gamma. Ia duduk disamping pria itu yang terus menggenggam tangannya begitu erat. Seolah saat ini Gamma takut Ailee akan pergi meninggalkannya. Terbit senyum dibibir Ailee yang tak bisa dilihat Gamma.
"Ehem..." Ailee mencoba membuka suaranya. Wanita itu merasakan canggung dalam gelap, posisi mereka tak biasanya sedekat ini terlebih Gamma yang hanya diam saja membuat suasana malam itu terasa meneggangkan, "Al... kau takut gelap?" Ailee memberanikan bertanya.
Namun pertanyaan Ailee hanya dijawab hembusan nafas pria itu yang masih terdengar sesak. Saat Ailee terlalu kesal karena Gamma tak menjawab pertanyaannya, ia ingin menggoda Gamma ia hendak melepaskan pegangan erat Gamma tapi sekali lagi pria itu menarik tangannya dan mengeratkannya lagi.
"Tolong jangan mempermainkaku Ailee..." ujar Gamma masih dengan suara serak nan lemah. Ia mencoba memejamkan matanya namun hal itu sama sekali tak membantu. Gamma masih merasa tak nyaman.
"Baiklah aku tak menggodamu lagi Al. Anggap saja kau memang takut dengan gelap."
"Kau tau Al... saat aku kecil dulu. Aku juga takut kegelapan seperti dirimu..." Ailee menjeda suaranya ia memandang langit yang bahkan sama sekali tak ada cahaya disana. Ailee hanya melihat ingatan dan memutarnya, "Aku takut karena saat itu selalu ada yang menemaniku untuk menghadapinya. Ada ayah ada ibuku. Namun hal pertama yang menemaniku saat ayah dan ibuku pergi adalah kegelapan itu sendiri. Dari sana aku mempelajari bahwa sesuatu yang suram tak selamanya menyeramkan..."
Ailee tersenyum tanpa sadar mengingat masa-masa itu. Ketika Alferd dan Astoria selalu menghabiskan waktunya dengan bertengkar, Ailee selalu pergi kekamarnya dan mematikan lampu berharap suara dan teriakan kedua orang tuanya tak lagi terdengar memekakan telinga. Dulu hati Ailee sakit saat bahagianya diambang kehancuran namun sejak awal Ailee lah yang naif, dari dulu ia tak pernah mendapatkan kasih sayang baik saat orang tuanya baik-baik saja atau saat mereka memutuskan berpisah. Ailee hanya benci mengakui bahwa keluarganya bukanlah keluarga yang harmonis.
Ailee sekali lagi hendak melepaskan pegangan erat pria disampingnya kali ini wanita itu tak berniat menggoda Gamma, ia memaksa pria itu untuk melepaskan tangannya, "Tenanglah Al... aku tak tau penyebab traumamu tapi mungkin ini bisa membantumu, percayalah."
Suara lembut yang menggoda siapapun untuk mau tak mau mempercayai setiap kalimat yang keluar dari mulut Ailee. Terdengar meyakinkan dan menenangkan hingga tanpa sadar Gamma mau melepaskan kunciannya pada tangan Ailee. Ia membiarkan wanita itu pergi entah kemana sembari berharap cemas.
__ADS_1
Srek
Suara horden yang dibuka Ailee membuat Gamma menyadari bahwa wanita itu hanya pergi beberapa langkah darinya. Ia membuka horden kain yang menutupi jendela besar yang dua kali lipat lebih besar dari tinggi Gamma. Jendela itu membingkai semua pemandangan kota Maldive dimalam hari bersama dengan langit-langit berbintangnya. Hingga wajah Gamma ikut bersinar terterpa cahaya bulan diatas mereka.
Ailee menghampiri Gamma dengan senyuman yang terus tersungging dari bibirnya. Ia seolah puas dan percaya diri bahwa idenya mampu mengatasi ketakutan Gamma. Ia bangga sudah membuat pria itu berutang budi padanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Ailee dengan begitu pede. Tetapi Gamma hanya memandangnya penuh dengan pandangan yang tak bisa Ailee mengerti maknanya. Ailee mendadak gugup ditatap sedemikian intens oleh Gamma. Bagaimanapun kejamnya Gamma dia adalah pria dengan tampang yang juga tipe Ailee. Ditatap seperti itu membuat jantung Ailee bedegup tak karuan.
