MY BELOVED WIFE

MY BELOVED WIFE
Sebentar Saja


__ADS_3

Satu bulan 2 minggu...


Satu bulan berlalu begitu cepat. Bagi Ailee itu artinya waktunya bersama Gamma semakin sempit dan sedikit. Sedangkan bagi Gamma yang tak pernah ingin bersama dengan Ailee, mungkin ini belum cukup ini masih terlalu lambat. Pria itu mana berharap terus bersama Ailee selamanya belum genap setahun pun Gamma sudah banyak menyakiti Ailee dengan segala perlakuannya.


Tetapi entah banyaknya luka yang Ailee terima sejak dulu. Baginya luka yang paling berat adalah penolakan Gamma. Ailee sakit namun rasa sakit itu malah semakin menguatkan tekadnya untuk bertahan bersama pria itu. Meski dihatinya hanya ada Aily semata, meski pria itu berulang kali mengingatkan tak akan pernah lagi jatuh cinta. Ailee tetap berdiri.


Tak ada yang menarik dihubungan mereka kali ini. Meski awal pernikahan banyak hal membahagiakan yang terjadi yang bahkan dalam waktu singkat itu ternyata Ailee menyadari bahwa ia jatuh dalam pesona suaminya. Namun semenjak itu pula Gamma berubah menjadi semakin dingin lagi padanya. Ia membangun tembok terkokoh yang waktu itu sempat dirontokan Ailee. Karena berdekatan dengan wanita itu hanya membuat rasa bersalah Gamma semakin besar. Wajah Aily yang tersenyum bahagia diatas sana selalu terbayang dipikiran Gamma. Bagaimana ia bisa jatuh cinta lagi sedangkan saat-saat terakhirpun Gamma meninggalkan Aily sendiri.


Awan terlihat begitu cerah siang ini. Hari ini adalah hari weekend dimana semua kegiatan wajib yang biasanya dilakukan diliburkan. Begitu pula dengan Ailee juga Gamma yang posisinya dia sendiri pemilik perusahaan besar. Pria itu kini tengah merenung menatap langit dan pemandangan kota dibalkon kamarnya. Seharian itu Gamma tak berniat keluar.


Sedangkan Ailee begitu rapi dengan dress putih selutut miliknya. Wanita itu mematut dirinya dikaca, melihat apakah penampilannya tak berlebihan untuk sebuah ajakan seorang mantan suami. Dia Ars. Semalam pria itu menghubunginya, memohon pada Ailee agar mau diajak ke suatu tempat. Ailee yang suntuk kerena setiap weekend Alpha hanya akan menghabiskan waktunya dirumah omanya, memilih untuk menyetujui ajakan Ars meski ia tak yakin akan diizinkan oleh Gamma. Tapi toh Ailee berpikir Gamma tak akan peduli dengan urusannya itu.


Tok tok tok


Ailee mengetuk pintu kamar suaminya. Samar-samar wanita itu pun mendengar suara Gamma dari dalam kamar yang menyuruhnya untuk masuk. Ailee pun segera melangkah memasuki kamar sakral itu. Tempat kenangan buruk yang membuat hatinya selalu bergetar melihat kamar itu. Ingatan malam dimana Ailee menyerahkan segalanya pada Gamma menjadi luka terbesar yang Gamma buat. Lihatlah pria itu setelah melakukan hal yang begitu tak biasa dia masih terlihat santai tanpa beban bahkan mungkin Gamma tak ingat kejadian malam itu. Sakit rasanya ketika penyatuan adalah hal yang paling dinantikan setiap pasangan sedangkan yang dialami Ailee kebalikannya. Bukan hanya tak ingat melakukannya, Gamma bahkan hanya terbayang wajah Aily dan terus menyebut cinta atas namanya.


“Ada apa?” tanya Gamma yang kini memandang Ailee. Entah perasaannya atau tidak, Ailee terlihat pucat hari ini.


Ailee tersadar dari lamunannya, “Itu Al ak—aku minta izin keluar hari ini dengan seseorang...” ujarnya terbata. Gamma mengernyitkan dahi, seseorang?


“Siapa?”


“Arslan...” Ailee menjawab seolah mengerti maksud Gamma. Ia sama sekali tak menyadari bahwa jawabannya barusan berhasil membuat hati Gamma mendidih dibuatnya. Lagi dan lagi Ailee selalu harus terlibat dengan pria bernama Arslan itu yang jelas Gamma sama sekali tak menyukainya. Apalagi melihat kebenaran bahwa Ailee pernah menikah dengan pria itu.


“Terserah kau. Lagipula itu urusanmu.” Gamma kembali berjalan ke arah balkonya. Sedangkan Ailee dengan perasaannya yang sakit melihat Gamma sama sekali tak peduli padanya  hanya bisa memilih pergi. Ia padahal sedikit berharap kembali melihat tatapan cemburu yang Gamma biasa perlihatkan padanya saat membahas Ars.