"Ka--kau tau saat pertama kali aku begitu takut gelap..." Ailee mengalihkan pandangannya kedepan memutus kontak mata antara mereka berdua, "Aku memandangnya dengan bintang, mereka selalu indah dipandang." Gamma masih menatap Ailee tanpa mengucapkan sepatah kata hingga akhirnya pria itu menatap pemandangan yang terhampar luas dihadapannya.
"Terima kasih..." ujarnya yang memang terdengar tulus tanpa paksaan. Ailee tersenyum tanpa sadar karena baru saja ia dapat mendengar kata langka dari mulut Gamma.
Hingga sampai tengah malam tiba Gamma dan Ailee. Keduanya terlelap ditengah kegelapan yang disinari dengan gemerlap cahaya bintang dan bulan dihadapan mereka. Gamma membiarkan Ailee bersandar sebentar dibahunya. Ia tak pernah menyangka bahwa selain Aily, wanita yang begitu dicintainya. Ailee Kanedy adalah yang kedua yang mampu mengatasi ketakutannya pada gelapnya malam.
[]
Namun baru saja Gamma membicarakan Ailee dalam hatinya wanita itu muncul diambang pintu. Ia membawa nampan yang diatasnya adalah mangkuk juga segelas susu. Gamma tak bisa menebak apa isi dari mangkuk tersebut.
Ailee menyambut Gamma yang setengah duduk dengan senyuman. Pria itu bangun tanpa Ailee membangunkannya. Dia menghampiri Gamma dan meletakan nampan dengan hati-hati diatas nakas disamping ranjang.
"Baguslah kau sudah bangun Al..." ujarnya penuh dengan kebahagiaan. Baru semalam Ailee banyak bicara pada Gamma meski pria itu tetap sepatah dua patah menjawabnya. Namun Ailee merasa sudah sangat dekat dengan Gamma. Terlebih saat mengetahui pagi hari tadi mereka terbangun dengan kondiai berpelukan yang mungkin tak akan diterima Gamma.
__ADS_1
"Ini sarapanmu..."
Gamma melirik mangkuk dan segelas susu itu, ia mengernyit tak suka, "Bubur?" Ailee mengangguk pelan.
"Bubur hanya untuk orang sakit Ailee. Apa kau tak tahu hal sepele seperti itu..." nada bicara Gamma kembali menjadi sinis seperti biasanya. Namun kembali Ailee memakluminya, ia tahu Gamma mungkin seperti itu karena memang tak menyukai Ailee bukan karena dia membencinya. Dia sama seperti Alpha yang harus dekat terlebih dahulu terlebih ada beberapa penghalang diantara Ailee dan Gamma yang membuat mereka susah terbiasa.
"Dan kau orang sakitnya..." Ailee tersenyum menang, "Kau tahu semalam kau demam bahkan sekarang pun suhu tubuhmu belum benar-benar turun, jadi apakah salah memasakan bubur untukmu?"
"Kau tak perlu mempedulikanku."
Ailee duduk disamping Gamma, ia mencoba memperluas kesabarannya pada pria yang tak tau terima kasih didepannya ini, "Aku ingat semalam siapa yang begitu takut sampai menahanku untuk pergi dan sekerang kau menolak kebaikanku?"
"Aku ingat hingga pagi ini listriknya belum ada tanda-tanda akan menyala." Ailee memandang sekelilingnya, "Dirumah akan terasa membosankan, jika aku jalan-jalan mengelilingi Maldive bukankah itu ide yang bagus?"
"Ini adalah bulan madu kita. Jangan berani kau untuk meninggalkanku!" Mata Gamma memandang Ailee begitu menusuk. Ailee tak lagi takut dengan pandangan itu, justru ia hampir tertawa dibuatnya.
Ailee membawa mangkuk berisi bubur keatas pangkuannya, "Aku sudah menebaknya. Jadi buka mulutmu," Dia membawa sendok berisi bubur kedepan mulut Gamma, "jangan egois Al aku tau kau membutuhkanku, lekaslah sembuh agar kau kembali menjadi Al yang pemberani bukan penakut seperti ini..." Ailee tertawa ringan.
"Kau..."
[][]
__ADS_1
Aye aku up lagi nih. Ini lanjutan part sebelumnya ya. Silahkan dibaca dan dinikmati. Terima kasih 😘💕