Setelah tak lagi mendengar langkah kaki Ailee. Gamma menatap pemandang tak lagi asri, ia mengepalkan tangan kanannya seolah tak suka akan sesuatu. Ia tak suka Ailee selalu bersama dengan Arslan terlebih kini Gamma memilih menjauh dari wanita itu. Entah berapa kali istrinya itu bertemu dengan mantan suaminya.


“Biarku lihat seberapa serunya pria itu dibanding diriku, Ailee...” Gamma dengan wajah muram nan suram menggapai kunci mobil diatas nakas samping ranjang. Ia dengan tergesa keluar dari kamar dengan aura menyeramkan disekililingnya. Tidak akan Gamma biarkan Ailee dengan  mantan suaminya itu menikmati waktu mereka dengan mudah.


[]


“Ada apa Ailee?” Arslan bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. Fokusnya terbagi antara menyetir mobil dengan Ailee yang terlihat tak sehat duduk disampingnya.

__ADS_1


“Tak apa Ars... hanya sedikit migran...” Jawab Ailee sembari memijat pelan kening kirinya. Padahal pagi tadi Ailee merasa dirinya sehat-sehat saja namun entah mengapa kini kepalanya mulai terasa sedikit berat.


Ars sedikit memandang Ailee. Tangannya bergerak mengecilkan AC mobil, “Tidurlah.. mungkin kau masuk angin.” Namun Ailee menggeleng, “Kapan kita sampai ke tempat yang mau kau tunjukan padaku itu?” tanya Ailee balik.


“Hampir sampai...”


“Lalu kenapa kau menyuruhku tidur?”


Arslan tersenyum dengan pandangan terfokus kedepan, “Aku bersedia menunggu selama apapun agar kau merasa baik Ailee...”


Ailee terdiam. Ia termenung karena perkataan Arslan. Bukan karena perkataan itu begitu indah atau karena seseorang yang mengatakannya begitu spesial. Tetapi Ailee hanya berandai-andai bahwa yang saat ini ada disampingnya dan begitu khawatir pada hal sekecil ini adalah Gamma. Pria yang nyatanya saat ini begitu Ailee cintai.  Ahh sayangnya itu hanyalah khayalan kecil yang tak mungkin menjadi kenyataan.


“Ailee... Ai... turunlah kita sudah sampai...” Arslan memandang Ailee yang entah tengah merenungkan apa sehingga membuatnya tak mendengar panggilannya. Ailee yang sadar segera turun dari mobil Arslan. Ia lalu melihat sekeliling yang ternyata hanyalah jalanan sepi tanpa kendaraan yang terlihat hanyalah mobil Arslan yang kini terpakir disampingnya.


“Ikutlah denganku...” Ailee mengekori Arslan yang kini mengajaknya meninggalkan jalanan sepi itu dan menuju rerumputan hijau yang terlihat begitu luas namun asri. Padang rumput ini seolah begitu terawat melihat betapa pendeknya rerumputannya sehingga Ailee pikir. Anak seperti Alpha pun bisa berguling-guling diatasnya.


Tak berakhir dengan hamparan rerumputan hijau yang begitu terawat, sebuah danau luas terbentang dimata Ailee. Entahlah sudah berapa lama Ailee tak melihat tempat seindah dan seasri ini. Biasanya tempat berlibur hanyalah luar kota atau luar negeri namun danau ini seolah menandakan tak pernah tersentuh oleh tangan jahat manusia. Begitu dijaga dengan baik.


“Ars... ini ?” Ailee menatap Arslan dengan sedikit mendongak.


“Kemarilah...”


Ailee menurut sekali lagi ia terus mengekori meskipun tak tau apa maksud dan tujuan Ars menunjukan tempat indah ini. Hingga langkah pria itu berhenti tepat disebuah batu yang mirip seperti pusara namun tanpa nama. Ailee yang melihatnya kebingungan dan menatap penuh tanya pada Ars namun pria itu memilih berjongkok. Ailee pun mengikuti Ars dengan patuh.


“Kau pasti bingung mengapa batu ini terlihat seperti pusara seseorang.” tangan Ars bergerak mengusap lembut pusara yang terlihat bersih seperti sering dikunjungi itu. Pria itu menatap berbeda pusara itu, ada kelembutan, kasih sayang namun juga nampak kesedihan di mata Ars yang terbaca Ailee, “Faktanya memang ada yang terkubur disini...”


“Siapa Ars?” Kedua netra Ailee memandang pusara itu dengan begitu intens. Ada perasaan aneh ketika melihat pusara itu.


Arslan memendang Ailee, “Dia yang kau lupakan...” kini berganti Ailee yang memandangi Arslan masih dengan tatapan penuh kebingungan.


“Namanya Ivory...”


“Ivory..” Ailee menyebut nama itu tanpa sadar. Sedangkan Arslan terus mengusap penuh kasih sayang batu pusara itu menghantarkan kerinduan mendalam dihatinya.

__ADS_1


“Dia,” Ars menjeda ucapanya, “Putri kita...” Pada detik itu ucapan Arslan seolah tak mudah dipahami Ailee. Wanita itu tentunya terkejut namun hanya bisa tercenung, diam seribu bahasa. Putri Kita? ucapan Arslan terus berputar putar dipikirannya dan entah mengapa membuat bulir air mata Ailee tumpah begitu saja. Ailee sendiri kebingungan mengapa ia menangis, bukankah ini hanyalah pusara asing? pusara putri kita? putri Ailee... apakah itu mungkin?


“Aku pernah mengatakan padamu dulu bahwa kau dulu sangat mencintaiku, kau memberikan apapun yang kau punya demi mendapatkan hatiku. Pernikahan kita bukanlah pernikahan yang seharusnya tak terjadi, akulah yang lalai aku terlambat menyadari bahwa aku mencintaimu...” Arslan mengatakan itu dengan begitu terasa berat. Nada bicaranya seolah menandakan bahwa ia juga ingin menangis menumpahkan segala penyeselannya.


“Hingga pada akhirnya aku harus kehilangan segala yang aku punya, kau juga anak kita...” Ailee akhirnya ikut menumpahkan tangisnya juga. Ia menatap Arslan dengan perasaan sakitnya. Jadi inikah kehilangan yang selama ini selalu menghantui Ailee ketika melihat Alpha. Perasaan jatuh cinta yang seperti bukan pertama kalinya, inikah yang dimaksud. Dan segala ingatan yang tak pernah berhasil Ailee temukan.


“Ba—bagaimana bisa Ars?! Katakan?! Aku tak mengerti ini semua?!” Wanita itu hancur kini. Ia kebingungan karena tak bisa mengingat segala memorinya yang hilang dengan baik. Kepalanya seolah semakin linu bila berusaha mengingatnya, “Aku tak mengerti Ars?! ini ini bohong kan?!”


“Katakan... bahwa aku tak pernah mencintamu... katakan bahwa aku tak kehilangan apapun..” Arslan memeluk Ailee. Menggapai tubuh mungil itu dengan begitu lembut seolah sangat rapuh hingga saat disentuh sedikit bisa hancur kapanpun. Inilah yang membuat Arslan tak mau memberitahu kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dan simpan sendiri. Ia takut. Kehilangan cinta Ailee sudah cukup untuknya, Arslan tak mau harus kehilangan wanita itu dengan nyawa sebagai bayarannya.


Pria itu menitikan bulir air mata. Sebenarnya sungguh tak sanggup menjelaskan semua pada Ailee, namun Ars harus memaksa. Ia harus jujur, “Itu adalah kenyataannya Ailee... maaf maaf aku telah membuatmu semenderita ini... maafkan aku...”


“Hiks... hiks... tapi kenapa Ars! kenapa aku aku tak bisa mengingat apapun?! hiks...” Ailee marah pada dirinya juga. Ia meluapkan emosinya memukul dada Arslan dengan kedua tangannya.


“A—aku terpaksa menghapus ingatanmu. Jika aku tak melakukannya  mungkin kau hanya akan memilih pergi... keinginanmu untuk hidup waktu itu begitu kecil Ailee... aku tak sanggup melihatmu seperti itu...”


“Hiks tapi Ars... ini sama buruknya dengan kematianku Ars hiks... hiks...”Entahlah sudah berapa kali Ailee dibuat selelah ini. Penderitaannya begitu banyak, kehilangannya begitu besar tapi apa yang Ailee dapatkan? tak ada sedikitpun kebahagian untuknya. Ailee masih bisa tersenyum namun lebih banyak hal yang membuatnya menangis dan hancur. Semua hidupnya berserakan.


Tap tap tap


Suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah kedua sejoli yang berpelukan sendu itu. Dia terus mendekat ke arah Arslan juga Ailee, “Selain pernah menikah lalu punya anak.. entah berapa kebohongan yang kalian punya... aku benar-benar tak menyangka ini Ailee...”


Arslan menatap terkejut begitu terkejut seolah melihat penampakan yang begitu menakutkan dihadapannya. Melihat Arslan yang tiba-tiba diam, Ailee ikut berbalik dan betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat Gamma berdiri menjulang dihadapan mereka.


“Al...”


Bruk


Setelah itu  Ailee tak tau lagi apa yang terjadi, yang ia tahu hatinya begitu sedih. Raga dan jiwanya terlalu lelah menerima semua. Ia pingsan karena terlalu berat menerima hal mengejutkan yang lain. Ailee merasa seolah ingin meminta istirahat meski itu hanya sebentar... ia ingin tidur dan berharap ia tak pernah mengalami ini semua.


“Ivory...”


[][]

__ADS_1


Asiap udah beres ya upnya hehe. maaf nunggu lama pisan.


__ADS_2